Psikolog Ingatkan Pentingnya Peran Lingkungan Terdekat Cegah Bunuh Diri

Psikolog Ingatkan Pentingnya Peran Lingkungan Terdekat Cegah Bunuh Diri

Aprilia Devi - detikJatim
Jumat, 18 Sep 2026 08:20 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi (Foto: Dok.Detikcom)
Surabaya -

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya Marini, S.Psi., M.Psi., Psikolog mengatakan pencegahan bunuh diri bukan hanya urusan psikolog, psikiater atau tenaga kesehatan.

Namun juga keluarga, teman, rekan kerja, guru, dosen, hingga tetangga juga dapat menjadi bagian penting dari sistem perlindungan seseorang yang sedang berada dalam krisis.

"Sering kali orang yang sedang mengalami tekanan psikologis berat tidak mengatakan secara langsung bahwa dirinya membutuhkan pertolongan," kata Marini saat dihubungi detikJatim, Selasa (15/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, orang terdekat perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku yang cukup nyata. Misalnya seseorang mulai semakin menarik diri, kehilangan minat terhadap hal yang sebelumnya disukai, menunjukkan keputusasaan, merasa dirinya menjadi beban, atau berbicara seolah tidak ada lagi masa depan.

"Satu tanda saja memang tidak otomatis berarti seseorang akan melakukan bunuh diri, tetapi perubahan yang mencolok dan menetap tidak seharusnya diabaikan," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Marini mengungkapkan kepedulian bisa dimulai dengan hal sederhana, seperti bertanya dan mendengarkan. Orang terdekat tidak perlu langsung memberikan nasihat atau membandingkan masalah yang sedang dihadapi.

Orang yang terlihat mengalami tekanan dapat diajak berbicara dengan pertanyaan sederhana mengenai perubahan yang terlihat pada dirinya.

"Kita bisa memulai dengan pertanyaan sederhana seperti 'saya melihat akhir-akhir ini kamu berbeda. Kamu sedang mengalami sesuatu?'," tuturnya.

Jika kondisinya mengkhawatirkan, orang terdekat juga tidak perlu takut bertanya secara langsung apakah seseorang pernah berpikir untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup.

Marini menegaskan pertanyaan tentang bunuh diri tidak berarti menanamkan ide bunuh diri. Justru, pertanyaan yang disampaikan dengan empati dapat membuka ruang bagi seseorang yang selama ini merasa sendirian untuk mulai berbicara.

"Bertanya tentang bunuh diri tidak berarti menanamkan ide bunuh diri. Justru pertanyaan yang disampaikan dengan empati dapat membuka ruang bagi seseorang yang selama ini merasa sendirian untuk mulai berbicara," jelasnya.

Menurut Marini, kepedulian juga tidak cukup berhenti pada kalimat seperti 'kalau ada apa-apa cerita saja'. Orang yang sedang berada dalam krisis terkadang justru tidak memiliki energi psikologis untuk meminta bantuan.

Oleh karena itu, orang-orang di sekitar perlu lebih aktif hadir. Terutama jika risikonya tinggi, seseorang dapat ditemani dan dipastikan tidak sendirian. Lingkungan juga dapat membantu menjauhkan akses terhadap sesuatu yang dapat membahayakan dirinya serta menghubungkannya dengan psikolog, psikiater, fasilitas kesehatan atau layanan krisis.

Meski begitu, ada hal yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan bunuh diri.

"Menurut saya salah satu pesan terpenting dalam pencegahan bunuh diri adalah bahwa kita tidak harus menjadi ahli untuk mulai menolong, tetapi kita juga harus mengetahui batas kemampuan kita," beber Marini.

Lingkungan atau orang-orang terdekat bisa
bisa menjadi orang pertama yang mendengar, namun Marini berpesan jangan merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri. Jika seseorang sudah menunjukkan pikiran atau keinginan untuk mengakhiri hidup, bantuan profesional perlu segera dilibatkan.

Ia juga mendorong budaya peduli dibangun di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, sekolah, kampus hingga tempat kerja. Menurutnya, lingkungan yang sehat secara psikologis adalah lingkungan yang membuat seseorang merasa aman untuk mengatakan dirinya sedang tidak baik-baik saja tanpa takut dianggap lemah, mencari perhatian atau bermasalah.

"Semakin aman seseorang untuk bercerita, semakin besar kesempatan kita memberikan pertolongan sebelum krisis berkembang lebih jauh," tegasnya.

Ia menekankan bahwa pencegahan bunuh diri pada akhirnya dapat dimulai dari hal yang sangat manusiawi, seperti memperhatikan perubahan, berani bertanya, bersedia mendengar dan tidak membiarkan seseorang menghadapi masa sulit seorang diri.

"Kadang kita tidak harus mempunyai jawaban atas semua masalahnya. Kehadiran yang tulus dapat menjadi jembatan agar seseorang bertahan sampai mendapatkan pertolongan yang tepat," pungkasnya.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads