Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nganjuk digeruduk warga yang protes soal carut-marut data desil. Massa mengkritisi kinerja dinas sosial setempat, Kamis (17/6/2026).
Warga yang melakukan aksi protes itu tergabung dalam Forum Peduli Masyarakat Nganjuk (FPMN). Mereka menilai pendataan desil yang dilakukan BPS banyak yang tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
"Banyak keluarga yang tergolong tidak mampu justru masuk desil kategori di atas 6, sehingga berdampak pada hilangnya hak mereka untuk mendapatkan bantuan dan kemudahan dari negara sebagaimana tercantum dalam konstitusi," ujar koordinator aksi, Suyadi.
Menurut Suyadi, hambatan warga tidak mampu untuk mendapatkan bantuan sosial justru berasal dari penentuan kelompok desil. Di mana sesuai aturan, yang berhak menerima bantuan adalah desil 5 ke bawah. Sementara fakta di lapangan, warga tidak mampu malah masuk desil lebih tinggi.
"Nanti kita isi formulir, kita data, kalau tidak percaya bisa cek langsung ke lokasi. Jadi kita bisa memastikan bahwa yang kita lakukan itu apa adanya biar tidak salah melakukan pendataan," tegasnya.
Aksi ini digelar sebagai bentuk kontrol sosial kepada BPS dan Dinas Sosial Kabupaten Nganjuk, agar pendataan terkait kesejahteraan masyarakat dilakukan secara akurat, transparan, dan berkeadilan.
Sementara Kepala BPS Kabupaten Nganjuk, Wahyu Purnamahadi menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima seluruh aspirasi dan keluhan masyarakat terkait standar desil yang dinilai tidak tepat sasaran.
Ia menegaskan bahwa BPS Nganjuk akan segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait dan didampingi petugas PKH untuk melakukan verifikasi dan perbaikan data bersama, agar penentuan desil bisa lebih tepat.
"Kami selalu berkoordinasi dengan pihak terkait untuk lebih hati-hati dalam meng-update data yang berkaitan dengan tingkat kesejahteraan. Dan kami juga di lapangan telah melakukan verifikasi, mungkin tidak semua, ada beberapa sampel," papar Wahyu.
Sampean yang dimaksud yaitu terkait isian label kesejahteraan.
"Kita berharap semua informasi yang ada di data DTSEN itu bisa lebih tepat dan juga sesuai fakta yang ada di lapangan," pungkasnya.
Simak Video "Cicipi Kelezatan Nasi Becek di Nganjuk"
(auh/dpe)