BMKG menyebut El Nino membuat musim kemarau di Jawa Timur (Jatim) lebih panjang pada tahun 2026. Meski kekeringan melanda, Jatim tetap menjadi lumbung pangan nasional di sejumlah komoditas.
Berdasarkan Angka Tetap BPS Jatim yang dirilis pada 2 Februari 2026, luas panen padi Jawa Timur sepanjang 2025 mencapai sekitar 1,84 juta hektare.
Dari luas panen tersebut, produksi padi Jawa Timur mencapai 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat 12,60 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi tersebut setara dengan sekitar 6,03 juta ton beras untuk konsumsi pangan penduduk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyebut kinerja positif tersebut berlanjut pada 2026. Berdasarkan potensi produksi periode Januari-Oktober 2026, produksi padi Jawa Timur diperkirakan mencapai 9,86 juta ton GKG atau tumbuh 5,13 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
"Pada periode Januari-Oktober 2026, luas panen padi di Jawa Timur mencapai 1,74 juta hektare, meningkat 4,58 persen atau bertambah 76,19 ribu hektare dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai 1,66 juta hektare," kata Khofifah dalam keterangannya, Kamis (24/9/2026).
"Luas dan panen juga linier dengan peningkatan produksi padi yang mencapai 9,86 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 5,13 persen atau bertambah 480,77 ribu ton GKG dari 9,38 juta ton GKG pada 2025," imbuhnya.
Sementara itu, produksi beras tercatat 5,69 juta ton, meningkat 5,13 persen atau bertambah 277,61 ribu ton dibandingkan produksi 2025 sebesar 5,41 juta ton. Jumlah tersebut setara menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan potensi produksi padi tertinggi secara nasional.
Lebih lanjut Khofifah menegaskan, sejak 2020 hingga Semester I 2026, Jawa Timur konsisten menjadi provinsi dengan produksi padi dan beras tertinggi di Indonesia.
"Alhamdulillah, sejak 2020 hingga Semester I 2026, Jawa Timur konsisten menjadi produsen padi dan beras tertinggi secara nasional. Capaian ini merupakan buah dari kerja keras para petani, penyuluh, kelompok tani, serta seluruh pemangku kepentingan sektor pertanian," katanya.
Menurut Khofifah, capaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Jawa Timur, tetapi juga merupakan tanggung jawab besar untuk terus menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
"Jawa Timur tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Karena itu, posisi sebagai lumbung pangan Indonesia harus terus kita jaga dan perkuat," tegasnya.
Meski capaian produksi terus meningkat, Khofifah menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian tidak cukup hanya diukur dari tingginya hasil panen. Peningkatan produktivitas harus memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan petani.
Karena itu, Pemprov Jatim terus mendorong penguatan ekosistem pertanian mulai dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan akses terhadap benih unggul dan pupuk, perbaikan sarana irigasi, pemanfaatan alat dan mesin pertanian, perluasan akses pembiayaan, hingga penguatan pemasaran dan hilirisasi produk pertanian.
"Produksi yang tinggi harus beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani. Petani harus memperoleh nilai tambah yang layak dari hasil kerjanya, memiliki kepastian pasar, serta mendapatkan perlindungan dalam menjalankan usaha tani," jelasnya.
Khofifah juga mendorong penguatan kelembagaan kelompok tani dan gabungan kelompok tani agar memiliki posisi tawar yang semakin kuat. Kolaborasi dengan pemerintah kabupaten dan kota, TNI, Polri, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, serta berbagai komunitas pertanian juga terus dikembangkan.
Selain itu, modernisasi sektor pertanian dinilai penting untuk menjawab tantangan perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, serta kebutuhan peningkatan produktivitas.
Pemanfaatan teknologi pertanian, mekanisasi, digitalisasi pemasaran, penggunaan air secara efisien, serta penerapan pola budidaya yang ramah lingkungan perlu terus diperluas hingga menjangkau para petani di berbagai daerah.
"Perubahan iklim menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, pertanian Jawa Timur harus semakin adaptif, efisien, dan berbasis teknologi tanpa meninggalkan kearifan lokal yang telah diwariskan para pendahulu," tuturnya.
Lebih lanjut Khofifah mengajak generasi muda untuk tidak ragu terjun ke sektor pertanian. Menurutnya, regenerasi petani merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pangan pada masa mendatang.
Pertanian saat ini tidak lagi identik dengan pekerjaan konvensional, tetapi telah berkembang menjadi sektor modern yang melibatkan inovasi teknologi, pengolahan produk, kewirausahaan, pemasaran digital, dan industri berbasis pertanian.
"Masa depan pangan berada di tangan generasi muda. Mari kita bangun pertanian sebagai sektor yang modern, inovatif, menguntungkan, dan membanggakan agar semakin banyak anak muda tertarik menjadi petani maupun wirausaha pertanian," ajaknya.
Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Heru Suseno menyebut pihaknya telah mengantisipai kekeringan tahun 2026 dengan menyediakan sumber air baru untuk sektor pertanian.
"Yang katanya El Nino itu ekstrem dan lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya. Tentu ini bagian dari perhatian kita untuk mengantisipasinya. Karena komoditas pertanian kita itu kan memang sumber utama untuk kehidupannya itu kan air," kata Heru.
"Ketika air itu kurang, maka tentunya produksinya juga kurang bagus. Kalau kita bicara kekeringan di BMKG, masa puncaknya ini kan pada bulan-bulan Agustus-September ini. Semoga saja nanti Oktober 2026 sudah mulai ada hujan walaupun belum merata," imbuhnya.
Untuk lahan pertanian yang terdampak kekeringan, berdasarkan data sampai per 10 September 2026, lanjut Heru, itu totalnya ada 3.856 hektare.
"Itu yang terdampak. Belum tentu yang namanya terdampak itu kemudian akhirnya puso. Puso itu ya sudah gagal panen tidak bisa diselamatkan. Karena pada 2025, kemudian awal 2026 Kementerian Pertanian maupun Pemprov sudah antisipasi. Termasuk awal-awal kemarin, kita juga melakukan antisipasi rapat bersama seluruh bupati, walikota," jelasnya.
"Kemudian barusan kira-kira bulan Agustus 2026 kemarin Pak Menteri Pertanian hadir di Jawa Timur dengan hal-hal yang sama. Karena Jawa Timur adalah salah satu lumbung pangan terutama untuk padi. Kemudian untuk padi yang terdampak itu ada 597,11 hektare. Ini seluruh Jawa Timur. Kemudian pusonya, pusonya puso ini ya sudah karena kekeringan, kemudian sudah berhenti, tidak bisa diselamatkan lagi. Ada 149,95 hektare lahan padi yang puso," tambahnya.
Karena ada puso, lanjut Heru, maka Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa melalui P-APBD 2026, Pemprov Jatim menyiapkan anggaran untuk membantu benih. "Kita siapkan ada 1.000 hektare. Semoga saja tidak sampai 1.000 hektare. Karena perhitungan kita kalau sampai September ini baru 149,95 hektare, maka Oktober sudah ada air, kira-kira naiknya tidak terlalu banyak. Kira-kira begitulah," pungkasnya.
