Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta pemberian bantuan sosial (bansos) tidak lagi hanya berpatokan pada desil. Dia meminta aparatur sipil negara (ASN) turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi warga dan memverifikasi ulang data penerima bantuan.
Eri mengatakan masih menemukan data desil yang tidak sesuai dengan kondisi warga di lapangan. Akibatnya, ada warga yang membutuhkan bantuan justru belum mendapatkannya.
"Banyak desil yang tidak sesuai di lapangan, masih ada orang tidak punya yang belum mendapatkan bantuan apapun. Maka saya sampaikan kepada teman-teman, jangan lagi melihat desil," kata Eri kepada wartawan di Balai Kota, Rabu (23/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eri juga menginstruksikan Ketua Tim Kerja (Katimja) hingga pejabat struktural dari berbagai dinas teknis mengajak kecamatan dan kelurahan mendatangi RT dan RW secara berkala. Tujuannya untuk memastikan bansos tepat sasaran dan penerima manfaat dilakukan secara terbuka melalui forum warga di tingkat RT.
"Pembahasannya harus melibatkan minimal tiga perempat warga dari RT tersebut, tokoh masyarakat, tokoh agama, lurah, camat, LPMK, serta tim pendamping dari pemkot," ujarnya.
Ia juga mengingatkan para ASN untuk meninggalkan cara verifikasi lama. Pasalnya, sistem tersebut kerap melewatkan warga miskin dan lansia sebatang kara, tetapi justru meloloskan warga mampu.
"Ada lansia sendiri tidak pernah mendapatkan bantuan. Di mana kalian sebagai pejabat struktural. Mulai hari ini saya tidak mau lagi melihat ada warga yang tidak menerima bantuan ketika dia membutuhkan," jelasnya.
Eri mencontohkan, ketika dirinya turun ke lapangan masih menjumpai warga mampu menerima bantuan, seperti kepemilikan beberapa kendaraan bermotor atau gawai dalam jumlah banyak.
"Saya tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi. Verifikasi di lapangan mengenai kelayakan warga penerima bantuan harus diserahkan sepenuhnya kepada keputusan bersama warga di lingkungan setempat," pungkasnya.
