Beda Versi Akhir Drama Cekcok Bakar Sampah di Kota Batu

Round Up

Beda Versi Akhir Drama Cekcok Bakar Sampah di Kota Batu

Auliyau Rohman - detikJatim
Senin, 07 Sep 2026 08:00 WIB
Tangkapan layar video viral konflik tetangga gegara bakar-bakar sampah di Kota Batu. Perekam video menegur tetangganya mematikan api bakaran karena punya bayi yang sempat infeksi paru-paru.
Tangkapan layar video viral konflik tetangga gegara bakar-bakar sampah di Kota Batu. Perekam video menegur tetangganya mematikan api bakaran karena punya bayi yang sempat infeksi paru-paru.(Foto: tangkapan layar/dok. Instagram @alfiandiyyy)
Batu -

Kasus cekcok antar-tetangga gegara pembakaran sampah di Jalan Lesti, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, diwarnai perbedaan keterangan. Polisi menyebut kedua pihak telah dimediasi dan berdamai, namun pengunggah video, Novrinia Indraswari, membantah telah mengikuti mediasi.

Kapolsek Batu AKP Muhammad Subhan sebelumnya menyebut persoalan tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan. Menurutnya, kedua pihak telah dipertemukan di Balai Kelurahan Ngaglik.

"Terkait video Ngaglik udah di mediasi dua belah pihak saling menerima dan saling bermaaf-maafan, sudah dikumpulkan di balai kelurahan," ujar Kapolsek Batu AKP Muhammad Subhan kepada detikJatim, Minggu (6/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Subhan mengatakan mediasi berlangsung lancar. Kedua pihak disebut telah menyadari kekhilafan masing-masing dan sepakat tidak membawa persoalan tersebut ke ranah hukum.

Dalam pertemuan itu, pihak yang membakar sampah juga disebut berjanji tidak mengulangi aktivitas yang mengganggu kenyamanan dan kesehatan warga sekitar, terutama balita di lingkungan tersebut.

ADVERTISEMENT

"Kedua pihak sudah memahami dan sepakat untuk saling memaafkan. Lingkungan juga diharapkan kembali kondusif," tambahnya.

Pernyataan polisi tersebut dibantah Novrinia. Ibu muda yang mengunggah video cekcok tersebut mengaku belum pernah mengikuti mediasi ataupun bertemu dengan tetangganya untuk membahas persoalan tersebut.

Novrinia mengaku terkejut mendengar pernyataan polisi yang menyebut dirinya telah dikumpulkan di Balai Kelurahan Ngaglik dan saling bermaaf-maafan.

"Belum sama sekali, ngarang banget kalau dibilang sudah mediasi," ujar Novrinia Indraswari.

Ia juga mengatakan rencana jajaran Polsek Batu untuk mendatangi rumahnya guna mengambil keterangan sekaligus memfasilitasi komunikasi belum terlaksana.

"Pihak polsek yang rencananya mau nemuin saya kemarin (Sabtu 5 September 2026) juga tidak datang dan tidak ngehubungi lagi," tegasnya.

Novrinia menegaskan belum ada titik temu maupun kesepakatan damai yang dibuat, baik di balai kelurahan maupun tempat lainnya. Ia pun menyayangkan munculnya informasi yang menyebut persoalan tersebut telah selesai.

Kelurahan Sebut Baru Temui Pihak Pembakar Sampah

Di tengah perbedaan keterangan tersebut, Lurah Ngaglik Ervan menjelaskan proses yang telah dilakukan pihak kelurahan. Ia mengatakan pihaknya memang telah memanggil pria yang membakar sampah bersama istrinya ke kantor kelurahan pada Kamis (3/9/2026).

Namun, menurut Ervan, pertemuan tersebut baru dilakukan dengan pihak pembakar sampah. Pihak kelurahan kemudian berupaya menghubungi Novrinia untuk mengundangnya dalam mediasi.

"Hari Kamis itu rencana kami mediasi. Terduga pelaku pembakaran bersama istrinya kami panggil ke kantor kelurahan. Kami beri klarifikasi dan pengarahan agar tidak mengulang lagi. Mereka menyadari kesalahan dan sanggup untuk tidak membakar sampah lagi," ujar Ervan.

Setelah pihak pembakar sampah mengakui kesalahannya, Ervan menugaskan perangkat kelurahan didampingi Ketua RT dan RW setempat untuk mendatangi rumah pengunggah video, Novrinia Indraswari, guna mengundangnya mediasi bersama di kantor kelurahan.

Lantaran rumah dalam kondisi kosong, komunikasi dilakukan via telepon. Ervan meluruskan kabar yang menyebut stafnya menekan korban untuk hadir sendiri tanpa suami atau memaksa menghapus video saat itu juga.

"Teman-teman menyampaikan tujuan kumpul di kantor untuk mediasi mencari titik tengah. Kalau sepakat dan saling memaafkan, disarankan bisa me-take down video agar tidak makin ramai. Jadi bukan menekan," jelas Ervan.

Mengenai kehadiran suami, Ervan menegaskan pihak kelurahan tidak pernah melarang pengunggah video didampingi oleh suaminya.

"Mbaknya bilang hari itu tidak bisa karena harus didampingi suami yang masih kerja. Staf kami menjawab tidak apa-apa jika mau datang besoknya (Jumat) bersama suami. Jadi kurang tepat kalau dibilang harus datang saat itu juga dan sendirian," tutur Ervan.

Ervan juga mengaku telah berupaya menjalin komunikasi langsung, bahkan menawarkan diri untuk mendatangi rumah pengunggah video secara personal guna memfasilitasi dialog secara kekeluargaan. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil karena pengunggah masih berhalangan dan belum memberikan respons kembali.

Pihak Kelurahan Ngaglik berharap kedua belah pihak dapat saling berlapang dada dan mau duduk bersama dalam proses mediasi tertulis demi menjaga kerukunan antar tetangga.

"Saya sebagai pihak yang netral ingin warga rukun. Kalau perlu nanti ada hitam di atas putih, pelaku mengakui kesalahan dan tidak mengulang lagi. Kami berharap kedua pihak mau berkomunikasi dan bertemu untuk mediasi," tandasnya.

Halaman 2 dari 2
(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads