Dugaan keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini, belasan siswa SDN Kauman 1 Kota Malang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi hidangan MBG. Buntut kejadian itu, para orang tua sepakat menghentikan sementara konsumsi menu MBG hingga hasil uji laboratorium keluar.
Salah seorang wali murid, Roki (bukan nama sebenarnya), mengaku pertama kali mengetahui dugaan keracunan dari keluhan yang disampaikan anaknya sepulang sekolah.
Menurutnya, gangguan kesehatan mulai dirasakan setelah siswa menyantap menu ayam pada Senin (20/7/2026). Keesokan harinya, menu telur yang dibagikan juga dikeluhkan karena memiliki rasa dan aroma yang tidak biasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak saya bilang waktu menu telur rasanya enggak enak, ada baunya. Terus hari Rabu (22/7/2026) dapat menu ikan, katanya amis dan banyak anak yang enggak makan," kata Roki dikonfirmasi wartawan, Sabtu (25/7/2026).
Pada Rabu malam, kondisi anaknya mulai memburuk. Ia mengalami sakit perut, mual, hingga muntah-muntah. Keesokan harinya tubuh sang anak semakin lemas dan masih mengalami demam.
"Rabu malam perutnya sakit, mual, muntah-muntah. Hari Kamis sudah lemas, sampai sekarang masih panas," bebernya.
Roki kemudian membawa anaknya berobat ke dokter. Hasil pemeriksaan menyebut anaknya mengalami muntah dan berak (muntaber).
Ia juga menyebut, di kelas anaknya terdapat sekitar 12 siswa yang mengalami gejala serupa. Berdasarkan informasi yang diterimanya, sejumlah siswa kelas IV juga mengalami kondisi yang sama sehingga jumlah korban diduga mencapai belasan anak.
"Dari sekolah, di kelas anak saya ada sekitar 12 anak. Adik kelasnya juga ada, kelas 4 separuh. Jadi memang belasan anak," sebutnya.
Roki juga mengaku mendapat informasi bahwa ada beberapa siswa yang kondisinya cukup parah hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.
"Ada juga temannya yang sempat masuk rumah sakit," imbuhnya.
Orang Tua Kompak Tolak MBG Sementara
Pasca kejadian itu, keresahan menyelimuti para wali murid SDN Kauman 1. Mereka sepakat menghentikan sementara konsumsi MBG hingga hasil uji laboratorium resmi diumumkan.
Roki mengatakan keputusan tersebut diambil demi mengutamakan keselamatan anak-anak dan menghindari risiko serupa.
"Kita masih nunggu hasil uji lab dulu. Setelah itu baru koordinasi dengan wali murid lainnya terkait langkah selanjutnya," ungkap Roki.
Ia mengakui masih dihantui rasa trauma sehingga memilih tidak mengizinkan anaknya mengonsumsi menu MBG sebelum penyebab pasti insiden tersebut diketahui.
"Saya pribadi enggak akan makan dulu. Sebelum hasil uji lab benar-benar keluar. Daripada setengah hati," tegas Roki.
Roki juga menyoroti aturan sekolah yang mewajibkan siswa menghabiskan makanan. Menurutnya, kebijakan itu membuat banyak orang tua tidak lagi membawakan bekal dari rumah.
"Kalau dulu kan harus dihabiskan. Kalau enggak habis disuruh bawa pulang. Akhirnya banyak anak enggak dibawakan bekal lagi dari rumah," bebernya.
Ia menduga kualitas makanan mengalami penurunan setelah masa libur sekolah. Namun, ia menegaskan dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui hasil pemeriksaan laboratorium.
"Kalau analisa saya mungkin setelah liburan, entah bumbunya atau penyimpanannya, jadi kurang fresh. Tapi itu masih dugaan, kita tunggu hasil uji lab," tutur Roki.
Roki berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, terutama terkait standar kebersihan, penyimpanan, dan penyajian makanan.
"Harapannya kebersihan benar-benar dijaga. Penyajian makanan harus sesuai standar, dan kalau bisa kantin sekolah juga dilibatkan agar kualitas makanan untuk anak-anak tetap terjamin," pungkas Roki.
Hasil Uji Lab Masih Ditunggu
Sementara, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan Hariadi membenarkan adanya dugaan keracunan tersebut.
Ia mengetahui, setelah pihak sekolah mengirimkan surat ke Dispangtan Kota Malang untuk meminta adanya uji lab atas menu MBG tersebut.
"Pihak sekolah sudah bersurat ke kami agar dilakukan uji laboratorium untuk makanan (MBG) yang disajikan," tegas Slamet dikonfirmasi terpisah.
Sampai saat ini, pihak Dispangtan masih menunggu kepastian hasil uji lab yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang untuk mengetahui penyebab keracunan yang dialami sejumlah siswa SDN Kauman 1 Kota Malang.
"Mohon waktu, masih menunggu konfirmasi dan hasil (uji lab)," tegasnya.
Terpisah, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Malang, drg Muhammad Zamroni mengaku bahwa sampel makanan di menu MBG tersebut telah diambil dan saat ini masih dalam proses uji lab.
"Uji laboratorium, hasilnya akan keluar Senin (27/7/2026) nanti," pungkas Zamroni.
