Kisah Azis, Ojol Difabel Jember yang Andalkan Skateboard untuk Jalan

Kisah Azis, Ojol Difabel Jember yang Andalkan Skateboard untuk Jalan

Yakub Mulyono - detikJatim
Selasa, 25 Agu 2026 18:15 WIB
Abdul Azis (28), disabilitas yang menjadi ojol di Jember
Abdul Azis (28), disabilitas yang menjadi ojol di Jember. (Foto: Istimewa)
Jember -

Di sela riuh kendaraan Jalan Hayam Wuruk, Jember, seorang pengemudi ojek online (ojol) menarik perhatian. Sebelum menyalakan motor Honda Vario miliknya, Abdul Azis (28), meletakkan sebuah papan skateboard di sampingnya.

Skateboard itu bukan untuk bergaya, melainkan menjadi 'kaki' yang membantunya berpindah tempat. Saat ponselnya berbunyi tanda pesanan masuk, Azis tersenyum, mengenakan helm, lalu melaju menyusuri jalanan Kota Jember.

Tak banyak yang tahu, beberapa tahun lalu pemuda asal Dusun Krajan, Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Jember ini masih harus digendong ketika hendak berpindah tempat. Kini, ia justru gigih mengantar penumpang menuju tujuan mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak kecil, Azis hidup sebagai penyandang disabilitas daksa. Aktivitas sederhana yang dianggap biasa oleh kebanyakan orang menjadi tantangan besar baginya. Sebelum mengenal skateboard, ia mengandalkan bantuan keluarga.

"Kalau dulu sebelum pakai skateboard ya digendong," kata Azis, Selasa (25/8/2026).

ADVERTISEMENT

Enggan terus bergantung pada orang lain, Azis memilih menggunakan skateboard sebagai alat bantu mobilitas. Papan beroda itu kini setia menemani aktivitas sehari-harinya, mulai dari pergi ke warung, masjid, hingga menaiki tangga dengan mengandalkan kekuatan kedua tangannya.

"Kalau enggak dicoba, enggak mungkin bisa. Kalau ternyata enggak bisa, setidaknya aku sudah mencoba," ujarnya.

Keinginan untuk mandiri mendorong Azis mendaftar sebagai mitra pengemudi ojol. Tekadnya sempat tertahan karena SIM D miliknya mati, namun ia tidak menyerah dan langsung mengurusnya kembali hingga diterima.

Sudah lebih dari sebulan Azis mengaspal menggunakan motor matik roda tiga modifikasi miliknya. Terik matahari, hujan, hingga kemacetan Jember kini jadi santapan sehari-hari.

"Alhamdulillah cukup untuk kebutuhan diri sendiri," paparnya.

"Semangat kerja saya dipicu keinginan membahagiakan orang tua. Meski sang ibu telah berpulang pada November 2025 lalu, tapi saya terus melangkah membawa nama baik keluarga," tambahnya.

Di luar rutinitas ngetrack, Azis aktif membagikan kisah kehidupannya di Instagram dan TikTok lewat akun @Bangziss. Berawal dari iseng, kontennya justru viral dan disukai ratusan ribu pengguna hingga direspons jajaran figur publik.

Proses produksi video dilakukan mandiri. Setelah keliling mencari nafkah dari pagi hingga sore, malam harinya ia gunakan untuk mengedit video selama 2-3 jam.

Meski ada yang menudingnya menjual rasa iba, Azis menanggapinya santai. Ia menegaskan penyandang disabilitas juga memiliki ruang yang sama di media sosial.

"Media sosial bukan hanya milik orang normal. Saya ingin menunjukkan bahwa disabilitas juga mampu bekerja, berkarya, dan hidup mandiri," tegasnya.

Di balik senyum gigihnya, Azis pernah melewati masa-masa sulit. Dia sempat mempertanyakan takdirnya hingga menjadi korban perundungan (bullying) saat sekolah. Namun, waktu mengubah sudut pandangnya.

"Mungkin Tuhan memberikan ujian ini karena percaya saya mampu menghadapinya," ungkapnya.

Kini, Azis menyimpan impian besar untuk memiliki rumah di kawasan Rich Village Argopuro sebagai bukti buah manis perjuangannya. Sebelum kembali memacu gas untuk pesanan berikutnya, Azis menutup obrolan dengan slogan andalannya.

"Losdol, gas terus!" serunya penuh semangat.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads