Setiap memasuki hari Rabu terakhir bulan Safar, istilah sholat Rebo Wekasan kembali ramai diperbincangkan. Sebagian umat Islam meyakini amalan ini sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai musibah yang diyakini turun pada hari tersebut.
Di sisi lain, tidak sedikit ulama yang mempertanyakan dasar syariatnya sehingga hukum pelaksanaannya masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Lantas, sebenarnya bagaimana hukum sholat Rebo Wekasan menurut ulama?
Kapan waktu pelaksanaannya, bagaimana niat dan tata caranya, serta apa saja bacaan yang dianjurkan saat mengerjakan sholat Rebo Wekasan? Simak penjelasan lengkap berikut berdasarkan keterangan ulama yang dikutip NU Online.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Amalan Rebo Wekasan yang Dianjurkan |
Apa Itu Sholat Rebo Wekasan?
Sholat Rebo Wekasan merupakan salah satu amalan yang dikenal di sebagian masyarakat muslim, terutama di Indonesia, ketika memasuki hari Rabu terakhir bulan Safar.
Tradisi ini telah lama berkembang di sejumlah pesantren dan lingkungan masyarakat sebagai bentuk doa serta permohonan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari berbagai musibah dan marabahaya.
Istilah "Rebo Wekasan" sendiri berasal dari bahasa Jawa. Kata "Rebo" berarti hari Rabu, sedangkan "Wekasan" berarti terakhir. Dengan demikian, Rebo Wekasan merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Bagi masyarakat yang mengamalkannya, momentum tersebut dianggap sebagai waktu untuk memperbanyak ibadah, berdoa, berdzikir, bersedekah, hingga melaksanakan sholat sunnah sebagai bentuk ketakwaan sekaligus memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Meski demikian, penting dipahami bahwa pelaksanaan Sholat Rebo Wekasan tidak lepas dari perbedaan pandangan di kalangan ulama. Perbedaan inilah yang membuat amalan tersebut selalu menjadi pembahasan setiap kali bulan Safar tiba.
Hukum Sholat Rebo Wekasan Menurut Ulama
Dalam praktiknya, hukum sholat Rebo Wekasan memang belum memiliki kesepakatan di kalangan ulama. Sebagian ulama menilai sholat tersebut tidak memiliki dasar syariat yang secara khusus menetapkan adanya ibadah bernama sholat Rebo Wekasan.
Apabila seseorang meyakini terdapat sholat sunah khusus pada Rabu terakhir bulan Safar tanpa landasan yang jelas, maka hal tersebut dipandang tidak memiliki dasar kuat. Namun demikian, terdapat pandangan lain yang memperbolehkan muslim untuk melaksanakan amalan tersebut dengan niat yang berbeda.
Mengutip penjelasan KH Damaluddin Ahmad atau Kiai Jamal Tambakberas yang dikutip NU Online, sholat Rebo Wekasan dapat dilakukan dengan niat sholat sunah mutlak ataupun sholat isti'adzah, yakni sholat yang bertujuan memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai bala dan musibah.
Dalam pandangan ini, yang menjadi penekanan bukanlah adanya syariat khusus mengenai sholat Rebo Wekasan, melainkan pelaksanaan sholat sunah sebagai bentuk doa dan penghambaan kepada Allah SWT.
Sholat Rebo Wekasan Dilaksanakan Jam Berapa?
Pelaksanaan sholat Rebo Wekasan sebenarnya cukup fleksibel. Tidak ada ketentuan yang mengharuskan sholat ini dilakukan pada jam tertentu, selama masih berada dalam waktu yang dianjurkan menurut tradisi yang berkembang.
Secara umum, terdapat dua waktu yang biasa dipilih masyarakat untuk melaksanakan sholat Rebo Wekasan. Waktu pertama adalah saat memasuki waktu Duha pada hari Rabu terakhir bulan Safar.
Waktu Duha dimulai ketika matahari telah naik sekitar satu tombak atau kurang lebih 15 menit setelah matahari terbit dan berlangsung hingga menjelang masuk waktu Zuhur. Pilihan waktu ini banyak digunakan karena Duha merupakan waktu yang memang diperbolehkan untuk melaksanakan sholat sunah.
Bagi masyarakat yang mengamalkan Rebo Wekasan pada pagi hari, momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah sekaligus memanjatkan doa agar dijauhkan dari berbagai musibah.
