Bendungan Sengguruh Malang Dikuras, Pengerukan Sedimen Ditarget 10 Hari

Bendungan Sengguruh Malang Dikuras, Pengerukan Sedimen Ditarget 10 Hari

Muhammad Aminudin - detikJatim
Senin, 05 Okt 2026 22:45 WIB
Proses flushing Bendungan Sengguruh, Kepanjen, Kabupaten Malang.
Proses flushing Bendungan Sengguruh, Kepanjen, Kabupaten Malang. (Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim)
Malang -

Bendungan Sengguruh memegang peranan vital sebagai benteng pertama dalam sistem Sungai Brantas. Kondisi geografis di hulu melingkupi kawasan padat penduduk dan wisata seperti Kota Batu dan Kota Malang memberikan tekanan tinggi terhadap volume sedimen maupun sampah. Karena itu Bendungan Sengguruh perlu dikuras.

"Flushing Bendungan Sengguruh tahun 2026 dalam rangka pengendalian sedimentasi di Kali Brantas hulu. Flushing mulai 5 sampai 15 Oktober 2026," ujar Kepala Divisi Jasa ASA WS Brantas Perum Jasa Tirta I Adi Bowo Kusumo ditemui di Bendungan Sengguruh, Senin (5/10/2026).

Seperti diketahui, Bendungan Sengguruh ini merupakan infrastruktur pertama di sistem Sungai Brantas yang mana di hulu ada Kota Batu dan Kota Malang dengan segala dinamika sosialnya, sampahnya, perkebunannya, hingga pertaniannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adi Bowo mengungkapkan, tingginya akumulasi sedimen saat ini tidak terlepas dari fenomena cuaca pada tahun sebelumnya. Tingginya curah hujan dan durasi musim hujan yang panjang sepanjang tahun 2025 memicu pembawaan sedimen dari hulu masuk ke area waduk dalam jumlah besar.

Untuk mengembalikan daya tampung waduk, PJT I menargetkan penggelontoran sedimen dengan volume mencapai ratusan ribu meter kubik dalam kurun waktu kurang lebih 10 hari pelaksanaan.

ADVERTISEMENT

"Target kami akan di angka 700 ribu meter kubik dalam waktu sekitar 10 hari. Pembersihan ini dilakukan secara terkendali untuk menjaga ruang tampungan waduk agar bisa menampung air sebagaimana mestinya. Kemanfaatan air ini nantinya cukup besar, baik untuk irigasi di hilir maupun untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA)," jelasnya.

Menurut Adi Bowo penurunan kapasitas tampung akibat sedimen di Bendungan Sengguruh terbilang sangat signifikan jika dibandingkan dengan kapasitas awal desainnya saat pertama kali beroperasi pada tahun 1989. Kapasitas yang awalnya mencapai puluhan juta meter kubik kini tersisa di bawah satu juta meter kubik.

"Kapasitas awal dulu sekitar 21 juta meter kubik. Nah, akhir-akhir ini paling tersisa di bawah 1 juta meter kubik karena sedimentasi. Melalui flushing ini, harapannya bisa naik lagi ke angka 1 juta hingga 1,5 juta meter kubik," tambahnya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan mengembalikan kapasitas tampung hingga 100 persen seperti saat awal dibangun, Adibowo menilai hal tersebut sulit dilakukan secara ekonomis.

"Secara teknis bisa, tetapi biayanya nanti menjadi tidak masuk akal," tegasnya.

Selain pengerukan lumpur, momentum pembuangan air waduk ini juga dimanfaatkan untuk perawatan infrastruktur teknis yang sulit dijangkau saat kondisi air penuh, seperti perbaikan intake dan trash rack.

Di sisi lain, PJT I juga memberikan perhatian ekstra terhadap aspek keselamatan masyarakat sekitar selama proses flushing berlangsung. Fenomena ikan mabuk (pluk) yang kerap terjadi saat penggelontoran air sering mengundang masyarakat untuk turun ke sungai memanen ikan tanpa mempedulikan bahaya arus deras dan lumpur.

"Aspek keselamatan menjadi perhatian utama kami. Saat kondisi air surut, ikan mabuk dan orang mudah menangkapnya, tapi sering kali lalai dengan aspek keselamatan. Langkah antisipatif kita sudah masif dengan mengandeng TNI, Polri, BPBD, PMI, Linmas, hingga seluruh perangkat pemerintah daerah untuk sosialisasi dan pengamanan lapangan," papar Adibowo.

Tak hanya persoalan sedimen tanah, Adi Bowo mengatakan bahwa Bendungan Sengguruh juga dihadapkan pada ancaman tumpukan sampah rumah tangga yang masuk setiap hari dari kawasan hulu. PJT I mencatat volume sampah yang tersaring di bendungan ini mencapai puluhan ribu meter kubik setiap tahunnya.

"Volume sampah di Sengguruh ini sekitar 50 ribu meter kubik per tahun. Jenisnya campuran, mulai dari sampah tumbuhan, plastik, sampah rumah tangga, kasur, kursi, bahkan bangkai ternak. Ada atau tidak ada flushing, pembersihan sampah ini terus kita lakukan setiap hari," pungkasnya.



(auh/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads