Angin kencang mulai melanda Kebupaten Nganjuk seiring berlangsungnya musim kemarau. Pertanian menjadi salah satu sektor yang patut waspada.
Menurut Prakirawan Stasiun Geofisika BMKG Nganjuk, Setiyaris angin kencang melanda saat musim kemarau berlangsung. Puncaknya akan terjadi saat bulan Agustus.
"Puncaknya saat bulan Agustus dengan kecepatan tertinggi bisa mencapai 40-50 km/jam," ujar Setiyaris, Selasa (28/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nganjuk memang dikenal sebagai Kota Angin. Menurut Setiyaris, hal itu karena wilayahnya relatif sering mengalami angin kencang dibandingkan daerah sekitarnya.
"Kondisi ini dipengaruhi letak geografis Nganjuk yang berada di dataran rendah dan diapit Gunung Wilis di bagian selatan serta kompleks Gunung Arjuno-Welirang di bagian timur," ujarnya.
Posisi itu membentuk koridor alami yang memudahkan aliran massa udara bergerak dan mengalami percepatan saat melintasi wilayah Nganjuk.
"Secara meteorologis, keberadaan pegunungan di kedua sisi wilayah menciptakan efek channeling atau efek corong, yaitu fenomena ketika angin terfokus pada celah antar pegunungan, sehingga kecepatannya meningkat," terang Setiyaris.
Saat terjadi perbedaan tekanan udara antara wilayah utara dan selatan Jawa Timur, aliran udara yang melewati koridor ini dapat menghasilkan hembusan angin yang lebih kuat. Terutama pada musim kemarau ketika angin monsun timur dari Australia bertiup dominan.
"Selain faktor topografi, suhu udara yang relatif tinggi di dataran rendah Nganjuk turut memperkuat pembentukan angin," tambahnya.
Pemanasan permukaan menyebabkan perbedaan tekanan udara yang mendorong pergerakan massa udara dari daerah bertekanan tinggi menuju daerah bertekanan rendah.
"Kombinasi antara efek koridor pegunungan, pola tekanan udara, dan pengaruh angin monsun inilah yang menjadikan Nganjuk memiliki karakteristik angin yang khas dan dikenal luas sebagai Kota Angin," paparnya.
Menurut Setiyaris, embusan angin kencang bisa membawa dampak buruk bagi keselamatan warga, bangunan, dan sektor pertanian. Di area pemukiman, tiupan angin yang ekstrem seringkali merusak atap rumah, merobohkan papan reklame, serta memutus jaringan listrik akibat tiang yang tumbang.
Sementara di jalan raya, risiko pohon tumbang menjadi ancaman besar bagi pengendara, memicu polusi debu yang mengganggu kesehatan saluran pernafasan.
"Di sektor pertanian, angin kencang bisa membuat tanaman pangan seperti jagung roboh sebelum waktunya," tandasnya.
