Teks Khutbah Jumat Bulan Safar: Mitos Bulan Sial hingga Penguatan Iman

Irma Budiarti - detikJatim
Kamis, 06 Agu 2026 20:15 WIB
Ilustrasi khutbah Jumat di bulan Safar. Foto: ChatGPT
Surabaya -

Bulan Safar kerap dikaitkan dengan berbagai mitos, termasuk anggapan sebagai bulan yang membawa kesialan. Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada satu pun bulan yang secara hakikat mendatangkan keburukan maupun keberuntungan.

Sebab, segala sesuatu terjadi atas kehendak dan ketetapan Allah SWT. Hal ini menjadi tema yang banyak diangkat dalam khutbah Jumat selama bulan Safar.

Bagi khatib yang sedang menyiapkan materi ceramah, tersedia sejumlah referensi teks khutbah Jumat Bulan Safar yang membahas pelurusan akidah, pentingnya iman kepada qada dan qadar, hingga ajakan memperbanyak amal saleh. Berikut kumpulan teks khutbah Jumat Bulan Safar yang dapat dijadikan referensi.

3 Referensi Teks Khutbah Jumat Bulan Safar

Berikut tiga pilihan teks khutbah Jumat bertema bulan Safar dengan pembahasan yang berbeda. Masing-masing mengangkat pesan tentang meluruskan anggapan keliru terhadap bulan Safar sekaligus mengajak umat meningkatkan ketakwaan dan tawakal kepada Allah SWT.

1. Khutbah Jumat: Bulan Safar, Momentum Penguatan Iman

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَ وَالْجِنَّ لِيُكَلِّفَهُمْ أَنْ يُوَحِّدُوْهُ وَيَعْبُدُوْهُ وَيُقَدِّسُوْهُ وَيُمَجِّدُوْهُ وَيَشْكُرُوْهُ وَلَا يَكْفُرُوْهُ وَيُطِيْعُوْهُ وَلَا يَعْصُوْهُ وَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ رَسُوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُعَزِّرُوْهُ وَيُوَقِّرُوْهُ وَيُطِيْعُوْهُ وَيَنْصُرُوْهُ فَأَمَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ بِكُلِّ بِرٍّ وَإِحْسَانٍ وَزَجَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ عَنْ كُلِّ إِثْمٍ وَعُدْوَانٍ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ خَيْرِ الْمُوَحِّدِيْنَ وَالْمُسَبِّحِيْنَ وَالْحَامِدِيْنَ وَالْعَابِدِيْنَ وَالسَّائِحِيْنَ أَعْرَفِ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ بِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ عِلْمًا وَعَمَلًا وَكَمَالًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah

Merupakan keniscayaan bagi kita semua untuk terus menguatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt. Penguatan ini akan memperkuat kesadaran bahwa apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini merupakan kehendak Allah.

Perjalanan kehidupan kita dan seluruh makhluk di dunia, baik itu yang nyata maupun yang ghaib, sudah ditentukan oleh Allah. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an surat Al-An'am ayat 59:

۞ وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ ۝٥٩

Artinya: "Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."

Kesadaran atas kuasa Allah ini juga akan menjadikan kita semakin mengimani takdir Allah swt serta mengikis mitos kesialan hidup pada waktu-waktu tertentu. Seperti kehadiran bulan Safar saat ini yang sering dianggap sebagai bulan yang membawa kesialan, bulan yang penuh dengan marabahaya, bulan yang harus diwaspadai, atau bulan yang tidak baik untuk melakukan berbagai aktivitas.

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah

Islam tidak mengajarkan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Islam tidak mengajarkan bahwa Safar adalah bulan yang membawa keburukan. Justru, bulan Safar dapat kita jadikan sebagai momentum untuk memperkuat keimanan kita kepada Allah SWT, khususnya iman kepada qada dan qadar.

Islam datang untuk membersihkan akidah manusia dari berbagai bentuk kepercayaan yang tidak benar. Pada masa jahiliah, sebagian masyarakat memiliki kebiasaan mengaitkan nasib mereka dengan pertanda tertentu. Melihat burung tertentu dianggap pertanda buruk. Mendengar suara tertentu dianggap pertanda buruk.

Melihat angka tertentu dianggap membawa kesialan. Berada di tempat tertentu dianggap membawa bencana. Termasuk meyakini bulan tertentu sebagai bulan yang membawa kesialan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ

Artinya: "Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa." (HR Al-Bukhari)

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah

Di sinilah pentingnya kita memahami qada dan qadar yang merupakan salah satu rukun iman. Kita wajib meyakini bahwa Allah swt Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Tidak ada satu pun kejadian di alam semesta ini yang berada di luar pengetahuan Allah swt. Allah berfirman:

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ ۝٤٩

Artinya: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran." (QS Al-Qamar: 49). Dalam ayat lain Allah juga berfirman:

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ۝٥١

Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), "Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal." (QS. At-Taubah: 51).

Namun, dalam memahami kedua ayat ini, jangan sampai kita salah memahami takdir. Iman kepada qada dan qadar bukan berarti kita boleh bermalas-malasan, tidak perlu bekerja, tidak perlu belajar, tidak perlu berobat ketika sakit atau tidak perlu menghindari bahaya.

Islam mengajarkan kita untuk berikhtiar dan bertawakal dengan doa. Setelah itu, hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT. Mari perhatikan penjelasan Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Ar-Razi mengenai tawakkal.

التَّوَكُّلُ هُوَ أَنْ يُرَاعِيَ الْإِنْسَانُ الْأَسْبَابَ الظَّاهِرَةَ، وَلَكِنْ لَا يُعَوِّلْ بِقَلْبِهِ عَلَيْهَا، بَلْ يُعَوِّلُ عَلَى عِصْمَةِ الْحَقِّ

Artinya, "Tawakkal adalah memperhatikan sebab-sebab yang nyata, namun tidak mengandalkannya dengan sepenuh hati, melainkan bersandar kepada pengawasan Allah swt."

Jadi, tawakal bukanlah meninggalkan usaha, melainkan tetap memperhatikan dan menjalankan sebab-sebab yang nyata untuk mencapai tujuan. Namun, kita tidak boleh sepenuhnya bergantung kepada usaha dan sebab tersebut, karena segala hasil pada hakikatnya berada dalam kehendak dan ketetapan Allah swt.

Oleh karena itu, kita harus berikhtiar secara maksimal, tetapi tetap meletakkan keyakinan dan sandaran hati hanya kepada Allah swt. Dengan iman kepada qadha dan qadar, sikap optimistis juga akan tumbuh dalam diri kita dan mampu menjadi modal dalam menghadapi masa depan.

Kita yang meyakini takdir Allah akan tetap berusaha dan berharap kepada-Nya, karena kita percaya masa depan berada dalam ilmu dan kehendak Allah yang Mahabijaksana. Optimisme akan menguatkan tekat bahwa kegagalan hari ini bukan alasan untuk berputus asa dan kesulitan yang dihadapi bukan akhir dari segalanya.

Dengan keyakinan ini, kita akan mampu menatap masa depan dengan penuh harapan, terus berikhtiar, memperbanyak doa, dan bertawakal kepada Allah swt. Kita akan yakin bahwa selalu ada hikmah dan kebaikan yang Allah siapkan di balik setiap ketetapan-Nya.

Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah

Semoga Allah swt memberikan kita keimanan yang kokoh, keyakinan yang lurus, hati yang tenang, dan kemampuan untuk menerima setiap ketentuan-Nya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa berikhtiar dalam kebaikan, bersabar dalam ujian, bersyukur dalam kenikmatan, dan bertawakal dalam setiap keadaan.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَانًا كَامِلًا، وَيَقِينًا صَادِقًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَافِيَةً دَائِمَةً

Artinya: "Ya Allah, kami memohon kepada-Mu iman yang sempurna, keyakinan yang benar, hati yang khusyuk, amal yang saleh, rezeki yang baik, dan kesehatan yang terus-menerus.". Amin

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَأَدَّبَ وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَدَّبَهُ رَبُّهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمُتَمِّمِيْنَ اتِّبَاعَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلَيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

2. Khutbah Jumat: Safar, Berkah bagi yang Taat, Sial bagi yang Maksiat

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ، اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَايَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ. أَحْمَدُهُ حُمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحُسْبَانِ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ، وَمُبْرِزُ كُلِّ مَنْ سِوَاهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوِجْدَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. أَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ أَوَّلاً بِتَقْوَى اللهِ تَعَالىَ وَطَاعَتِهِ بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Puji syukur kepada Allah swt dengan ucapan alhamdulillâhi rabbil âlamin, mari senantiasa kita ucapkan sebagai bentuk terimakasih kepada-Nya atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita semua, khususnya nikmat iman dan sehat, sehingga kita bisa terus istiqamah menunaikan ibadah dan kewajiban.

