Sawah di Gresik Kekeringan, Mentan Amran Siapkan Pompa dan Aliran Air

Sawah di Gresik Kekeringan, Mentan Amran Siapkan Pompa dan Aliran Air

Jemmi Purwodianto - detikJatim
Selasa, 11 Agu 2026 15:19 WIB
Menteri Pertanian Amran saat melakukan pengecekan sumber air di sawah Kabupaten Gresik
Menteri Pertanian Amran saat melakukan pengecekan sumber air di sawah Kabupaten Gresik. (Foto: Jemmi Purwodianto/detikJatim)
Gresik -

Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman turun langsung mengecek kondisi sawah yang terdampak kekeringan di Kabupaten Gresik. Amran mengunjungi area persawahan di Dusun Ngablak, Desa Munggugiyanti, Kecamatan Benjeng.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi tanaman dan kebutuhan petani di tengah musim kemarau yang menyebabkan sejumlah lahan pertanian kekurangan air. Sebanyak 229,9 hektare sawah di Jawa Timur mengalami kekeringan.

"Terdapat sekitar 229,9 hektare lahan pertanian di Jawa Timur yang terdampak kekeringan. Salah satunya di sini (Kabupaten Gresik) yakni 19,2 hektare," kata Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman, Selasa (11/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Amran, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele. Sehingga pemerintah harus segera memberikan solusi di lapangan.

"Nah, 200-an hektare ini kita tidak boleh anggap remeh. Sekecil apa pun, kita bisa memberikan solusi di lapangan," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Amran menjelaskan, pemerintah menyiapkan dua skema untuk mengatasi kekeringan. Pertama, lahan yang memiliki sumber air di sekitar sawah akan mendapatkan bantuan pompa untuk mengalirkan air ke area pertanian.

"Solusinya yang pertama adalah yang ada sumber air dekat dari sawah yang kekeringan tadi, ada 200 hektare, kita berikan pompa langsung. Itu tidak ada basa-basi, tidak ada birokrasi panjang, langsung kita berikan pompa," jelasnya.

Sementara untuk lahan yang tidak memiliki sumber air atau hanya memiliki sumur dangkal, pemerintah akan menggunakan jaringan selang maupun pipa untuk mengalirkan air ke sawah.

"Yang kedua, yang tidak ada sumber air, atau sumurnya dangkal, kita alirkan air dari selang atau pipa seperti ini. Jadi kita memitigasi risiko kekeringan," jelas Amran.

Amran menambahkan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga produktivitas pertanian. Selain itu, sebagai upaya mengantisipasi dampak musim kemarau.

"Kita harus tetap berusaha keras untuk memitigasi risiko kekeringan yang terjadi di tahun ini. Insyaallah aman," tambah Amran.

Saat ini, lanjut Amran, kondisi stok beras di Jawa Timur saat ini masih aman. Bahkan, produksi beras Jawa Timur disebut mencapai 1,3 juta ton dan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.

"Alhamdulillah saat ini untuk Jawa Timur itu berasnya 1,3 juta ton dan ini tertinggi sepanjang sejarah. Jadi kita tenang, tetapi kita tidak boleh lengah," ujarnya.

Selain persoalan kekeringan, Amran juga mengungkapkan rencana perubahan regulasi terkait bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Pemerintah akan membuka akses bagi buruh tani untuk mendapatkan bantuan alat pertanian seperti traktor, combine harvester, hingga alat tanam.

Kebijakan tersebut disiapkan karena selama ini masih ada buruh tani yang belum tersentuh bantuan akibat regulasi.

"Insyaallah kami kembali ke Jakarta besok, kami ubah regulasi bahwasanya buruh tani boleh dapat traktor, boleh dapat combine, alat tanam, dan seterusnya," katanya.

Amran menegaskan proses pengajuan bantuan tersebut nantinya akan dibuat lebih sederhana. Pengajuan cukup melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL).

"Tanda tangannya enggak usah ribet, cukup PPL. Kami terima, PPL tanda tangan, kami terima Jakarta, kami kirim alatnya yang membutuhkan saat ini," pungkasnya.



(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads