Angin kencang mulai melanda Kebupaten Nganjuk, seiring berlangsungnya musim kemarau. DPRD Nganjuk meminta semua pihak meningkatkan langkah antisipasi dampak angin kencang tersebut.
Wakil Ketua DPRD Nganjuk, Jianto menyampaikan bahwa angin kencang yang terjadi setiap tahunnya tidak boleh dipandang remeh. Langkah-langkah antisipasi harus dilakukan semua pihak, terutama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
"Kita tahu, setiap tahun, angin kencang selalu melanda Nganjuk. Pada musim kemarau, puncaknya di bulan Agustus. Untuk itu kami mengingatkan semua pihak melakukan langkah-langkah antisipasi," terang Jianto, Senin (27/7/2026).
Menurut Jianto, langkah-langkah antisipasi sangat penting dilakukan. Mengingat angin kencang bisa membawa dampak buruk pada sektor pertanian. Tanaman pertanian bisa saja rusak terkena angin kencang tersebut.
"Belum lagi dampak pada penghijauan tepi jalan hingga kesehatan masyarakat. Itu yang perlu kita antisipasi bersama," tambahnya.
Sebelumnya menurut Prakirawan Stasiun Geofisika BMKG Nganjuk, Setiyaris, angin kencang melanda saat musim kemarau berlangsung. Puncaknya akan terjadi saat bulan Agustus.
"Puncaknya saat bulan Agustus dengan kecepatan tertinggi bisa mencapai 40-50 km/jam," ujar Setiyaris, Senin (27/7/2026).
Nganjuk memang dikenal sebagai Kota Angin. Menurut Setiyaris, hal itu karena wilayahnya relatif sering mengalami angin kencang dibandingkan daerah sekitarnya.
"Kondisi ini dipengaruhi oleh letak geografis Nganjuk yang berada di dataran rendah dan diapit oleh Gunung Wilis di bagian selatan, serta kompleks Gunung Arjuno-Welirang di bagian timur," ungkapnya.
Posisi tersebut membentuk koridor alami yang memudahkan aliran massa udara bergerak dan mengalami percepatan saat melintasi wilayah Nganjuk.
"Secara meteorologis, keberadaan pegunungan di kedua sisi wilayah menciptakan efek channeling atau efek corong, yaitu fenomena ketika angin terfokus pada celah antar pegunungan, sehingga kecepatannya meningkat," terang Setiyaris.
Saat terjadi perbedaan tekanan udara antara wilayah utara dan selatan Jawa Timur, aliran udara yang melewati koridor ini dapat menghasilkan hembusan angin yang lebih kuat. Terutama pada musim kemarau ketika angin monsun timur dari Australia bertiup dominan.
"Selain faktor topografi, suhu udara yang relatif tinggi di dataran rendah Nganjuk turut memperkuat pembentukan angin," tambahnya.
Pemanasan permukaan menyebabkan perbedaan tekanan udara yang mendorong pergerakan massa udara dari daerah bertekanan tinggi menuju daerah bertekanan rendah.
"Kombinasi antara efek koridor pegunungan, pola tekanan udara, dan pengaruh angin monsun inilah yang menjadikan Nganjuk memiliki karakteristik angin yang khas dan dikenal luas sebagai Kota Angin," paparnya.
Menurut Setiyaris, embusan angin kencang bisa membawa dampak buruk bagi keselamatan warga, bangunan, dan sektor pertanian. Di area pemukiman, tiupan angin yang ekstrem seringkali merusak atap rumah, merobohkan papan reklame, serta memutus jaringan listrik akibat tiang yang tumbang.
Sementara di jalan raya, risiko pohon tumbang menjadi ancaman besar bagi pengendara, memicu polusi debu yang mengganggu kesehatan saluran pernafasan.
"Di sektor pertanian, angin kencang bisa membuat tanaman pangan seperti jagung roboh sebelum waktunya," tandasnya.
Simak Video "Video: Siap-siap! Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus dan Lebih Kering"
(auh/dpe)