Selain pada waktu Duha, sholat Rebo Wekasan juga dapat dikerjakan setelah sholat Magrib pada malam Rabu terakhir bulan Safar. Dengan adanya dua pilihan waktu tersebut, umat Islam yang ingin mengamalkan tradisi ini memiliki keleluasaan menyesuaikan dengan aktivitas dan kondisi masing-masing.
Fleksibilitas waktu inilah yang membuat amalan Rebo Wekasan masih terus dipraktikkan di berbagai daerah. Sebagian jemaah memilih mengerjakannya pada pagi hari bersama keluarga atau di lingkungan pesantren, sementara sebagian lainnya melaksanakannya selepas Magrib secara berjemaah di masjid maupun musala.
Niat Sholat Rebo Wekasan
Sebelum memulai sholat, jemaah terlebih dahulu berniat di dalam hati sebagai bentuk kesungguhan beribadah kepada Allah SWT. Sholat Rebo Wekasan dapat diniatkan sebagai sholat sunah mutlak.
Artinya, seseorang tidak harus menggunakan lafaz niat khusus apabila memandang amalan ini sebagai sholat sunah biasa yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun, dalam buku Amalan Sholat Rebo Wekasan Versi Blokagung juga dicantumkan bacaan niat yang biasa digunakan oleh masyarakat muslim yang mengamalkan tradisi tersebut, yaitu sebagai berikut.
أُصَلِّي سُنَّةً لِيَوْمِ الْآخِرِ مِنْ شَهْرِ الصَّفَرِ لِدَفْعِ الْبَلَاءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Arab Latin: Ushallī sunnatan li-yawmil-ākhiri min shahrish-shafari li-daf'il-balā'i arba'a raka'ātin mustaqbila al-qiblati lillāhi ta'ālā.
Artinya: Aku niat sholat sunah pada hari terakhir bulan Safar untuk menolak bala empat rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta'ala.
Sebagaimana sholat pada umumnya, bacaan niat dapat dilafalkan sebelum takbiratul ihram ataupun cukup dibaca di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Yang terpenting adalah adanya niat untuk melaksanakan ibadah semata-mata karena Allah SWT.
Tata Cara Sholat Rebo Wekasan
Pada dasarnya, tata cara Sholat Rebo Wekasan tidak berbeda dengan pelaksanaan sholat sunah lainnya. Sholat ini dilaksanakan sebanyak empat rakaat.
Pelaksanaannya dapat dilakukan dalam satu kali salam maupun dua kali salam, sesuai kebiasaan yang diajarkan di masing-masing lingkungan.
Urutan pelaksanaannya dimulai dengan membaca niat, kemudian berdiri tegak menghadap kiblat dan melakukan takbiratul ihram.
Setelah itu jamaah membaca doa iftitah, dilanjutkan Surah Al-Fatihah, kemudian membaca surat-surat yang telah ditentukan.
Usai membaca bacaan tersebut, sholat dilanjutkan seperti biasa, yaitu rukuk tuma'ninah, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kedua.
Rangkaian gerakan yang sama dilakukan hingga rakaat terakhir sebelum diakhiri dengan tasyahud akhir dan salam.
Dengan demikian, secara umum tata cara pelaksanaannya tidak memiliki perbedaan dengan sholat sunah lainnya. Perbedaan utamanya hanya terletak pada bacaan surat yang dianjurkan setelah membaca Surah Al-Fatihah.
Bacaan Surat yang Dianjurkan
Salah satu ciri khas sholat Rebo Wekasan adalah adanya anjuran membaca beberapa surat tertentu setelah surah Al-Fatihah pada setiap rakaat. Urutan bacaan yang dianjurkan adalah sebagai berikut.
- Surah Al-Kautsar sebanyak 17 kali
- Surah Al-Ikhlas sebanyak 5 kali
- Surah Al-Falaq sebanyak 1 kali
- Surah An-Nas sebanyak 1 kali
Seluruh bacaan tersebut dibaca secara berurutan setelah surah Al-Fatihah pada setiap rakaat sebagaimana dijelaskan dalam referensi. Banyaknya pengulangan surah Al-Kautsar dan Al-Ikhlas membuat durasi pelaksanaan sholat Rebo Wekasan relatif lebih lama dibandingkan sholat sunah pada umumnya.
Doa Setelah Sholat Rebo Wekasan
Setelah menyelesaikan empat rakaat sholat Rebo Wekasan dan mengucapkan salam, amalan berikutnya yang biasa dilakukan adalah membaca doa. Dalam tradisi yang berkembang di sejumlah pesantren dan masyarakat, doa ini dipanjatkan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT.
