Angin Muson Timur Menguat di Malang Raya, Begini Wanti-wanti BMKG

Angin Muson Timur Menguat di Malang Raya, Begini Wanti-wanti BMKG

Muhammad Aminudin - detikJatim
Jumat, 24 Jul 2026 09:15 WIB
Ilustrasi angin muson timur dari benua Australia yang sebabkan suhu dingin di Pulau Jawa.
Ilustrasi angin muson timur dari benua Australia yang sebabkan suhu dingin di Pulau Jawa. (Foto: Pixabay/Enrique)
Malang -

Masyarakat di kawasan Malang Raya diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan fenomena cuaca dalam beberapa hari terakhir. Embusan angin yang terasa jauh lebih kencang dari biasanya menjadi penanda utama mulai menguatnya pergerakan angin muson timur di wilayah Jawa Timur.

Prakirawan BMKG Karangploso Linda Fitrotul menjelaskan, fenomena ini terjadi seiring dengan berjalannya periode musim kemarau di mana massa udara dari Benua Australia bergerak menuju Indonesia.

"Beberapa hari terakhir angin terasa lebih kencang karena angin muson timur sedang menguat. Pada periode musim kemarau, massa udara dari Australia bertiup menuju Indonesia dan dapat meningkatkan kecepatan angin di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur," ujar Linda saat dikonfirmasi, Kamis (23/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya faktor muson timur, kondisi atmosfer saat ini juga dipengaruhi oleh dinamika iklim global yang mempertegas karakteristik musim kering tahun ini.

"Kondisi ini perlu diwaspadai karena terdapat potensi pengaruh El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang dapat memperkuat karakteristik musim kemarau. Dampaknya antara lain cuaca cenderung lebih kering, angin lebih kencang, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang rentan," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Sementara menyikapi potensi bahaya lingkungan yang bisa ditimbulkan, pihak BMKG meminta warga untuk tidak mengabaikan keselamatan diri maupun area pemukiman sekitar.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi pohon tumbang, baliho atau atap yang kurang kokoh akibat angin kencang, serta menghindari pembakaran terbuka yang dapat memicu kebakaran selama musim kemarau," imbau Linda.

Sebelumnya, BMKG juga memprediksi fenomena bediding akan terus berlangsung hingga September 2026. Suhu dingin akan mencapai 15 derajat Celsius, bahkan lebih rendah di sejumlah kawasan.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads