Kritik Ustaz Rifky Ja'far Thalib Soal Sound Horeg: Diskotek Berjalan!

Kritik Ustaz Rifky Ja'far Thalib Soal Sound Horeg: Diskotek Berjalan!

Muhammad Aminudin - detikJatim
Senin, 07 Sep 2026 20:40 WIB
Ilustrasi. Acara dengan sound horeg di Gresik.
Ilustrasi sound horeg (Foto: Istimewa)
Malang -

Fenomena sound horeg yang marak di Jawa Timur kini mendulang kritik tajam dari pendakwah Ustaz Rifky Ja'far Thalib. Ia menyebut adanya pergeseran budaya dari nilai kemanfaatan dan berkembang menyerupai hiburan malam terselubung di ruang publik.

Ustaz Rifky pun menyampaikan pandangannya secara santai, namun menohok diunggah di akun Instagramnya @ustadrifkyjafar.official. Ia meminta para pencinta sound horeg untuk bersikap dewasa dalam merespons perbedaan pendapat.

Menurutnya, perkembangan tren sound horeg saat ini sudah sangat meresahkan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya lagi senang ngomong sound horeg ini. Panjenengan yang pecinta sound horeg biasa mawon nggih, santai mawon nggih. Cocok nggih didamel, mboten cocok sepura-sepura gak krungu lah ya," ujar Ustaz Rifky seperti dilihat detikJatim, Senin (7/9/2026).

Ia menggarisbawahi transformasi acara sound horeg yang kini tak sekadar menghadirkan dentuman pengeras suara berskala besar, melainkan sudah menambah fasilitas pertunjukan lain seperti lampu sorot hingga penari latar (dancer).

ADVERTISEMENT

"Dan sound horeg itu sekarang enggak cuma sound, ketambahan lampu sorot. Maka zaman kemarin sound horeg itu jalannya siang, sekarang malam karena ada tambahan lampu," tuturnya.

"Seiring berjalannya waktu, ketambahan lagi, sekarang di belakangnya sound horeg ada dancer. Lho iya, enggak usah senyum-senyum, beneran ini. Dan dancer-nya itu dibayar. Ini diskotek berjalan," sambungnya.

Keprihatinan Ustaz Rifky kian memuncak saat melihat norma masyarakat yang perlahan bergeser. Dulu, hiburan malam seperti diskotek diidentikkan dengan hal tabu dan terbatas bagi orang dewasa.

Namun kini, pertunjukan serupa disajikan secara terbuka di pemukiman warga tanpa penyaringan usia.

"Zaman panjenengan dan saya kecil, orang ke diskotek itu kan malu-malu. Itupun masuknya bayar, anak kecil enggak boleh masuk," tegas Rifky.

"Sekarang diskoteknya lewat di depan rumah kita, dan ibu ngajak anaknya nonton, ngandheng anak cilik. 'Itu lho nak lihat... lohh... tutup nak telingamu, matanya gak papa nak, kupingnya aja yang bahaya,'" tambah Ustaz Rifky menggambarkan keprihatinannya.

Menanggapi fenomena tersebut, Ustaz Rifky mengimbau masyarakat yang masih berpikiran jernih untuk tidak diam.

Ia mendorong warga bersuara secara tertib melalui jalur birokrasi agar perangkat lingkungan bertindak tegas dan menghargai warga yang terganggu.

"Lah ini kalau tidak disuarakan, akan terus seperti itu. Maka orang-orang yang masih lurus model panjenengan harus bersuara. Tujuannya apa? Biar perangkat RT, RW, desa, camat, mereka juga menghargai orang yang tidak sependapat. Sampaikan, datang ke Pak RT bawa surat resmi, datang ke Pak RW, nanti diskusi warga, apa manfaatnya?" tegas Ustaz Rifky.

Di akhir ceramahnya, ia mengajak jamaah untuk mengevaluasi diri dan mengedepankan akal sehat serta kebersihan hati dalam menilai suatu hiburan.

"Coba dipikir dengan hati yang bersih, apanya ya? Boleh-boleh, hatinya senang ya? Nah, maka kalau senang dengan sesuatu yang tidak baik, itu artinya hatinya sedang tidak baik. Maka perlu diluruskan," pungkasnya.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads