Peluncuran buku "Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam" tengah mendapat berbagai sorotan. Salah satunya dari Jazilah Annahdliyah atau Ning Jazil, istri pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah, Ploso, Kediri, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau yang karib disapa Gus Kautsar.
Ning Jazil diketahui menyampaikan keberatannya dalam sebuah unggahan dalam status media sosial. Ia protes karena dalam sebuah artikel berjudul "Dukungan Pesantren untuk Prabowo Subianto" yang mencatut nama Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar.
"Seng genaaahh (Yang benar aja). Kok bisa2nya ada nama suami saya dibuku ini,,?!! Hei Penulis, minimal izin/pamit dulu kalau mau nyantumin nama," demikian protes Ning Jazil dalam akunnya @zil_hb.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya menjadikan status di media sosialnya, Ning Jazil juga memprotes dalam sebuah komentar di unggahan foto daftar buku "Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam". Dalam komentarnya, Ning Jazil lagi-lagi menanyakan kenapa nama suaminya, Gus Kautsar dicatut.
"Kok bisa2nya ada nama suami saya?? pdhl gus kautsar tidak pernah menulis itu, kok bisa penulis tidak izin dulu kalau mau menyertakan nama suami saya di buku itu??!!," imbuh Ning Jazil.
Buku "Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam" merupakan kumpulan artikel dari sejumlah tokoh agama dan pejabat publik. Buku yang disusun Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas itu diluncurkan pada Selasa, 26 Agustus 2025 di Jakarta.
detikJatim mengonfirmasi langsung ke Gus Kautsar dan membenarkan status istrinya tersebut. Ia menegaskan memang tidak pernah merasa menulis artikel untuk buku "Islam Ala Prabowo".
Gus Kautsar lalu menjelaskan, sekitar pertengahan 2024, dirinya pernah menerima kedatangan utusan salah satu penulis buku. Saat itu, orang tersebut datang bersama keluarganya ke Ponpes Al Falah, Ploso, Kediri.
Artikel buku 'Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam' yang mencatut nama Pengasuh Ponpes Al Falah Ploso, Kediri Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar) Foto: Dok. Istimewa |
Dalam pertemuan tersebut, Gus Kautsar mengaku mendapat sejumlah pertanyaan mengenai pandangan pesantren terhadap kebangsaan, keberagaman, kebinekaan, serta bagaimana pesantren turut mengisi dan merawat kemerdekaan Indonesia.
"Jadi bukan masalah keberatan atau tidak. Kita itu tahun 2024, pertengahan, ada orang utusan salah satu penulis itu datang ke sini. Kemudian tanya terkait keindonesiaan, bagaimana posisi pesantren, merawat kemerdekaan," kata Gus Kautsar kepada detikJatim, Selasa (8/9/2026).
"Karena wawancaranya waktu itu adalah wawancara terkait masalah kebangsaan. Bagaimana pandangan pesantren terkait keberagaman, kebinekaan, kemudian bagaimana mengisi kemerdekaan," imbuhnya.
Dalam perbincangan tersebut juga sempat muncul pertanyaan mengenai sejumlah program pemerintah dan Presiden Prabowo Subianto. Namun, Gus Kautsar mengaku tidak mengetahui bahwa wawancara tersebut merupakan bagian dari proyek penyusunan buku Islam ala Prabowo.
Ia menyebut, sejak awal dirinya tidak pernah diberi tahu bahwa hasil wawancara akan digunakan untuk sebuah buku dengan judul tersebut. "Kita nggak ngerti kalau kemudian berjudul seperti ini. Kita tidak sadar," ujarnya.
Gus Kautsar juga mengatakan, dirinya bukan satu-satunya pihak yang diwawancarai. Sejumlah tokoh lain juga disebut menjalani wawancara serupa dan tidak merasa pernah diberitahu bahwa hasilnya akan dijadikan sebagai buku.
Gus Kautsar menyebut ada dua poin yang disesalkan terkait terbitnya buku "Islam Ala Prabowo. Pertama judul artikel "Dukungan Pesantren untuk Prabowo Subianto" dan kedua soal transparansi wawancara.
"Jadi kita itu hanya menyesalkan dua hal. Satu judulnya, yang kedua adalah ketidaktransparansian. Ketika buku ini kemudian benar-benar diterbitkan, kami juga tidak pernah dikasih tahu," tegas Gus Kautsar.
Hingga kini, lanjut Gus Kautsar, dirinya juga belum menerima buku tersebut. Padahal, namanya dicantumkan dalam buku tersebut. "Dan sampai detik ini kita juga nggak dikasih buku," imbuhnya.
Gus Kautsar menilai, secara etika, pihak yang mencantumkan nama seseorang dalam sebuah karya seharusnya terlebih dahulu melakukan konfirmasi. Menurutnya, hal itu penting untuk memastikan izin serta kesesuaian konteks pernyataannya yang digunakan.
"Harusnya kan ketika kami dicantumkan di satu bagian, kita harus dikonfirmasi dulu. Diizinkan atau tidak, itu urusan kemudian. Tapi titik poinnya itu kenapa tidak transparan," jelasnya.

