Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyiapkan 'reward' berupa bendera putih dan hitam bagi dinas yang bertugas membina Kampung Pancasila. Dinas yang dinilai berhasil membawa perubahan positif akan diberi bendera putih, sedangkan yang gagal bakal dipasangi bendera hitam.
Eri menjelaskan, setiap RW di Surabaya memiliki satu ASN pengampu yang berasal dari dinas, bagian, badan, kecamatan, maupun kelurahan. ASN tersebut bertugas mengawal kegiatan sekaligus mendorong perubahan di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.
Ia menegaskan, kinerja pengampu RW akan menjadi perhatian. Jika tidak ada perubahan di wilayah yang dibina, dinas terkait akan mendapatkan bendera hitam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau tidak ada perubahan maka pengampu yang memegang RW itu akan kita berikan reward. Reward-nya apa? Ada dua. Yang berhasil kita kasih bendera putih di kantornya, yang tidak berhasil menjalankan Kampung Pancasila, maka kita berikan bendera hitam untuk dinasnya," kata Eri, Selasa (15/9/2026).
Ia menekankan, pemberian bendera sebagai pengingat bahwa pemerintah harus mampu mengajak masyarakat terlibat dalam membangun dan menjaga wilayahnya masing-masing.
"Agar kita sadar betul membangun Kota Surabaya bukan hanya pemerintahnya, tapi bagaimana pemerintah bisa mengajak seluruh warga Surabaya membangun kotanya sendiri, membangun wilayahnya sendiri," ujarnya.
Eri mengatakan, bendera hitam menjadi salah satu indikator yang berpengaruh terhadap evaluasi kinerja kepala dinas. Bahkan, evaluasi tersebut dapat menentukan keberlanjutan jabatan kepala perangkat daerah.
"Bendera hitam ini akan berpengaruh terhadap kinerja Kepala PD. Apakah terus menjadi Kepala PD atau tidak," tegasnya.
Kampung Pancasila diharapkan tidak sekadar menjadi program, tetapi mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dari lingkungan paling dasar. Menurutnya, perubahan tersebut membutuhkan keterlibatan warga dalam menjaga lingkungan dan membangun wilayah secara bersama-sama.
"Sehingga saya berharap kampung Pancasila ini bisa mengubah Surabaya mulai dari dasar. Mengajak warga Surabaya merubah paradigma, mengubah kebiasaan yang menentukan nasib Kota Surabaya ini," pungkasnya.
