Petani di Kabupaten Gresik menghadapi persoalan yang berulang setiap pergantian musim. Saat musim hujan, lahan pertanian mereka kerap terendam banjir. Namun ketika kemarau tiba, petani justru harus berhadapan dengan kekeringan hingga kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah.
Kondisi tersebut salah satunya dirasakan Lasih, petani di wilayah Desa Munggugiyanti, Benjeng, Gresik. Ia mengaku sawahnya sudah hampir dua bulan tidak mendapatkan pasokan air.
Lasih mengatakan, selama ini kebutuhan air untuk sawah mengandalkan aliran sungai, termasuk Kali Lamong. Namun memasuki musim kemarau, debit air sungai menyusut hingga tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ambilnya ya dari sungai sana pak. Kali Lamong sekarang ini nggak ada air, habis. Nggak bisa diambil," kata Lasih saat ditemui detikJatim di area persawahan, Rabu (12/8/2026).
Ironisnya, persoalan yang dihadapi petani berbeda ketika musim berganti. Saat hujan turun dengan intensitas tinggi, air justru melimpah dan membuat sawah terendam banjir.
"Kalau musim hujan sering banjir, kalau gini nggak ada air. Malah nggak ada air," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat petani harus menyesuaikan pola tanam. Menurut Lasih, tanaman jagung masih bisa ditanam di tengah kondisi lahan yang minim air. Namun untuk padi, kebutuhan air jauh lebih besar sehingga sulit dilakukan ketika sawah mengalami kekeringan.
"Kalau jagung gini bisa. Kalau padi nggak bisa," jelasnya.
Lasih menjelaskan tanaman padi membutuhkan pengairan secara rutin. Setidaknya, dalam waktu sekitar satu pekan sawah harus kembali mendapatkan pasokan air.
"Kalau padi itu airnya kan harus banyak. Seminggu sekali harus dikasih air," ungkapnya.
Bagi petani, kondisi tersebut menjadi dilema. Ketika air melimpah pada musim hujan, lahan terancam banjir. Sebaliknya, ketika musim kemarau, sumber air untuk pertanian justru menghilang.
Kekeringan yang berlangsung hampir dua bulan itu membuat petani tidak bisa leluasa menanam padi. Mereka terpaksa mempertimbangkan tanaman yang lebih mampu bertahan dengan ketersediaan air yang terbatas.
Persoalan ini menjadi gambaran tantangan sektor pertanian di Gresik. Petani tidak hanya membutuhkan air ketika kemarau, tetapi juga membutuhkan pengelolaan air yang mampu mengantisipasi kelebihan air saat musim hujan agar persoalan banjir dan kekeringan tidak terus berulang.
Menanggapi hal itu, Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman merespons rencana pembangunan kolam retensi untuk mengantisipasi kekeringan yang setiap tahun melanda wilayah selatan Kabupaten Gresik. Ia telah berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Timur terkait rencana pembangunan kolam retensi tersebut.
Salah satu persoalan yang perlu diselesaikan yakni adanya sengketa yang disebut menghambat pembangunan.
"Saya sudah bicara dengan Pak Gubernur. Nanti Pak Gubernur minta surat tertulis ke saya. Kemudian kami koordinasi dengan Menteri ATR/BPN. Itu bisa dikomunikasikan," kata Amran.
Pembangunan kolam retensi dinilai menjadi salah satu upaya untuk memitigasi persoalan kekeringan yang berulang di sejumlah wilayah Gresik saat musim kemarau. Sekaligus menjadi penanggulangan banjir saat musim hujan tiba.
"Jadi bisa double manfaatnya. Kalau musim hujan bisa menampung air, kalau musim kemarau bisa memberikan air kepada para petani," pungkasnya.
