Kasus ISPA Jatim Melonjak! Ini Penyebab, Gejala dan Penanganannya

Fathir Rofi - detikJatim
Selasa, 29 Sep 2026 15:00 WIB
Ilustrasi anak sakit ISPA. Foto: Getty Images/EyeEm Mobile GmbH
Surabaya -

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jawa Timur akhir-akhir ini dilaporkan melonjak. Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim mencatat sebanyak 211.000 kasus terjadi pada Agustus 2026, menjadikannya rekor tertinggi sepanjang tahun ini.

Sebagai perbandingan, pada pertengahan 2026, rata-rata kasus per bulan hanya berada di kisaran 148.000. Angka tersebut juga melesat jauh di atas rata-rata bulanan pada tahun 2025 yang tercatat hanya sekitar 117.000 kasus.

Kadinkes Jatim Erwin Astha Triyono menjelaskan lonjakan kasus ISPA tersebut berkaitan dengan kondisi suhu udara yang panas selama musim kemarau. Cuaca panas disebut menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi meningkatnya kasus ISPA di Jawa Timur.

Meski begitu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut musim kemarau tidak serta-merta menjadi penyebab ISPA. Kondisi udara yang kering, terutama ketika bercampur debu, polusi, atau asap kebakaran dapat meningkatkan risiko penyakit tersebut.

Meski jumlah kasus meningkat cukup tinggi, Dinkes Jatim hingga saat ini belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) ISPA. Erwin memastikan fasilitas kesehatan masih mampu menangani seluruh kasus yang ada, sementara ketersediaan obat juga dipastikan aman.

Mengenal ISPA dan Faktor Risikonya

ISPA adalah peradangan pada saluran pernapasan, mulai dari rongga hidung hingga paru-paru. Penyakit ini memang sangat sering dijumpai di Indonesia, apalagi saat musim pancaroba atau ketika kualitas udara memburuk. Berdasarkan lokasinya, infeksi ini terbagi menjadi dua kelompok berikut.

ISPA Saluran Napas Atas

ISPA saluran napas atas menyerang area rongga hidung, sinus, dan tenggorokan. Penyakit yang termasuk di dalamnya, antara lain selesma (common cold), faringitis (radang tenggorokan), epiglotitis (radang penutup pangkal tenggorokan), tonsilitis (radang amandel), laringitis (radang pita suara), dan sinusitis (radang sinus).

ISPA Saluran Napas Bawah

ISPA saluran napas bawah menyerang bronkus, bronkiolus, hingga paru-paru. Beberapa penyakit yang termasuk di dalamnya adalah bronkitis atau radang bronkus, bronkiolitis atau radang pada cabang kecil bronkus, serta pneumonia atau radang paru-paru.

Menurut laman Ayo Sehat Kemenkes, paparan polusi udara seperti debu halus, asap kendaraan, dan limbah industri dapat mengganggu saluran pernapasan dan meningkatkan risiko infeksi. Kondisi ini membuat masyarakat yang tinggal di perkotaan lebih rentan karena lebih sering terpapar polusi udara.

Meski begitu, risiko ISPA tidak hanya mengintai masyarakat yang tinggal di perkotaan. Infeksi ini dapat menyerang siapa saja, terutama anak-anak, khususnya balita, lansia, perokok, serta orang dengan daya tahan tubuh lemah atau memiliki riwayat penyakit kronis.

Penyebab dan Cara Penularan ISPA

ISPA dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau kuman lainnya. Virus menjadi penyebab yang paling umum, terutama pada infeksi saluran napas bagian atas. Sementara itu, infeksi bakteri dapat menyebabkan keluhan yang lebih berat.

Penularannya bisa terjadi melalui percikan air liur (droplet) ketika penderita batuk atau bersin. Selain melalui udara, kuman penyebab ISPA juga dapat berpindah lewat tangan atau benda yang terkontaminasi, kemudian masuk ke tubuh saat seseorang menyentuh hidung, mulut, atau mata.

Gejala ISPA

Gejala ISPA umumnya berlangsung selama 1-2 minggu. Keluhannya bisa muncul pada saluran pernapasan maupun bagian tubuh lainnya. Berikut sejumlah gejala yang perlu dikenali.

  • Batuk bisa berupa batuk kering maupun berdahak
  • Hidung tersumbat.
  • Pilek atau nyeri sinus.
  • Sakit tenggorokan.
  • Suara serak atau hilang.
  • Sesak napas.
  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri otot dan sendi.
  • Lemas dan mudah lelah.
  • Nafsu makan turun.
  • Mual, muntah, atau diare.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Mayoritas kasus ISPA dapat sembuh sendiri dalam waktu 7-14 hari. Namun, pemeriksaan ke dokter diperlukan jika keluhan semakin memburuk, tidak kunjung reda, atau gejala berlangsung lebih dari tiga minggu.

Lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit penyerta juga sebaiknya tidak menunda pemeriksaan medis. Selain itu, waspadai sejumlah tanda bahaya yang memerlukan pertolongan medis. Segera cari pertolongan medis jika muncul tanda bahaya berikut.

  • Demam tinggi hingga 39 derajat Celsius atau disertai menggigil.
  • Kesulitan bernapas.
  • Batuk berdarah.
  • Penurunan kesadaran.
  • Khusus pada anak-anak, segera bawa ke dokterjikaISPA disertai:
    • Sulit bernapas, yang dapat terlihat dari tulang iga yang tampak jelas menonjol saat anak menarik napas.
    • Muntah-muntah.
    • Anak menjadi malas bermain.
    • Lebih diam dari biasanya.
    • Bunyi berisik saat bernapas (mengi).

Cara Mandiri Mengobati ISPA

Karena paling sering dipicu infeksi virus, penderita ISPA umumnya tidak memerlukan resep obat khusus. Penderita bisa meredakan gejalanya dengan penanganan mandiri di rumah melalui langkah-langkah berikut.

  • Istirahat total dan perbanyak asupan air putih agar dahak jadi lebih encer dan mudah dikeluarkan.
  • Minum air lemon hangat atau madu untuk meringankan batuk. Namun, hindari memberikan madu kepada bayi di bawah 12 bulan karena berisiko menyebabkan botulisme.
  • Kumur menggunakan air garam hangat ketika tenggorokan terasa sakit.
  • Hirup uap panas dari semangkuk air yang telah dicampur dengan minyak kayu putih atau mentol untuk meringankan hidung tersumbat.
  • Gunakan bantal ganda untuk meninggikan posisi kepala saat tidur agar sirkulasi napas lebih lega.

Jika kondisi belum membaik setelah menjalani perawatan mandiri di rumah, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Pengobatan ISPA dapat berbeda pada setiap pasien, tergantung penyebab dan kondisi yang dialami.

Beberapa jenis obat yang umum digunakan antara lain ibuprofen atau paracetamol, diphenhydramine dan pseudoephedrine, serta guaifenesin. Antibiotik digunakan untuk ISPA akibat infeksi bakteri, sedangkan antiviral (antivirus) dapat diberikan jika dokter menilai ada indikasi, seperti pada kasus influenza dengan gejala berat.



Simak Video "Video: Karhutla Meluas, Kasus ISPA di Palangka Raya Sentuh Rekor Tertinggi di Kalteng"

(irb/abq)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork