Keresahan menyelimuti lingkungan SDN Kauman 1 Kota Malang pasca-insiden dugaan keracunan massal yang menimpa belasan siswa usai mengonsumsi hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG). Wali murid pun menolak MBG sampai hasil uji laboratorium resmi dikeluarkan pihak berwenang.
Sikap untuk membentengi anak-anak ini bukan tanpa alasan. Rasa trauma dan cemas masih menghantui para wali murid setelah menyaksikan anak-anak mereka tumbang dengan keluhan mual hingga muntah-muntah hebat.
Salah satu wali murid, Roki (bukan nama sebenarnya) mengungkapkan bahwa keputusan jeda konsumsi MBG ini merupakan kesepakatan moral para orang tua yang memprioritaskan keselamatan anak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihaknya enggan berspekulasi lebih jauh dan memilih bersabar menunggu kepastian medis.
"Kita masih nunggu hasil uji lab dulu. Setelah itu baru koordinasi dengan wali murid lainnya terkait langkah selanjutnya," ungkap Roki kepada wartawan, Sabtu (25/7/2026).
Roki tak menampik ada rasa trauma yang memicu keputusan penolakan sementara ini. Bagi dirinya dan sejumlah wali murid lain, memberi izin anak mengonsumsi menu MBG saat situasi masih simpang siur hanya akan memicu rasa waswas.
"Saya pribadi enggak akan makan dulu. Sebelum hasil uji lab benar-benar keluar. Daripada setengah hati," tegas Roki.
Pengalaman pahit ini bermula sejak awal pekan. Roki menceritakan bahwa anaknya sempat mengeluhkan cita rasa menu MBG berupa olahan telur yang terasa tak wajar pada Selasa (21/7/2026).
Kondisi semakin memburuk pada Rabu (22/7/2026) ketika menu berbahan dasar ikan yang dibagikan tercium aroma amis menyengat dan dinilai tak layak santap.
Namun, aturan sekolah yang mewajibkan makanan itu dihabiskan membuat para siswa terpaksa menelannya.
Aturan wajib habis tersebut rupanya telah mengubah kebiasaan para orang tua dalam menyiapkan bekal dari rumah. Hal ini yang kemudian menjadi sorotan tajam Roki.
"Kalau dulu kan harus dihabiskan. Kalau enggak habis disuruh bawa pulang. Akhirnya banyak anak enggak dibawakan bekal lagi dari rumah," bebernya.
Mengamati perubahan kualitas hidangan, Roki menduga ada penurunan standar pengolahan pasca masa libur sekolah. Kendati demikian, ia menekankan agar semua pihak tetap menunggu pembuktian ilmiah dari tim medis.
"Kalau analisa saya mungkin setelah liburan, entah bumbunya atau penyimpanannya, jadi kurang fresh. Tapi itu masih dugaan, kita tunggu hasil uji lab," tutur Roki.
Belajar dari insiden memprihatinkan ini, Roki mendorong evaluasi total terhadap tata kelola program MBG.
Ia menegaskan pentingnya aspek higienitas dan standarisasi ketat dalam rantai pasok makanan anak sekolah, termasuk peluang memberdayakan ekosistem kantin sekolah setempat.
"Harapannya kebersihan benar-benar dijaga. Penyajian makanan harus sesuai standar, dan kalau bisa kantin sekolah juga dilibatkan agar kualitas makanan untuk anak-anak tetap terjamin," pungkas Roki.
Kasus dugaan keracunan ini telah ditangani oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang yang berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Malang.
Sampel makanan telah dikirim ke laboratorium untuk diteliti, dan hasil resmi diproyeksikan baru keluar pada Senin (27/7/2026) mendatang.
