Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmad Pambudy menilai Pelabuhan Paciran di Lamongan memiliki potensi besar berkembang menjadi pelabuhan bertaraf internasional. Namun, potensi tersebut harus didukung dengan penguatan infrastruktur dan konektivitas menuju kawasan pelabuhan.
Hal itu disampaikan Rachmad saat meninjau Pelabuhan Lamongan Integrated Shorebase (LIS) di Kecamatan Paciran, Kamis (30/7/2026). Rachmad mengatakan, sejak menerima paparan dari Bupati Lamongan di Kantor Bappenas beberapa waktu lalu hingga melihat langsung kondisi di lapangan, ia menilai pengembangan kawasan pelabuhan membutuhkan dukungan infrastruktur yang lebih memadai.
"Saya akan membawa hasil kunjungan ini sebagai oleh-oleh ke Jakarta. Banyak hal yang perlu menjadi perhatian agar pengembangan kawasan ini semakin optimal," kata Rachmad.
Menurutnya, keberadaan pelabuhan modern harus diimbangi dengan pelebaran Jalan Daendels, pembangunan akses jalan baru hingga kemungkinan pembangunan jalan tol layang agar distribusi logistik semakin lancar.
Rachmad mengaku semula tidak menyangka Lamongan telah memiliki pelabuhan dengan pengelolaan berstandar internasional. Setelah melihat langsung, ia menilai sistem operasional hingga aspek keamanan pelabuhan telah berjalan dengan baik.
"Saya baru saja mengunjungi salah satu pelabuhan tertua sekaligus terbaik di dunia, yaitu Pelabuhan Hamburg. Namun saya melihat Pelabuhan Paciran juga memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi pelabuhan bertaraf dunia," ujarnya.
Ia bahkan mendorong Pemkan Lamongan dan pengelola pelabuhan mempelajari pengelolaan pelabuhan internasional, termasuk melakukan studi ke Pelabuhan Hamburg di Jerman sebagai referensi pengembangan.
Selain itu, Rachmad juga mengapresiasi keberadaan breakwater atau pemecah gelombang di kawasan pelabuhan yang dinilainya memiliki kualitas tinggi. Kedalaman alur pelabuhan yang mencapai sekitar 13 meter juga dinilai mampu melayani kapal-kapal berukuran besar sehingga berpotensi menjadi salah satu simpul logistik nasional.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menyiapkan rencana perluasan kawasan sejak dini agar pengembangan pelabuhan tidak terhambat oleh pertumbuhan permukiman di sekitarnya.
"Kalau ekosistem kawasan pelabuhan bisa dikembangkan dengan baik, Lamongan akan memiliki model pembangunan daerah berbasis pelabuhan bertaraf internasional yang dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia," pungkasnya.
Direktur PT Lamongan Integrated Shorebase (LIS) Bambang Djoko Sulistiyo mengatakan saat ini pihaknya mengelola kawasan seluas sekitar 160 hektare dengan area konsesi pelabuhan seluas 33,8 hektare selama 72 tahun.
"Saat ini kami mengelola lahan sekitar 160 hektare. Kami juga memiliki konsesi pengelolaan pelabuhan selama 72 tahun dengan luas area sekitar 33,8 hektare," kata Bambang.
Menurutnya, Pelabuhan LIS memiliki kedalaman alur mencapai 13,5 meter sehingga dapat disandari kapal berbobot hingga sekitar 60 ribu ton. Dermaga sepanjang 300 meter yang dimiliki saat ini juga masih memungkinkan diperpanjang hingga 500 meter.
Meski fasilitas pelabuhan terus berkembang, Bambang menilai peningkatan akses jalan menuju kawasan industri tetap menjadi kebutuhan utama.
"Kalau akses jalannya semakin baik, perputaran barang akan semakin cepat. Dampaknya tentu akan dirasakan oleh dunia usaha maupun masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi berharap dukungan pemerintah pusat untuk memperkuat infrastruktur penunjang kawasan industri Paciran yang terintegrasi dengan Pelabuhan LIS.
"Kami melihat secara menyeluruh kondisi di kawasan pelabuhan ini. Dukungan tersebut sangat penting agar kapasitas kawasan industri di Lamongan, khususnya di kawasan industri Paciran, dapat berkembang lebih besar lagi," kata Yuhronur.
Ia optimistis dengan dukungan konektivitas dan infrastruktur yang memadai, kawasan industri Paciran dapat berkembang menjadi pusat investasi baru di Jawa Timur dan menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah.
Simak Video "Video: Komitmen ADHI Karya Jalankan Proyek Sekolah Rakyat agar Tepat Waktu-Mutu"
(auh/abq)