Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Gratis (GAPEMBI) Jawa Timur menyoroti sejumlah kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur. Kasus keracunan MBG tersebut antara lain terjadi di Sidoarjo, Jombang hingga Nganjuk, dengan jumlah korban keracunan mencapai ratusan orang.
Ketua DPW GAPEMBI Jawa Timur Makhrus Sholeh mengaku sangat menyesalkan adanya kejadian tersebut. Ia meminta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan MBG lebih serius memastikan standar operasional prosedur (SOP) berjalan di lapangan.
"Jadi kami dari GAPEMBI Jawa Timur sangat-sangat menyesalkan dengan kejadian ini (keracunan) kami ikut bersedih," ujar Makhrus saat dikonfirmasi, Jumat (4/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Makhrus, salah satu langkah yang perlu diperkuat adalah pelibatan person in charge (PIC) dari pihak mitra dalam proses penyelenggaraan MBG.
Selama ini, penanggung jawab utama berada pada Kepala SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia) yang dibantu ahli gizi, accounting, chef atau kepala dapur, aslap hingga relawan.
"Nah, dari mitra itu ada nama PIC. Kami mengimbau kepada mitra semuanya, PIC-nya juga benar-benar dilibatkan. Sehingga apabila ada seperti ini, SOP yang tidak dijalankan, ini segera memberi masukan. Bekerja sama dengan SPPI-nya," jelasnya.
Makhrus menegaskan, secara umum pelaksanaan MBG oleh mitra telah mengikuti SOP dan petunjuk teknis yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurutnya, kelengkapan standar tersebut menjadi kewajiban karena dapur mitra dapat dikenai sanksi hingga penghentian sementara atau suspend apabila tidak memenuhi ketentuan.
"Secara SOP sudah jalan. Apa yang diminta dari BGN, kami sebagai mitra selalu menyesuaikan. Karena kalau tidak lengkap kan kita bisa di-suspend. Jadi semuanya sebenarnya sudah terpenuhi. Ya namanya human error atau kesalahan manusia ini kan pasti ada salahnya," katanya.
Karena itu, pihaknya meminta seluruh unsur yang terlibat mulai dari SPPI, accounting, ahli gizi, aslap, chef, PIC mitra hingga relawan menjalankan tanggung jawabnya secara maksimal.
Menurutnya, keselamatan penerima manfaat, khususnya anak-anak, harus menjadi prioritas utama.
"Kami berharap semua mulai SPPI, accounting, ahli gizi, aslap, chef, dan semua relawan bertanggung jawab penuh. Karena yang paling utama adalah kesehatan dan keselamatan anak-anak. Ini adalah prioritas paling utama," pungkas Makhrus.
