Rebo Wekasan merupakan tradisi yang telah lama dikenal di tengah masyarakat, khususnya di Pulau Jawa, Madura, hingga Sunda. Tradisi ini diperingati setiap hari Rabu terakhir pada bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Biasanya Rebo Wekasan diisi dengan berbagai amalan seperti berdoa, berzikir, membaca Al-Qur'an, bersedekah, hingga melaksanakan sholat sunah. Di balik tradisi tersebut, terdapat beragam pandangan yang berkembang.
Sebagian masyarakat mengaitkan Rebo Wekasan dengan momentum untuk memohon perlindungan dari berbagai musibah, sementara para ulama mengingatkan bahwa muslim tidak boleh meyakini adanya hari atau bulan yang membawa kesialan. Oleh karena itu, seluruh amalan yang dilakukan diniatkan sebagai ibadah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Rebo Wekasan?
Dilansir Nahdlatul Ulama (NU) Online, Rebo Wekasan atau Rabu Wekasan adalah sebutan bagi hari Rabu terakhir pada bulan Safar. Dalam bahasa Jawa, "wekasan" berarti terakhir atau penghujung.
Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun di berbagai daerah di Indonesia. Bentuk pelaksanaannya beragam, mulai dari doa bersama, membaca Al-Qur'an, berzikir, bersedekah, selamatan, silaturahmi, hingga sholat sunah.
Dalam sejumlah literatur klasik disebutkan adanya pendapat beberapa ulama mengenai Rebo Wekasan. Di antaranya Syekh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi yang dikenal melalui kitab Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf'il 'Abid Wa Qam'i Kulli Jabbar 'Anid atau yang lebih dikenal sebagai Mujarrobat Ad-Dairobi.
Pendapat tersebut merupakan hasil kasyafnya sebagai seorang waliyullah dan bukan berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW. Pendapat serupa juga disebutkan dalam kitab Al-Jawahir Al-Khams. Dari sinilah kemudian berkembang tradisi-tradisi tolak bala yang masih dijumpai di tengah masyarakat hingga sekarang.
Pandangan Islam dan Ulama soal Kesialan Bulan Safar
Di tengah berkembangnya tradisi Rebo Wekasan, Islam mengajarkan bahwa tidak ada bulan atau hari tertentu yang membawa kesialan dengan sendirinya. Rasulullah SAW bahkan menolak anggapan yang berkembang pada masa jahiliah bahwa bulan Safar merupakan bulan sial. Rasulullah SAW bersabda:
لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ ولا هَامةَ ولا صَفَرَ وفِرَّ من المَجْذُومِ كما تَفِرُّ من الأَسَد
Artinya: Tidak ada penyakit menular, tidak ada ramalan buruk, tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada sial bulan Safar, dan larilah kamu dari penyakit kusta seperti kamu lari dari singa. (HR Bukhari)
Hadis tersebut menjadi landasan bahwa seorang muslim tidak boleh meyakini bulan Safar sebagai bulan sial. Sebab, segala sesuatu yang terjadi berlangsung atas kehendak Allah SWT.
Imam Abdurrauf al-Munawiy dalam kitab Faidh al-Qadir menjelaskan bahwa amalan yang dilakukan pada Rebo Wekasan diperbolehkan apabila dilandasi niat yang benar.
Artinya, seseorang tidak meyakini bahwa Rabu terakhir Safar merupakan hari sial, melainkan menjadikannya sebagai momentum untuk memperbanyak taubat, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam kitab tersebut.
وَيَجُوْزُ كَوْنُ ذِكْرِ الْأَرْبِعَاءِ نَحْسٌ عَلَى طَرِيْقِ التَّخْوِيْفِ وَالتَّحْذِيْرِ أَيِ احْذَرُوْا ذَلِكَ الْيَوْمَ لِمَا نَزَلَ فِيْهِ مِنَ الْعَذَابِ وَكَانَ فِيْهِ مِنَ الْهَلَاكِ وَجَدِّدُوْا للهِ تَوْبَةً خَوْفًا أَنْ يَلْحَقَكُمْ فِيْهِ بُؤْسٌ كَمَا وَقَعَ لِمَنْ قَبْلَكُمْ
Artinya: Diperbolehkan menyebut hari Rabu sebagai "hari sial" dengan tujuan untuk menakut-nakuti dan memperingatkan. Artinya, waspadalah terhadap hari tersebut karena telah turun azab dan kehancuran di dalamnya. Perbaiki taubat kepada Allah, agar tidak menimpamu petaka seperti yang menimpa orang-orang sebelummu.
Para ulama NU menegaskan sholat khusus Rebo Wekasan tidak memiliki dasar hukum tersendiri. Jika ingin melaksanakan sholat, maka diniatkan sebagai sholat sunah mutlak atau sholat hajat, bukan sholat Rebo Wekasan.
Amalan Rebo Wekasan yang Banyak Diamalkan
Berikut sejumlah amalan yang umum dilakukan masyarakat saat Rebo Wekasan. Amalan ini hendaknya diniatkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, bukan karena meyakini bulan Safar membawa kesialan.
1. Memperbanyak Doa
Salah satu amalan yang paling dianjurkan adalah memperbanyak doa kepada Allah SWT. Dalam tradisi Rebo Wekasan terdapat doa khusus yang biasa dibaca setelah sholat sunah maupun pada malam Rabu terakhir bulan Safar.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللهم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Artinya: Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya. Ya Allah, wahai Yang Maha Kuat lagi Maha Mungkin, wahai Yang Maha Perkasa, segala makhluk tunduk kepada kemuliaan-Mu. Cukupkanlah aku dari segala makhluk-Mu. Wahai Yang Maha Baik, Yang Maha Indah, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pemberi, Yang Maha Mulia, wahai Yang tiada Tuhan selain Engkau, berilah rahmat kepada ku dengan rahmat-Mu. Wahai Yang Maha Pemurah di antara yang pemurah. Ya Allah, dengan rahasia Hasan, saudara kandungnya, kakeknya, ayahnya, ibunya, dan anak-anaknya, cukupkan aku dari kejahatan hari ini dan apa yang turun pada hari ini. Wahai Yang Maha Cukup untuk mengatasi semua urusan, wahai Yang Maha Menjauhkan bencana. Allah akan cukupkan kamu dari mereka, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Dia adalah Pelindung yang terbaik. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya serta sahabat-sahabatnya.
2. Membaca Istighfar
Istighfar menjadi salah satu amalan yang dianjurkan untuk dilakukan saat Rebo Wekasan. Selain sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT, istighfar juga merupakan amalan yang dianjurkan dalam setiap kesempatan. Allah SWT berfirman dalam surat Hud ayat 90 sebagai berikut.
وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَوَدُودٌ
Artinya: Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Mencintai.
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: Barang siapa yang memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (HR Ahmad)
3. Membaca Al-Qur'an
Membaca Al-Qur'an menjadi salah satu amalan yang dianjurkan dalam Islam dan banyak dilakukan oleh sebagian umat Islam saat Rebo Wekasan. Rasulullah SAW bersabda:
من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها لا أقول آلم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف
Artinya: Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur'an), maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam mim itu satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, laam satu huruf, dan mim satu huruf (HR Tirmidzi).
4. Melaksanakan Sholat Sunah
Sebagian masyarakat melaksanakan sholat sunah empat rakaat dua salam atau sholat hajat sebagai bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sholat tersebut hendaknya diniatkan sebagai sholat sunah mutlak atau sholat hajat, bukan sebagai shalat yang memiliki kekhususan syariat pada Rebo Wekasan.
5. Bersedekah dan Mempererat Silaturahmi
Sedekah, berbagi makanan, selamatan, serta mempererat silaturahmi juga menjadi tradisi yang banyak dilakukan masyarakat pada Rebo Wekasan. Amalan-amalan tersebut termasuk ibadah yang dianjurkan dalam Islam selama tidak disertai keyakinan yang bertentangan dengan akidah.
6. Menulis 7 Ayat Salamun
Di sebagian masyarakat Jawa juga dikenal tradisi menulis tujuh ayat yang diawali lafaz "Salamun" sebagaimana dinukil Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayah Az-Zain. Ketujuh ayat tersebut berasal dari berbagai surat berikut.
- Surat Yasin ayat 58
- Surat As-Saffat ayat 79
- Surat As-Saffat ayat 109
- Surat As-Saffat ayat 120
- Surat As-Saffat ayat 130
- Surat Az-Zumar ayat 73
- Surat Al-Qadr ayat 5
Dalam kitab tersebut disebutkan sebagian ulama menganjurkan menulis tujuh ayat tersebut pada wadah, kemudian dilarutkan dengan air untuk diminum sebagai bagian dari tradisi memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Meski demikian, amalan ini merupakan tradisi yang berkembang di kalangan sebagian ulama dan masyarakat. Amalan tersebut bukan amalan yang bersumber dari hadis sahih Nabi Muhammad SAW sehingga tidak boleh diyakini sebagai kewajiban agama.
Rebo Wekasan merupakan tradisi yang telah mengakar di berbagai daerah di Indonesia. Tradisi ini diisi dengan berbagai amalan seperti berdoa, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur'an, sholat sunah, berdzikir, bersedekah, hingga menulis tujuh ayat Salamun.
Terpenting, seluruh amalan tersebut diniatkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, bukan meyakini adanya kesialan pada bulan Safar. Dengan demikian, Rebo Wekasan dapat menjadi momentum untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat taubat, dan memohon perlindungan kepada Allah SWT sesuai tuntunan syariat.
(irb/hil)
