PDI Perjuangan mulai menunjukkan sejumlah nama yang berpotensi masuk bursa calon gubernur Jawa Timur pada Pilkada 2029. Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair) Fahrul Muzakki menyebut dua nama yang memungkinkan.
Fahrul menilai langkah PDIP yang mulai mengorbitkan nama-nama kader terbaiknya merupakan hal yang wajar. Menurutnya, Jawa Timur merupakan salah satu wilayah yang menjadi kantong suara terbesar serta menjadi wilayah strategis dalam peta politik nasional.
"Nama-nama yang mungkin disebutkan oleh Pak Hasto itu saya memaklumi, cukup masuk akal dan bisa diterima, bukan sesuatu yang berlebihan. Artinya bisa dipahami, karena Jawa Timur ini juga kantong PDIP yang cukup besar ya. Di samping mungkin misalnya yang tidak kalah besar juga PKB dan Gerindra ya. Kan salah satu provinsi yang diperebutkan untuk menentukan peta politik nasional," kata Fahrul saat dihubungi detikJatim, Selasa (25/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sekian banyak figur yang muncul, terdapat tiga nama utama yang santer diperbincangkan, yakni mantan Menteri Sosial Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, serta Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsujudo.
"Tokoh-tokoh atau nama-nama yang sudah disebutkan itu sekarang mungkin sudah mendapatkan sinyal. Jadi, sudah mulai ancang-ancang untuk mempersiapkan diri. Artinya setidaknya di kontestasi internal itu bisa mendapatkan dukungan yang lebih besar di antara nama-nama itu," jelasnya.
Ia berpandangan, jika melihat konstelasi politik terkini, penguasaan wilayah atau otoritas teritorial menjadi faktor kunci yang sangat menentukan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, figur kepemimpinan daerah seperti Eri Cahyadi dan Achmad Fauzi dinilai memiliki keunggulan strategis.
"Terlepas dari ketokohan masing-masing, pertimbangan yang tidak kalah penting adalah siapa yang dalam kurun waktu lima tahun terakhir memiliki otoritas teritorial. Dua sosok seperti Pak Eri dan Pak Fauzi memiliki modal itu sebagai kepala daerah yang berinteraksi langsung dengan masyarakat," ujarnya.
Meski demikian, nama Tri Rismaharini tetap memiliki basis dukungan dan rekam jejak yang kuat. Munculnya sinyal dan dorongan internal ini menjadi momentum bagi para figur potensial tersebut untuk mulai melakukan konsolidasi serta memperkuat dukungan di tingkat internal partai.
"Jadi, bukan lantas kemudian saya menafikan Bu Risma ya. Tetapi ketika tidak lagi menjabat dalam 5 tahun terakhir, itu interaksinya dengan masyarakat menjadi berkurang, itu harus diakui. Apalagi beliau sudah tidak lagi menjadi menteri," urainya.
Menurutnya, paling tidak yang maju menjadi calon Gubernur Jatim nanti sudah memegang kendali teritorial. Apalagi menjabat sebagai kepala daerah dua periode.
"Artinya itu sebagai semacam garansi, bahwa setidaknya dia punya wilayah teritorial yang bisa diandalkan. Jadi itu yang menjadi senjata utamanya," pungkasnya.
Sebelumnya, PDIP memasang target besar di Jawa Timur pada 2029. Tak hanya membidik kemenangan Pileg, partai berlambang banteng moncong putih itu juga menargetkan kadernya duduk sebagai Gubernur Jatim.
Target tersebut disampaikan Ketua DPD PDIP Jatim Said Abdullah dalam konsolidasi internal partai di Surabaya yang dihadiri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Minggu (23/8).
"Dengan kerja keras kita semua, kita punya kewajiban sama, tekad yang sama untuk memenangkan pileg dan pilgub yang akan datang," kata Said.
Said mengatakan PDIP Jatim telah melakukan sejumlah evaluasi setelah kehilangan sejumlah kursi legislatif dan eksekutif pada Pemilu 2024. Dia optimistis PDIP dapat kembali menang di Jatim sekaligus mengantarkan kadernya menjadi gubernur.
Menyusul pernyataan Said, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengungkap sosok yang berpeluang diusung PDIP sebagai cagub Jatim. Nama-nama kepala daerah PDIP di Jatim masuk bursa mulai dari Achmad Fauzi (Bupati Sumenep) hingga Eri Cahyadi (Wali Kota Surabaya).
"Kalau kita lihat di dalam demokrasi yang terkonsolidasi, maka ada calon-calon yang muncul dari kepala daerah. Kami punya 12 kepala daerah, ada juga calon yang muncul dari anggota DPR RI, kami punya anggota DPR RI yang cukup signifikan, sekitar 19 dari Jawa Timur," beber Hasto.