Semoga ibadah yang kita lakukan ini diterima oleh Allah swt dan kita digolongkan sebagai hamba-hamba-Nya yang taat, serta dikumpulkan dalam surga-Nya yang penuh nikmat.

Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada panutan dan idola kita bersama, Nabi Muhammad saw, allahummashalli 'alâ Muhammad wa 'alâ alih wa sahbih, yang telah mengajarkan kita kebenaran agar tidak terjerumus pada kesalahan, dan kebaikan agar tidak terjerumus pada keburukan. Semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan semua umatnya. Amin.

Selanjutnya, sebagai awal dalam memulai khutbah Jumat di atas mimbar yang mulia ini, kami selaku khatib mengajak diri sendiri, keluarga, dan semua jamaah yang turut hadir pada pelaksanaan shalat Jumat ini, untuk terus berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Alah swt dengan hakikat takwa yang sesungguhnya, caranya adalah menjalankan semua yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.

Kenapa sangat penting bagi kita semua untuk terus meningkatkan ketakwaan, karena bekal yang akan kita bawa menuju akhirat bukanlah harta yang berlimpah, bukanlah wajah yang tampan rupawan, bukan pula jabatan, namun ketakwaan kepada Allah swt, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an, Allah swt berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ

Artinya, "Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Saat ini kita semua ada di dalam bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Islam setelah bulan Muharram. Pada bulan ini, banyak orang-orang yang beranggapan dan berkeyakinan bahwa bulan ini merupakan bulan kesialan. Semua perbuatan yang dilakukan akan sial dan tidak akan pernah menuai kesuksesan. Anggapan dan keyakinan tersebut tentu tidak benar dan tidak sesuai dengan ajaran Islam yang kita anut bersama.

Dalam Islam tidak ada suatu bulan yang bisa mendatangkan suatu bahaya, kesialan, dan kegagalan dengan sendirinya. Semuanya sudah ditentukan oleh Allah swt, dan tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an, yaitu:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya, "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS Al-Hadid [57]: 22).

Ayat ini menegaskan bagi kita semua, bahwa suatu musibah, ujian dan kesialan yang menimpa seorang hamba bukan disebabkan oleh suatu bulan tertentu, bukan disebabkan bulan Safar dan bulan-bulan lainnya, melainkan sudah tercatat di Lauh Mahfuzh yang sudah ada sejak zaman dahulu.

Meyakini bahwa suatu bulan bisa mendatangkan kesialan dengan sendirinya merupakan keyakinan yang salah dan Islam tidak pernah mengajarkan keyakinan tersebut. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda dalam salah satu haditsnya:

لَا عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلا هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأسَدِ

Artinya, "Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak (pula) burung dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan safar. Menghindarlah dari penyakit judam, sebagaimana engkau menghindar dari singa." (HR Bukhari).

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Lantas bagaimana caranya bagi kita semua untuk menjadikan bulan ini dengan bulan yang penuh manfaat dan berkah? Maka jawabannya adalah dengan cara terus sibuk dan berusaha untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt.

Karena setiap zaman, bulan dan waktu yang kita jalani dengan ketaatan maka akan menjadi bulan yang berkah, termasuk juga dengan bulan Safar. Dalam kitab Lathaiful Ma'arif Fima li Mawasimil 'Am minal Wazhaif, Imam Ibnu Rajab mengatakan:

فَكُلُّ زَمَانٍ شَغَلَهُ المُؤْمِنَ بِطَاعَةِ الله فَهُوَ زَمَانٌ مُبَارَكٌ عَلَيْهِ وَكُلُّ زَمَانٍ شَغَلَهُ العَبْدَ بِمَعْصِيَةِ الله فَهُوَ مَشْؤُمٌ عَلَيْهِ

Artinya, "Maka, setiap zaman yang menyibukkan orang mukmin dari melakukan ketaatan kepada Allah, maka zaman itu merupakan zaman yang diberkahi, dan setiap zaman yang menyibukkan manusia dengan bermaksiat kepada Allah, maka zaman itu merupakan zaman kesialan (tidak diberkahi)."

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penyebab suatu bulan menjadi sial dan tidak diberkahi oleh Allah karena banyaknya kemaksiatan di dalamnya. Andaikan setiap bulan yang ada kita jalani dengan semangat peningkatan keimanan dan ketakwaan, maka tentu tidak akan ada bulan kesialan di dalamnya.

Oleh karena itu, mari pada momentum shalat Jumat ini, kita mulai upaya dan usaha kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, dengan cara mengerjakan semua yang diwajibkan, mengganti semua kewajiban yang pernah kita tinggalkan, dan menjauhi semua larangan-Nya, serta bertobat dari semua kesalahan dan kemaksiatan yang pernah kita perbuat.

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Demikian khutbah Jumat perihal penjelasan tentang keberkahan bulan Safar bagi orang-orang yang taat, dan kesialan bagi mereka yang bermaksiat. Semoga bisa membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua, dan digolongkan sebagai hamba yang istiqamah dalam menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amin ya rabbal alamin.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

3. Khutbah Jumat: Safar Bukan Bulan Sial

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَ وَالْجِنَّ لِيُكَلِّفَهُمْ أَنْ يُوَحِّدُوهُ وَيَعْبُدُوهُ وَيُقَدِّسُوهُ وَيُمَجِّدُوهُ وَيَشْكُرُوهُ وَلَا يَكْفُرُوهُ وَيُطِيْعُوهُ وَلَا يَعْصُوهُ وَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ رَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُعَزِّرُوهُ وَيُوَقِّرُوهُ وَيُطِيْعُوهُ وَيَنْصُرُوهُ فَأَمَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ بِكُلِّ بِرّؓ وَإِحْسَانؓ وَزَجَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ عَنْ كُلِّ إِثْمؓ وَعُدْوَانؓ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ خَيْرِ الْمُوَحِّدِيْنَ وَالْمُسَبِّحِيْنَ وَالْحَامِدِيْنَ وَالْعَابِدِيْنَ وَالسَّائِحِيْنَ أَعْرَفِ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ بِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ عِلْمًا وَعَمَلًا وَكَمَالًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ. قال الله تعالى في كتابه الكريم: إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ

Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia dan jalan menuju keselamatan di akhirat. Kita sedang berada pada bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah.

Setiap kali bulan ini datang, masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkannya dengan kesialan, bencana, atau ketidakberuntungan. Karena keyakinan tersebut, ada orang yang merasa takut melangsungkan pernikahan, memulai usaha, melakukan perjalanan, atau menyelenggarakan kegiatan penting pada bulan Safar.

Keyakinan semacam itu perlu diluruskan. Dalam Islam, tidak ada bulan yang dengan sendirinya membawa kesialan. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT. Baik dan buruk yang menimpa manusia tidak bersumber dari nama bulan, hari, atau tanggal tertentu, tetapi terjadi atas ketetapan Allah SWT serta berkaitan dengan sebab-sebab yang telah ditentukan-Nya.

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya jilid 4 halaman 146, menjelaskan bahwa nama Safar berkaitan dengan keadaan rumah-rumah masyarakat Arab yang menjadi kosong ketika para penghuninya keluar untuk bepergian atau berperang. Penamaan tersebut tidak menunjukkan bahwa Safar merupakan bulan yang buruk atau membawa kesialan.

Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

Kita harus membedakan antara kehati-hatian yang dibenarkan agama dan ketakutan yang lahir dari mitos. Berhati-hati berarti mempertimbangkan risiko, mempersiapkan diri dengan baik, berdoa, dan bertawakal kepada Allah.

Adapun menganggap suatu bulan memiliki kekuatan untuk mendatangkan kesialan merupakan keyakinan yang tidak memiliki dasar yang benar. Sebagian ulama juga mencatat berbagai peristiwa penting yang berlangsung pada bulan Safar.

Syekh Abu Bakar al-Adni, dalam kitab Mandzumah Syarhil Atsar fi Ma Warada 'an Syahri Shafar, menyebut sejumlah peristiwa dalam sejarah Islam yang berkaitan dengan bulan ini. Catatan tersebut menunjukkan bahwa Safar tidak patut diperlakukan sebagai waktu yang harus ditakuti atau dihindari.

Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya membatalkan rencana yang baik hanya karena takut kepada bulan Safar. Pernikahan, perjalanan, pekerjaan, pendidikan, perdagangan, dan berbagai kegiatan yang halal tetap boleh dilakukan. Yang harus diperhatikan bukan nama bulannya, melainkan kesiapan, kemaslahatan, serta kesesuaian kegiatan tersebut dengan ajaran agama.

Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

Meskipun Islam menolak anggapan bahwa Safar merupakan bulan sial, bukan berarti kita diperbolehkan hidup tanpa kewaspadaan. Seorang mukmin tetap diperintahkan untuk menjaga diri, memperbanyak doa, memperbaiki amal, dan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ

Artinya, "Sesungguhnya mereka yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka." (QS. al-Mu'minun [23]: 57)

Ayat ini mengajarkan bahwa kehati-hatian seorang mukmin bersumber dari rasa takut dan tunduk kepada Allah, bukan dari prasangka terhadap waktu tertentu. Ia berhati-hati agar tidak melakukan dosa, tidak menzalimi orang lain, dan tidak mengabaikan tanggung jawab.

Ia juga berikhtiar menjaga diri dari bahaya, tetapi hatinya tetap bergantung kepada Allah SWT. Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah, Inilah keseimbangan yang harus kita pelihara.

Di satu sisi, kita menolak keyakinan bahwa bulan Safar membawa kesialan. Di sisi lain, kita tidak boleh merasa sombong dan menganggap diri terbebas dari segala kemungkinan musibah.

Kita tetap membutuhkan pertolongan Allah, sehingga doa, zikir, sedekah, dan amal saleh perlu terus diperbanyak pada setiap waktu, bukan hanya pada bulan Safar. Syekh Abu Bakar al-Adni menukil sebuah doa bagi orang yang mulai merasakan firasat buruk:

مَنْ عَرَضَ لَهُ مِنْ هَذِهِ الطِّيَرَةِ شَيْءٌ، فَلْيَقُلْ: اَللّٰهُمَّ لَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيْرُكَ.

Artinya, "Barang siapa yang mendapat satu dari sekian firasat buruk yang ada (tentang bulan Safar), hendaklah dia berdoa, 'Ya Allah, tidak ada kesialan selain kesialan yang Engkau tetapkan, tidak ada kebaikan selain kebaikan dari-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau'."

Doa ini mengajarkan tauhid dan keteguhan hati. Seorang mukmin meyakini bahwa tidak ada satu pun makhluk yang memiliki kekuasaan mutlak untuk mendatangkan manfaat atau menolak bahaya.

Bulan Safar tidak dapat mencelakakan manusia. Hari, tanggal, benda, maupun tanda-tanda tertentu juga tidak mempunyai kekuatan sendiri. Hanya Allah SWT yang mengatur seluruh kehidupan.

Oleh sebab itu, apabila timbul rasa takut karena mitos yang berkembang di tengah masyarakat, janganlah kita larut di dalamnya. Kembalikan hati kepada Allah. Perbanyak doa, lakukan ikhtiar yang wajar, dan lanjutkan setiap rencana yang baik dengan penuh tanggung jawab.

Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,

Pesan yang perlu kita pegang adalah bahwa tidak ada bulan yang harus dicela. Yang patut kita khawatirkan bukan datangnya Safar, melainkan datangnya kelalaian dalam hati kita. Kesialan yang sebenarnya bukanlah berada pada bulan tertentu, melainkan ketika seseorang jauh dari Allah, meninggalkan kewajiban, menzalimi sesama, dan terus-menerus melakukan kemaksiatan.

Marilah kita memasuki dan menjalani bulan Safar dengan keyakinan yang lurus, hati yang tenang, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta lisan yang senantiasa berzikir kepada Allah SWT.

Jangan biarkan mitos menguasai pikiran kita. Jangan pula menjadikan penolakan terhadap mitos sebagai alasan untuk meninggalkan doa dan kewaspadaan. Semoga Allah SWT menjaga akidah kita, meneguhkan tawakal kita, dan melindungi kita dari segala keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَأَدَّبَ وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ الَّذِيْ أَدَّبَهُ رَبُّهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمُتَمِّمِيْنَ اتِّبَاعَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلَيِّ الْعَظِيمِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرؓ عَظِيمؓ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَّاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِيْ صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِيْ هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالإِيْمَانِ، اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِندونيسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ الْبُلدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ



Simak Video "Redtalks: Diskusi Inspiratif Lintas Generasi"

(irb/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB