Akses kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya telah disegel mahasiswa selama dua hari. Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UINSA memastikan gerakan mahasiswa tidak berhenti setelah penyegelan dibuka. Sejumlah aksi lanjutan telah disiapkan.
Wakil Presiden DEMA UINSA Fadlurrahman Fazle mengatakan penyegelan kampus merupakan keputusan bersama mahasiswa. Langkah tersebut diambil setelah serangkaian aksi sebelumnya dinilai belum mendapat respons dari pihak rektorat.
Menurut Fazle, keputusan menyegel kampus tidak diambil tanpa pertimbangan. Mahasiswa telah melakukan kajian terhadap tuntutan yang disampaikan sekaligus mempertimbangkan kondisi mahasiswa lain yang masih membutuhkan akses ke kampus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu memang menjadi keputusan teman-teman DEMA dan SEMA dengan tanpa alasan. Teman-teman juga mempunyai kajian yang mendalam mengenai tuntutan atau poin yang tentunya krusial, yang kemudian bisa memahamkan kawan-kawan yang ada di rumah atas alasan menyegel kampus, tetapi tidak melumpuhtotalkan kampus," kata Fazle, Selasa (22/9/2026).
Penyegelan dilakukan sebagai salah satu upaya mahasiswa meningkatkan tekanan ke rektorat agar aspirasi mereka didengar oleh pihak rektorat. DEMA mengatakan mahasiswa sebelumnya telah melakukan sejumlah aksi, tetapi belum mendapat respons yang diharapkan dari Rektor UINSA Akhmad Muzakki.
"Kita sudah mendiskusikan beberapa upaya, hingga kita akhirnya sepakat untuk menyegel rektorat. Kita tunggu beberapa hari hanya untuk menunggu rektor Muzakki menemui massa aksi" lanjutnya.
Menurut Fazle, penyegelan tersebut merupakan bentuk eskalasi tindakan setelah aksi-aksi sebelumnya dianggap belum menghasilkan respons dari rektorat. Namun, penyegelan tidak direncanakan berlangsung dalam waktu lama.
"Kita sebelumnya sudah melalukan aksi lain sebelum menyegel kampus, tapi ya, itu tidak ada upaya, tidak ada efek, tidak ada iktikad baik dari rektor, maka amarah mahasiswa memuncak, maka kita coba untuk menyegel rektorat dan kampus selama 2 hari atau 3 hari gitu," jelasnya.
Fazle menegaskan penyegelan tidak akan dilakukan tanpa batas waktu. DEMA, menurutnya, mempertimbangkan dan mendegarkan kebutuhan sebagian mahasiswa yang masih harus datang ke kampus untuk mengikuti kegiatan akademik maupun keperluan lainnya.
"Kampus tidak segel dalam jangka waktu yang lama atau sampai Pak Muzakki datang. Sebab masih banyak teman-teman yang ingin ke kampus untuk mengikuti perkuliahan atau lainya. Ya itu pertimbangan dari mahasiswa lain," katanya.
Meski penyegelan direncanakan berlangsung terbatas, DEMA memastikan gerakan mahasiswa tidak berhenti setelah akses kampus dibuka. Mahasiswa masih menyiapkan sejumlah aksi lanjutan.
"Tetap, akan ada upaya upaya aksi lanjutan," ucapnya singkat.
Pada hari kedua penyegelan, DEMA juga menyebut mahasiswa melakukan salat hajat sebagai bagian dari aksi simbolik. Di sisi lain, penyegelan kampus memunculkan tanggapan berbeda di kalangan mahasiswa, terutama karena berdampak terhadap kegiatan perkuliahan.
"Salat hajat sebagai aksi simbolik," katanya singkat.
DEMA juga menanggapi perbedaan sikap di kalangan mahasiswa UNISA yang pro dan kontra, dan menyebut itu merupakan hal yang wajar. Sebab, sebagian mahasiswa memiliki hak kegiatan perkuliahan secara langsung dan terdampak oleh penutupan akses kampus.
"Itu wajar lah, wajar jika ada pro kontra sebab mereka juga butuh mengikuti perkuliahan, makanya kita menyegel kampus rencananya dalam 3 hari tidak terlalu lama. Kita juga mendengarkan dari mereka yang kontra atas penyegelan ini," pungkasnya.
