3 Khutbah Jumat Bulan Safar Singkat Lengkap Teks Doa Arab-Latin

3 Khutbah Jumat Bulan Safar Singkat Lengkap Teks Doa Arab-Latin

Iswandy Rusli - detikSulsel
Kamis, 23 Jul 2026 21:00 WIB
Suitable to use as Social Media Content, Greeting Cards, UI, Landing Page, Mobile Apps, Cover Illustration, Poster and Website. Vector Illustration
Foto: Getty Images/whisnu anggoro
Makassar -

Penanggalan Hijriah kini telah memasuki bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Islam setelah Muharram. Di tengah masyarakat, bulan ini kerap dikaitkan dengan berbagai mitos, seperti anggapan sebagai bulan sial atau waktu yang harus dihindari untuk melaksanakan berbagai hajat.

Tema tersebut dapat menjadi materi yang relevan untuk disampaikan dalam khutbah Jumat. Melalui khutbah Jumat tentang bulan Safar, khatib dapat meluruskan anggapan yang keliru bahwa Safar merupakan bulan pembawa kesialan.

Sebagaimana diketahui, Islam mengajarkan umatnya untuk bertawakal kepada Allah SWT dan menjauhi segala bentuk tahayul yang bertentangan dengan akidah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, sebagai referensi berikut beberapa contoh teks khutbah Jumat singkat tentang bulan Safar yang dapat digunakan oleh khatib lengkap dengan doa menggunakan teks Arab dan Latin.

1. Bulan Safar: Berkah Bagi yang Taat, Sial Bagi yang Maksiat

Khutbah Pertama

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي شَرَعَ لَنَا دِيْنًا قَوِيمًا ، وَهَدَانَا إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا ، وَوَعَدَ مَنْ لَزِمَ الصِّرَاطَ أَجْرًا جَزِيلاً وَتَوَابًا عَظِيمًا ، وَتَوَعْدَ مَنْ حَادَ عَنْهُ بِأَنَّ لَهُ عَذَابًا أَلِيمًا. أَشْهَدُ أَنْ لا إلهَ إِلَّا اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ . وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . وَصَفِيهُ مِنْ خَلْقِهِ وَخَلِيْلَهُ اللَّهُمَّ صَلَّ وَزِدْ وَبَارِكْ عَلَى النَّبِيِّ الْمُخْتَارِ ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الأطهار الأخيار، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى دَارِ الْقَرَارِ، وَسَلَّمْ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
. أما بعد ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى العزيز الغفار
فَقَدْ قَالَ تَعَالَى (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)

ADVERTISEMENT

Latin: As-salāmu 'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh.

Al-ḥamdu lillāhilladzī syara'a lanā dīnan qawīman, wa hadānā ilaihi shirāṭan mustaqīman, wa wa'ada man lazima ash-shirāṭa ajran jazīlan wa tawāban 'azhīman, wa tawa''ada man ḥāda 'anhu bi-anna lahu 'adzāban alīman. Asyhadu an lā ilāha illallāhu waliyyuṣ-ṣāliḥīn. Wa asyhadu anna Muḥammadan 'abduhū wa rasūluh, wa ṣafiyyuhū min khalqihī wa khalīluh. Allāhumma shalli wa zid wa bārik 'alan-nabiyyil-mukhtār, sayyidinā Muḥammadin wa 'alā ālihi wa aṣḥābihil-aṭhāril-akhyār, wa man tabi'ahum bi-iḥsānin ilā dāril-qarār, wa sallim 'alaihim taslīman katsīrā.

Ammā ba'du, fayā ayyuhan-nāsu, ūṣīkum wa nafsī bitaqwāl-'Azīzil-Ghaffār. Faqad qāla Ta'ālā:

"Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn."

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Di hari yang mulia ini, mari kita basahi lisan kita dengan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT, Dzat yang telah menghamparkan Bumi sebagai tempat berlabuh dan menghiasi jiwa kita dengan iman sebagai kompas kehidupan.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada sang pembawa lentera kebenaran, baginda Nabi Muhammad SAW, pribadi yang tidak hanya membangun rumah ibadah, namun juga membangun fondasi kemanusiaan yang abadi.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Saat ini kita tengah berada di bulan Safar, bulan kedua dari 12 bulan kalender Hijriyah.

Di antara keunikan bulan Safar adalah adanya kepercayaan sebagian kalangan bahwa bulan Safar ini adalah bulan yang penuh kesialan dan kenahasan, khususnya di hari Rabu terakhir di bulan Safar, yang di sebagian daerah biasa disebut dengan istilah "Rabu Wekasan".

Akibat dari keyakinan tersebut, di bulan Safar sebagian orang merasa khawatir untuk menikah, mengambil keputusan penting, mengeksekusi rencana bisnis, melakukan perjalanan jauh dan sebagainya, karena takut tertimpa kesialan saat melakukan hal itu semua.