Setelah sholat Rebo Wekasan, muslim berdoa memohon agar diberikan perlindungan dari berbagai musibah, penyakit, dan segala bentuk keburukan. Doa diawali dengan pujian kepada Allah SWT.
Kemudian dilanjutkan dengan permohonan agar dijauhkan dari marabahaya, diberikan perlindungan dari segala keburukan makhluk, serta memohon keselamatan dari berbagai penyakit dan musibah. Berikut bacaan doa sebagaimana tercantum dalam referensi tersebut.
اللَّهُمَّ يَا شَدِيدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيزُ يَا مَنْ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ اكْفِنِي مِنْ شَرِّ جَمِيعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجْمِلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ارْحَمْنِي بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ بِسِنِّ الْحَسَنِ وَأَخِيهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيهِ اكْفِنِي شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرَّ مَا فِيهِ يَا كَافِي الْمُهِمَّاتِ وَيَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَحَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
اللَّهُمَّ أَعْصِمْنَا مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ وَمَوْتِ الْفُجَاءَةِ وَمِنْ شَرِّ السَّامِ وَالْبَرْسَامِ وَالْحُمَّى وَالْبَرَصِ وَالْجُذَامِ وَالْأَسْقَامِ وَمِنْ جَمِيعِ الْأَمْرَاضِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Arab Latin:
Allahumma yā shadīdal-quwā wa yā shadīdal-miḥāl, yā ʿazīzu yā man dhallat liʿizzatika jamīʿu khalqik, ikfinī min sharri jamīʿi khalqik, yā muḥsinu yā muj'milu yā mutafaḍḍilu yā munʿimu yā muk'rimu, yā man lā ilāha illā anta, irḥamnī biraḥmatika yā arḥamar-rāḥimīn.
Allahumma bisinni al-ḥasani wa akhīhi wa jaddihi wa abīhi wa ummihi wa banīhi, ikfinī sharra hādhā al-yawmi wa sharra mā fīh, yā kāfiyal-muhimmāt wa yā dāfiʿal-balīyāt, fasayakfīkahumullāh wa huwa as-samīʿu al-ʿalīm, wa ḥasbunallāhu wa niʿmal-wakīl, wa lā ḥawla wa lā quwwata illā billāhi al-ʿaliyyi al-ʿaẓīm.
Allahumma aʿṣimnā min jahdi al-balāʾ, wa daraki ash-shaqāʾ, wa sūʾi al-qaḍāʾ, wa shamātati al-aʿdāʾ, wa mawti al-fujāʾah, wa min sharri as-sām, wal-barsām, wal-ḥummā, wal-baraṣ, wal-judhām, wal-asqām, wa min jamīʿil-amrāḍ, biraḥmatika yā arḥamar-rāḥimīn. Wa ṣallallāhu ʿalā sayyidinā Muḥammad, wa ʿalā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallam.
Artinya:
"Ya Allah, wahai Yang Maha Kuat, wahai Yang Maha Perkasa dalam perhitungan, wahai Yang Maha Mulia, wahai Dzat yang semua makhluk tunduk pada kemuliaan-Mu, lindungilah aku dari keburukan semua makhluk-Mu. Wahai Yang Maha Baik, Maha Indah, Maha Pemurah, Maha Pemberi nikmat, Maha Memuliakan. Wahai yang tiada Tuhan selain Engkau, limpahkan rahmat-Mu kepadaku wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.
Ya Allah, dengan keberkahan Hasan dan saudaranya, kakeknya, ayahnya, ibunya, dan anak-anaknya, lindungilah aku dari keburukan hari ini dan keburukan yang ada di dalamnya. Wahai Yang Maha Mencukupi segala urusan, wahai Yang Maha Menghilangkan bala. Allah akan mencukupimu dari mereka, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Cukuplah Allah bagi kami, sebaik-baik tempat bergantung. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Ya Allah, peliharalah kami dari penderitaan berat, dari kesengsaraan, dari keputusan yang buruk, dari kegembiraan musuh, dari kematian mendadak, serta dari berbagai penyakit dan segala macam musibah. Dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya."
Sholat Rebo Wekasan merupakan salah satu tradisi keagamaan yang masih dijumpai di tengah masyarakat muslim Indonesia, terutama saat memasuki hari Rabu terakhir bulan Safar. Tradisi ini identik dengan sholat sunnah, pembacaan doa, dan permohonan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari berbagai musibah.
