Sebanyak 36.091 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan di Jawa Timur pada musim kemarau tahun ini. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) terus mendistribusikan air bersih ke daerah-daerah.
"Total KK terdampak 36.091. Data tersebut per 5 September 2026," kata Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
Gatot mengatakan wilayah dengan dampak kekeringan terbanyak ada di Pamekasan. Di mana terdapat 5.994 KK yang terdampak kekeringan di wilayah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah dropping air bersih di Pamekasan 160 ribu Liter. Pamekasan menjadi salah satu wilayah dengan potensi kekeringan terbesar, di mana ada 18.631 KK yang berpotensi terdampak," jelasnya.
Selain itu, Gatot menyebut Bangkalan menjadi salah satu wilayah yang juga terdampak kekeringan. Total ada 4.763 KK yang sudah terdampak.
"Di Bangkalan potensinya bisa mencapai 17.623 KK, dan saat ini sudah 4.763 KK terdampak. Di Bangkalan sudah dilakukan distribusi air bersih sebanyak 129 ribu Liter menggunakan APBD Pemkab Bangkalan," jelasnya.
Selain wilayah-wilayah tersebut, Gatot menyebut Bondowoso, Kabupaten Pasuruan, Bojonegoro, Kabupaten Mojokerto, Trenggalek, Kabupaten Malang, dan Gresik menjadi wilayah dengan dampak cukup parah pada musim kemarau ini.
"Secara total ada 489.608 KK atau 1.582.627 jiwa yang berpotensi terdampak kekeringan di Jawa Timur pada musim kemarau. Angka itu berpotensi berada di 29 kabupaten/kota dengan rincian 926 desa," bebernya.
Gatot menambahkan sebanyak 20 kabupaten/kota telah dilakukan distribusi air bersih baik itu menggunakan APBD Pemprov Jatim, APBD kabupaten/kota, hingga CSR.
"Total 8.089.900 Liter air bersih telah didistribusikan ke 20 daerah. Kami sendiri di BPBD Jatim menyiapkan 5.410 Ritase air bersih, di mana per satu Ritase berisi 5.000 Liter air bersih. Kami juga siapkan tandon, tandon lipat, serta terpal dalam proses pendistribusian," tandasnya.