Lalu bagaimana pandangan Islam terkait kepercayaan bahwa Safar adalah bulan sial atau nahas ini?

Jemaah Jumat yang berlimpah rahmat dari Allah SWT,

Mari sejenak kita perhatikan hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَة وَلَا صَفَرَ

Latin: 'An Abī Hurairata raḍiyallāhu 'anhu, 'anin-Nabiyyi ṣallallāhu 'alaihi wa sallama qāla: Lā 'adwā wa lā ṭiyarata, wa lā hāmata wa lā ṣafara.

Artinya: "Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: 'Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya (tanpa izin Allah), tidak boleh meramal dengan burung, tidak boleh berprasangka buruk akan datangnya bencana dan tidak ada keburukan (kenahasan atau kesialan) di bulan Safar.'" (HR Al-Bukhari)

Zumratal mukminin rahimakumullah,

Penting untuk kita ketahui bahwa keyakinan tentang kesialan atau kenahasan di bulan Safar bukan hanya ada di kalangan sebagian umat Islam Indonesia saja, ternyata kepercayaan jenis ini adalah warisan zaman Jahiliyah.

Di dalam kitab Sunan Abi Daud, terdapat hadits yang menyinggung hal itu. Disebutkan bahwa ada seorang sahabat menyampaikan kabar kepada Nabi mengenai kepercayaan orang Jahiliyah terkait kesialan di bulan Safar.

سَمِعْتُ أَنْ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ يَسْتَشْنِمُونَ بِصَفر، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا صَفَرَ

Latin: Sami'tu anna ahlal-jāhiliyyati yatasya'amūna bi-Ṣafar, faqālan-Nabiyyu ṣallallāhu 'alaihi wa sallama: Lā ṣafara.

Artinya: "Aku mendengar bahwa orang-orang Jahiliyah meyakini kesialan pada bulan Safar, maka Nabi SAW pun bersabda: 'Tidak ada (kesialan) pada bulan Safar.'"

Lebih jauh lagi, di dalam kitab Al-Fatawa al-Haditsiyyah, pada halaman 20 termaktub bahwa ketika Imam Ibnu Hajar al-Haitami (seorang ulama besar dari mazhab Syafi'i) ditanya tentang kesialan dan kebahagiaan (keberuntungan) serta tentang hari-hari dan malam-malam yang tepat untuk mengadakan perjalanan atau perpindahan, maka jawaban beliau adalah sebagai berikut:

Latin: Man yas'alu 'anin-naḥsi wa mā ba'dahu lā yujābu illā bil-i'rāḍi 'anhu wa tasfīhi mā fa'alahu, wa yubayyanu lahu qubḥahu, wa anna dzālika min sunnatil-Yahūdi lā min hadyil-muslimīnal-mutawakkilīna 'alā khāliqihim wa bāri'ihim alladzīna lā yataṭayyarūna wa 'alā rabbihim yatawakkalūn. Wa mā yunqalu minal-ayyāmil-manqūṭati wa naḥwihā 'an 'Aliyyin karramallāhu wajhahū bāṭilun kadzibun lā aṣla lahū, fal-yaḥdzar min dzālika, wallāhu a'lam.

Artinya: "Barang siapa bertanya tentang (hari) sial dan sebagainya maka tidak perlu dijawab pertanyaannya tersebut, kecuali dengan sikap memalingkan diri darinya (sebagai tanda kebencian terhadap apa yang ditanyakan) dan membodohkan apa yang ia lakukan itu dan menerangkan keburukan hal tersebut kepadanya, sesungguhnya semua itu merupakan tradisi orang Yahudi dan bukan termasuk ajaran kaum muslimin yang berserah diri kepada Sang Maha Penciptanya, yang tidak main hitung-hitungan (ramalan keberuntungan dan kesialan) dan terhadap Tuhannya selalu bertawakal. Dan apa yang dikutip dari sahabat Ali karramallahu wajhah tentang hari-hari nahas, hal tersebut adalah batil dan dusta serta tidak ada dasarnya sama sekali. Maka berhati-hatilah dari semua itu. Wallahu A'lam."

Ma'asyiral mukminin rahimakumullah,

Sebagai hamba Allah yang beriman, tentu kita harus kritis dan meluruskan kepercayaan batil seperti ini. Keyakinan bahwa bulan Safar penuh dengan kesialan dan membawa kenahasan adalah warisan dari tradisi Yahudi, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi'i, dan juga residu dari tradisi jahiliyah, sebagaimana yang diungkap di dalam Sunan Abi Daud di atas.

Keyakinan seperti ini setidaknya memiliki efek buruk sebagaimana berikut:

Pertama, dapat menodai akidah dan tauhid kita. Akibat dari keyakinan tersebut kita menjadi percaya bahwa makhluk, waktu atau hal lainnya memiliki kekuatan untuk mencelakakan manusia.

Kedua, dapat merusak mental kita. Jika kita percaya pada kesialan dan kenahasan suatu waktu tertentu, kita akan hidup dalam pesimisme dan dihantui keragu-raguan, bahkan juga ketakutan untuk melangkah.

Dalam akidah Islam, segala kebaikan dan keburukan, manfaat dan mudharat, semua hanya dapat terjadi atas izin Allah SWT, bukan karena kalender atau waktu tertentu. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam surat At-Taghabun ayat 11:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Latin: Mā aṣāba min muṣībatin illā bi-idznillāh. Wa man yu'min billāhi yahdi qalbahū. Wallāhu bikulli syai'in 'alīm.

Artinya: "Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Kaffatal muwahhidin rahimakumullah,

Secara prinsipil, semestinya kita sadari bahwa seluruh detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun yang kita lalui hanya berisi kesialan dan kenahasan serta kerugian bagi kita semua, kecuali jika kita menjalani semua waktu tersebut dalam bingkai keimanan kepada Allah SWT dan memanfaatkannya untuk beramal saleh, serta saling mengingatkan satu sama lain tentang kebaikan.

Bukankah kita sudah hafal dan mengerti firman Allah SWT dalam surat Al-'Ashr berikut:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصلحاتِ وَتَوَاصَوْا بِالحَقِّ ، وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Latin: Wal-'aṣr. Innal-insāna lafī khusr. Illalladzīna āmanū wa 'amiluṣ-ṣāliḥāt, wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr.

Artinya: "Demi masa (waktu). Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran."

Shadaqallahul 'Adhim. Mahabenar Allah atas segala firman-Nya.

Demikianlah yang bisa khatib sampaikan. Semoga Allah SWT menghindarkan kita dari berbagai kepercayaan dan keyakinan yang dapat menggerus keimanan kita.

Semoga Allah SWT mengokohkan keyakinan kita, bahwa hanya kepada-Nya kita berlindung dan hanya kepada-Nya kita berserah diri. Dan semoga Allah mudahkan kita untuk dapat mengisi setiap waktu yang berjalan dalam hidup kita dengan amal saleh yang diridhai-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.

بارك اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآن الكريم وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم

أقولُ قَوْلِي هذا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Latin: Bārakallāhu lī wa lakum fil-Qur'ānil-karīm, wa nafa'anī wa iyyākum bimā fīhi minal-āyāti wadz-dzikril-ḥakīm, wa taqabbalallāhu minnī wa minkum tilāwatahū, innahū huwas-Samī'ul-'Alīm.

Aqūlu qawlī hādzā wastaghfirullāhal-'Aẓīma lī wa lakum wa lisā'iril-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu'minīna wal-mu'mināt. Fastaghfirūhu innahū huwal-Ghafūrur-Raḥīm.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Latin: Al-ḥamdu lillāhi wa kafā, wa uṣallī wa usallimu 'alā sayyidinā Muḥammadinil-Muṣṭafā, wa 'alā ālihi wa aṣḥābihi ahlil-wafā. Wa asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna sayyidanā Muḥammadan 'abduhū wa rasūluh.

Ammā ba'du, fayā ayyuhal-muslimūn, ūṣīkum wa nafsī bitaqwallāhil-'Aliyyil-'Aẓīm. Wa'lamū annallāha amarakum bi-amrin 'aẓīm, amarakum biṣ-ṣalāti was-salāmi 'alā nabiyyihil-karīm, faqāla:

"Innallāha wa malā'ikatahū yuṣallūna 'alan-nabiyy. Yā ayyuhalladzīna āmanū ṣallū 'alaihi wa sallimū taslīmā."

Allāhumma ṣalli 'alā sayyidinā Muḥammadin wa 'alā āli sayyidinā Muḥammad, kamā ṣallaita 'alā sayyidinā Ibrāhīma wa 'alā āli sayyidinā Ibrāhīm. Wa bārik 'alā sayyidinā Muḥammadin wa 'alā āli sayyidinā Muḥammad, kamā bārakta 'alā sayyidinā Ibrāhīma wa 'alā āli sayyidinā Ibrāhīm, fil-'ālamīna innaka Ḥamīdun Majīd.

Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu'minīna wal-mu'mināt, al-aḥyā'i minhum wal-amwāt. Allāhummadfa' 'annal-balā'a wal-ghalā'a wal-wabā'a wal-faḥsyā'a wal-munkara wal-baghya was-suyūfal-mukhtalifata wasy-syadā'ida wal-miḥan, mā ẓahara minhā wa mā baṭan, min baladinā hādzā khāṣṣatan wa min buldānil-muslimīna 'āmmatan. Innaka 'alā kulli syai'in qadīr.

'Ibādallāh, innallāha ya'muru bil-'adli wal-iḥsāni wa ītā'i dzil-qurbā wa yanhā 'anil-faḥsyā'i wal-munkari wal-baghy. Ya'iẓukum la'allakum tadzakkarūn. Fadzkurullāhal-'Aẓīma yadzkurkum, wa ladzikrullāhi akbar.

*Sumber: MUI Digital

2. Bulan Safar Bukan Bulan Sial

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمُنْعِمِ عَلَى مَنْ أَطَاعَهُ وَاتَّبَعَ رِضَاهُ،
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةَ عَبْدٍ لَمْ يَخْشَ إِلَّا اللهَ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ وَاصْطَفَاهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ
أمَّا بَعْدُ، فَيَاعِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ
يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ
ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ
وَقَٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ كَآفَّةٗ كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ كَآفَّةٗۚ
وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ

Latin: Al-ḥamdu lillāhil-mun'imi 'alā man aṭā'ahu wattaba'a riḍāh. Asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, syahādata 'abdin lam yakhsya illallāh. Wa asyhadu anna Muḥammadan 'abduhū wa rasūluhulladzikhtārahullāhu waṣṭafāh. Allāhumma ṣalli wa sallim 'alā sayyidinā Muḥammadin, wa 'alā ālihi wa ṣaḥbihī wa man wālāh.

Ammā ba'du, fayā 'ibādar-Raḥmān, fa innī ūṣīkum wa nafsī bitaqwallāh. A'ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm. Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.

"Inna 'iddatasy-syuhūri 'indallāhitsnā 'asyara syahran fī kitābillāhi yauma khalaqas-samāwāti wal-arḍ, minhā arba'atun ḥurum. Dzālikad-dīnul-qayyim, falā taẓlimū fīhinna anfusakum. Wa qātilul-musyrikīna kāffatan kamā yuqātilūnakum kāffah. Wa'lamū annallāha ma'al-muttaqīn."

Jemaah shalat Jumat rahimakumullah!

Pada kesempatan yang mulia ini marilah kita berusaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. dengan cara menjalankan maksimal perintah-Nya dan mengupayakan menjauhi larangan-Nya.

Shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat hingga umatnya sampai akhir zaman.

Hadirin yang dimuliakan oleh Allah SWT!

Kita sudah memasuki bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah. Di bulan ini, tak jarang di tengah masyarakat kita masih beredar keyakinan dan mitos terkait bulan Safar. Ada anggapan bahwa bulan ini adalah bulan kesialan, bulan turunnya musibah, atau bahkan bulan yang perlu dihindari untuk melakukan hal-hal penting.

Keyakinan semacam ini sejatinya merupakan warisan dari tradisi Arab Jahiliah di masa lampau. Mereka menghubungkan berbagai kejadian buruk dengan bulan Safar, hingga menganggapnya sebagai bulan yang penuh kesialan. Namun, sebagai muslim, kita wajib meluruskan pandangan ini dengan berlandaskan pada ajaran Islam yang murni.

Islam tidak mengenal hari, bulan, atau tahun sial. Sebagaimana seluruh keberadaan di alam raya ini, waktu adalah makhluk Allah. Waktu tidak bisa berdiri sendiri. Ia berada dalam kekuasaan dan kendali penuh Rabb-nya. Setiap umat Islam wajib berkeyakinan bahwa pengaruh baik maupun buruk tidak ada tanpa seizin Allah. Seperti bulan-bulan lainnya, bulan Safar pun netral dari kesialan atau ketentuan nasib buruk. Jika pun ada kejadian buruk di dalamnya, maka itu semata-mata karena faktor lain, bukan karena bulan Safar itu sendiri.

Rasulullah Saw, junjungan kita, dengan tegas membantah kepercayaan takhayul semacam itu. Beliau bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Latin: Lā 'adwā wa lā ṭiyarata wa lā hāmata wa lā ṣafara.

Artinya: "Tidak ada penyakit menular, tidak ada kesialan, tidak ada pengaruh buruk dari burung hantu, dan tidak ada kesialan bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa dalam pandangan Islam, tidak ada bulan yang membawa kesialan, termasuk bulan Safar. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, baik kebaikan maupun musibah, semuanya adalah atas izin dan kehendak Allah SWT. Tidak ada satupun makhluk atau waktu yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan kebaikan atau keburukan tanpa campur tangan Allah.

Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan Surat at-Taubah ayat 36-yang dibacakan khatib di awal khutbah tadi, yakni membicarakan tentang bilangan bulan dalam satu tahun--bahwa istilah nama Safar itu berkaitan dengan aktivitas masyarakat Arab terdahulu. Safar berarti kosong. Penamaan ini karena di bulan tersebut masyarakat kala itu berbondong-bondong keluar mengosongkan daerahnya, baik untuk berperang ataupun menjadi musafir.

Rasulullah juga menampik anggapan negatif masyarakat jahiliah tentang bulan Safar dengan sejumlah praktik positif. Habib Abu Bakar al-'Adni dalam Mandhûmah Syarh al-Atsar fî Mâ Warada 'an Syahri Safar memaparkan bahwa beberapa peristiwa penting yang dialami Nabi terjadi pada bulan Safar. Diantaranya, pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah dan menikahkan putrinya Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib. Ini artinya, Rasulullah membantah keyakinan masyarakat jahiliah bukan hanya dengan argumentasi tapi juga pembuktian bagi diri beliau sendiri. Dengan melaksanakan hal-hal sakral dan penting di bulan Safar, Nabi seolah berpesan bahwa bulan Safar tidak berbeda dari bulan-bulan lainnya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah!

Karena itu, setiap pekerjaan sangat dianjurkan untuk direncanakan dengan matang dan diikhtiarkan dengan tawakal, karena hasil akhirnya ada di tangan Allah. Selebihnya adalah doa dan kepasrahan total kepada Allah. Misalnya, untuk terbebas dari penyakit, terdapat perintah untuk menjalankan pola hidup sehat. Agar selamat dari bangkrut, pedagang disarankan untuk membuat perhitungan yang teliti dan hati-hati. Agar lulus ujian, pelajar mesti melewati belajar secara serius.

Sebagai hamba, manusia didorong untuk berencana, berjuang, dan berdoa. Sementara ketentuan hasil dipasrahkan kepada Allah. Dengan demikian, saat menuai hasil, kita tetap bersyukur dan tatkala mengalami kegagalan, kita tidak lantas putus asa. Kemudharatan dan kesialan dapat menimpa kita kapan saja, tidak mesti pada bulan-bulan tertentu. Dari sinilah kita diharapkan untuk selalu menjaga diri, melakukan usaha-usaha pencegahan, termasuk dengan doa memohon perlindungan kepada Allah setiap hari.

Jemaah shalat Jumat rahimakumullah!

Keberuntungan sejati adalah ketika seorang hamba mengisi waktunya, kapan saja dan di mana saja, untuk sedapat mungkin menjalankan ketaatan kepada Allah. Sebaliknya, kerugian terjadi adalah saat seseorang menyia-nyiakan waktunya, termasuk ketika di bulan-bulan mulia sekalipun.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memperkuat tawakal kita kepada Allah. Iman kita haruslah kokoh, termasuk dalam hal meyakini bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman-Nya. Jangan biarkan keyakinan-keyakinan tak berdasar merusak akidah kita dan mengikis kepercayaan kita kepada takdir Allah.

Semoga kita semua menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa dikaruniai kekuatan untuk menghormati waktu yang Allah berikan kepada kita, agar dapat digunakan untuk perbuatan dan pikiran yang bermanfaat serta membawa maslahat, baik di dunia maupun di akhirat. Âmîn Yâ Rabbal 'Âlamîn. Akhirnya marilah kita simak firman Allah SWT sebagai berikut:

وَاِنْ يَمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَه اِلَّا هُوَ ۗوَاِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Latin: Wa iy yamsaskallāhu biḍurrin falā kāsyifa lahū illā huwa. Wa iy yamsaska bikhairin fahuwa 'alā kulli syai'in qadīr.

Artinya: "Dan jika Allah menimpakan suatu kemudaratkan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia sendiri. Dan jika Dia menimpakan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al-An'am: 17)

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةٍ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ
وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Latin: Bārakallāhu lī wa lakum fil-Qur'ānil-'Aẓīm, wa nafa'anī wa iyyākum bimā fīhi min āyatin wa dzikril-ḥakīm. Wa taqabbalallāhu minnā wa minkum tilāwatahū, wa innahū huwas-Samī'ul-'Alīm. Wa aqūlu qawlī hādzā fastaghfirullāhal-'Aẓīm. Innahū huwal-Ghafūrur-Raḥīm.

Khutbah Kedua

ٱلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

ٱللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

ٱللّٰهُمَّ ٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ.

ٱللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلتُّقَىٰ وَٱلْعَفَافَ وَٱلْغِنَىٰ.

ٱللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا ٱلَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا ٱلَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا ٱلَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

ٱللّٰهُمَّ ٱجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ ٱلصَّالِحِينَ، وَٱجْعَلْنَا مِنَ ٱلَّذِينَ يُحَافِظُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُفْسِدُونَ فِيهَا.

ٱللّٰهُمَّ جَنِّبْنَا ٱلْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَٱحْفَظْ بِلَادَنَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَبَلَاءٍ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Latin:

Al-ḥamdu lillāhi Rabbil-'ālamīn, naḥmaduhū wa nasta'īnuhū wa nastaghfiruhū, wa nu'minu bihī wa natawakkalu 'alaih.
Wa asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah.
Wa asyhadu anna Muḥammadan 'abduhū wa rasūluh.
Allāhumma ṣalli wa sallim 'alā Muḥammadin wa 'alā ālihi wa ṣaḥbihī ajma'īn.
Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu'minīna wal-mu'mināt, al-aḥyā'i minhum wal-amwāt.
Allāhumma innā nas'alukal-hudā wat-tuqā wal-'afāfa wal-ghinā.
Allāhumma aṣliḥ lanā dīnanalladzī huwa 'iṣmatu amrinā, wa aṣliḥ lanā dunyānallatī fīhā ma'āsyunā, wa aṣliḥ lanā ākhiratanallatī ilaihā ma'ādunā.
Allāhummaj'alnā min 'ibādikaṣ-ṣāliḥīn, waj'alnā minal-ladzīna yuḥāfiẓūna 'alal-arḍi wa lā yufsidūna fīhā.
Allāhumma jannibnal-fitana mā ẓahara minhā wa mā baṭan, waḥfaẓ bilādanā min kulli sū'in wa balā'.
Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirati ḥasanah, wa qinā 'adzāban-nār.

*Oleh: Muhammad DN, S.Ag, MHI, Ketua PDM Hulu Sungai Tengah-Kalimantan Selatan
*Sumber: Suara Muhammadiyah

3. Bulan Safar, Momentum Penguatan Iman pada Qadha dan Qadar

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَ وَالْجِنَّ لِيُكَلِّفَهُمْ أَنْ يُوَحِّدُوْهُ وَيَعْبُدُوْهُ وَيُقَدِّسُوْهُ وَيُمَجِّدُوْهُ وَيَشْكُرُوْهُ وَلَا يَكْفُرُوْهُ وَيُطِيْعُوْهُ وَلَا يَعْصُوْهُ وَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ رَسُوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُعَزِّرُوْهُ وَيُوَقِّرُوْهُ وَيُطِيْعُوْهُ وَيَنْصُرُوْهُ فَأَمَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ بِكُلِّ بِرٍّ وَإِحْسَانٍ وَزَجَرَهُمْ عَلَى لِسَانِهِ عَنْ كُلِّ إِثْمٍ وَعُدْوَانٍ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ خَيْرِ الْمُوَحِّدِيْنَ وَالْمُسَبِّحِيْنَ وَالْحَامِدِيْنَ وَالْعَابِدِيْنَ وَالسَّائِحِيْنَ أَعْرَفِ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ بِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ عِلْمًا وَعَمَلًا وَكَمَالًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَاۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ

Latin: Al-ḥamdu lillāhilladzī khalaqal-insa wal-jinna liyukallifahum an yuwaḥḥidūhu wa ya'budūhu wa yuqaddisūhu wa yumajjidūhu wa yasykurūhu wa lā yakfurūhu wa yuṭī'ūhu wa lā ya'ṣūhu. Wa arsala ilaihim rasūlahū ṣallallāhu 'alaihi wa sallama liyu'azzirūhu wa yuwaqqirūhu wa yuṭī'ūhu wa yanṣurūhu. Fa amarahum 'alā lisānihī bikulli birrin wa iḥsān, wa zajarahum 'alā lisānihī 'an kulli itsmin wa 'udwān.

Waṣ-ṣalātu was-salāmu 'alā sayyidinā Muḥammadin 'abdillāhi wa rasūlih, khairil-muwaḥḥidīna wal-musabbiḥīna wal-ḥāmidīna wal-'ābidīna was-sā'iḥīn, a'rafil-khalqi ajma'īna bi Rabbil-'ālamīna 'ilman wa 'amalan wa kamālan, wa 'alā ālihi wa ṣaḥbihī ajma'īn.

Asyhadu an lā ilāha illallāh, wa asyhadu anna sayyidanā Muḥammadan 'abduhū wa rasūluh.

Ammā ba'du, fayā 'ibādallāh, ūṣī nafsī wa iyyākum bitaqwallāhi wa ṭā'atih. Qālallāhu Ta'ālā:

"Mā aṣāba min muṣībatin fil-arḍi wa lā fī anfusikum illā fī kitābin min qabli an nabra'ahā. Inna dzālika 'alallāhi yasīr."

Hadirin jemaah shalat Jumat hafidzakumullah

Merupakan keniscayaan bagi kita semua untuk terus menguatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Penguatan ini akan memperkuat kesadaran bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan ini merupakan kehendak Allah. Perjalanan kehidupan kita dan seluruh makhluk di dunia, baik itu yang nyata maupun yang ghaib, sudah ditentukan oleh Allah. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an surat Al-An'am ayat 59:

وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Latin: Wa 'indahū mafātiḥul-ghaibi lā ya'lamuhā illā huwa. Wa ya'lamu mā fil-barri wal-baḥr. Wa mā tasquṭu min waraqatin illā ya'lamuhā, wa lā ḥabbatin fī ẓulumātil-arḍi wa lā raṭbin wa lā yābisin illā fī kitābin mubīn.

Artinya: "Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."

Kesadaran atas kuasa Allah ini juga akan menjadikan kita semakin mengimani takdir Allah SWT serta mengikis mitos kesialan hidup pada waktu-waktu tertentu. Seperti kehadiran bulan Safar saat ini yang sering dianggap sebagai bulan yang membawa kesialan, bulan yang penuh dengan marabahaya, bulan yang harus diwaspadai, atau bulan yang tidak baik untuk melakukan berbagai aktivitas.

Hadirin jemaah shalat Jumat hafidzakumullah

Islam tidak mengajarkan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Islam tidak mengajarkan bahwa Safar adalah bulan yang membawa keburukan. Justru, bulan Safar dapat kita jadikan sebagai momentum untuk memperkuat keimanan kita kepada Allah SWT, khususnya iman kepada qada dan qadar.

Islam datang untuk membersihkan akidah manusia dari berbagai bentuk kepercayaan yang tidak benar. Pada masa jahiliah, sebagian masyarakat memiliki kebiasaan mengaitkan nasib mereka dengan pertanda tertentu. Melihat burung tertentu dianggap pertanda buruk. Mendengar suara tertentu dianggap pertanda buruk. Melihat angka tertentu dianggap membawa kesialan. Berada di tempat tertentu dianggap membawa bencana. Termasuk meyakini bulan tertentu sebagai bulan yang membawa kesialan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ

Latin: Lā 'adwā wa lā ṭiyarata wa lā hāmata wa lā ṣafara, wa firra minal-majdzūmi kamā tafirru minal-asad.

Artinya: "Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa." (HR Al-Bukhari)

Hadirin jemaah shalat Jumat hafidzakumullah

Di sinilah pentingnya kita memahami qada dan qadar yang merupakan salah satu rukun iman. Kita wajib meyakini bahwa Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Tidak ada satupun kejadian di alam semesta ini yang berada di luar pengetahuan Allah SWT.

Allah berfirman:

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ ۝٤٩

Latin: Innā kulla syai'in khalaqnāhu biqadar.

Artinya: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran." (QS. Al-Qamar: 49).

Dalam ayat lain Allah juga berfirman:

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ۝٥١

Latin: Qul lan yuṣībanā illā mā kataballāhu lanā. Huwa maulānā, wa 'alallāhi falyatawakkalil-mu'minūn.

Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), "Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal." (QS. At-Taubah: 51).

Namun, dalam memahami kedua ayat ini, jangan sampai kita salah memahami takdir. Iman kepada qada dan qadar bukan berarti kita boleh bermalas-malasan, tidak perlu bekerja, tidak perlu belajar, tidak perlu berobat ketika sakit atau tidak perlu menghindari bahaya. Islam mengajarkan kita untuk berikhtiar dan bertawakal dengan doa. Setelah itu, hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT.

Mari perhatikan penjelasan Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Ar-Razi mengenai tawakkal.

التَّوَكُّلُ هُوَ أَنْ يُرَاعِيَ الْإِنْسَانُ الْأَسْبَابَ الظَّاهِرَةَ، وَلَكِنْ لَا يُعَوِّلْ بِقَلْبِهِ عَلَيْهَا، بَلْ يُعَوِّلُ عَلَى عِصْمَةِ الْحَقِّ

Latin: At-tawakkulu huwa an yurā'iyal-insānu al-asbābaẓ-ẓāhirah, wa lākin lā yu'awwil biqalbihī 'alaihā, bal yu'awwilu 'alā 'iṣmatil-Ḥaqq.

Artinya: "Tawakkal adalah memperhatikan sebab-sebab yang nyata, namun tidak mengandalkannya dengan sepenuh hati, melainkan bersandar kepada pengawasan Allah SWT."

Jadi, tawakal bukanlah meninggalkan usaha, melainkan tetap memperhatikan dan menjalankan sebab-sebab yang nyata untuk mencapai tujuan. Namun, kita tidak boleh sepenuhnya bergantung kepada usaha dan sebab tersebut, karena segala hasil pada hakikatnya berada dalam kehendak dan ketetapan Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus berikhtiar secara maksimal, tetapi tetap meletakkan keyakinan dan sandaran hati hanya kepada Allah SWT.

Dengan iman kepada qadha dan qadar, sikap optimistis juga akan tumbuh dalam diri kita dan mampu menjadi modal dalam menghadapi masa depan. Kita yang meyakini takdir Allah akan tetap berusaha dan berharap kepada-Nya, karena kita percaya masa depan berada dalam ilmu dan kehendak Allah yang Mahabijaksana.

Optimisme akan menguatkan tekad bahwa kegagalan hari ini bukan alasan untuk berputus asa dan kesulitan yang dihadapi bukan akhir dari segalanya. Dengan keyakinan ini, kita akan mampu menatap masa depan dengan penuh harapan, terus berikhtiar, memperbanyak doa, dan bertawakal kepada Allah SWT. Kita akan yakin bahwa selalu ada hikmah dan kebaikan yang Allah siapkan di balik setiap ketetapan-Nya.

Hadirin jemaah shalat Jumat hafidzakumullah

Semoga Allah SWT memberikan kita keimanan yang kokoh, keyakinan yang lurus, hati yang tenang, dan kemampuan untuk menerima setiap ketentuan-Nya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa berikhtiar dalam kebaikan, bersabar dalam ujian, bersyukur dalam kenikmatan, dan bertawakal dalam setiap keadaan.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَانًا كَامِلًا، وَيَقِينًا صَادِقًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَافِيَةً دَائِمَةً

Latin: Allāhumma innā nas'aluka īmānan kāmilan, wa yaqīnan ṣādiqan, wa qalban khāsyi'an, wa 'amalan ṣāliḥan, wa rizqan ṭayyiban, wa 'āfiyatan dā'imah.

Artinya: "Ya Allah, kami memohon kepada-Mu iman yang sempurna, keyakinan yang benar, hati yang khusyuk, amal yang saleh, rezeki yang baik, dan kesehatan yang terus-menerus.". Amin

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Latin: Aqūlu qawlī hādzā wa astaghfirullāha lī wa lakum wa lisā'iril-muslimīn, fastaghfirūhu innahū huwal-Ghafūrur-Raḥīm.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ وَأَدَّبَ وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَدَّبَهُ رَبُّهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمُتَمِّمِيْنَ اتِّبَاعَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلَيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Latin:

Al-ḥamdu lillāhi wa addab, wa uṣallī wa usallimu 'alā sayyidinā Muḥammadin alladzī addabahū Rabbuhū fa aḥsana ta'dībah, wa 'alā ālihi wa aṣḥābihil-mutammimīna ittibā'ah. Asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna sayyidanā Muḥammadan 'abduhū wa rasūluh.

Ammā ba'du, fayā ayyuhal-muslimūn, ūṣīkum wa nafsī bitaqwallāhil-'Aliyyil-'Aẓīm. Wa'lamū annallāha amarakum bi amrin 'aẓīm, amarakum biṣ-ṣalāti was-salāmi 'alā nabiyyihil-karīm, faqāla: "Innallāha wa malā'ikatahū yuṣallūna 'alan-nabiyy. Yā ayyuhalladzīna āmanū ṣallū 'alaihi wa sallimū taslīmā."

Allāhumma ṣalli 'alā sayyidinā Muḥammadin wa 'alā āli sayyidinā Muḥammad, kamā ṣallaita 'alā sayyidinā Ibrāhīma wa 'alā āli sayyidinā Ibrāhīm. Wa bārik 'alā sayyidinā Muḥammadin wa 'alā āli sayyidinā Muḥammad, kamā bārakta 'alā sayyidinā Ibrāhīma wa 'alā āli sayyidinā Ibrāhīm fil-'ālamīna innaka Ḥamīdun Majīd.

Allāhummaghfir lil-mu'minīna wal-mu'mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-aḥyā'i minhum wal-amwāt. Allāhumma aṣliḥnā wa aṣliḥ aḥwālanā, wa aṣliḥ man fī ṣalāḥihim ṣalāḥunā wa ṣalāḥul-muslimīn, wa ahlik man fī halākihim ṣalāḥunā wa ṣalāḥul-muslimīn. Allāhumma waḥḥid ṣufūfal-muslimīn, warzuqnā wa iyyāhum ziyādatat-taqwā wal-īmān. Allāhummadfa' 'annal-balā'a wal-wabā'a waz-zalāzila wal-miḥana wa sū'al-fitani mā ẓahara minhā wa mā baṭan, 'an baladinā Indūnīsiyā khāṣṣatan wa sā'iril-buldānil-muslimīna 'āmmatan, yā Rabbal-'ālamīn.

Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnattibā'ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnajtinābah. Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah wa qinā 'adzāban-nār. Wal-ḥamdu lillāhi Rabbil-'ālamīn.

'Ibādallāh, innallāha ya'muru bil-'adli wal-iḥsāni wa ītā'i dzil-qurbā wa yanhā 'anil-faḥsyā'i wal-munkari wal-baghy. Ya'iẓukum la'allakum tadzakkarūn. Wadzkurullāhal-'Aẓīma yadzkurkum, wasykurūhu 'alā ni'amihī yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar.

*Oleh: H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu.
*Sumber: NU Online



(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads