Dapur MBG Rampal Celaket Malang Tetap Ngebul selama Libur Sekolah

Dapur MBG Rampal Celaket Malang Tetap Ngebul selama Libur Sekolah

Muhammad Aminudin - detikJatim
Selasa, 30 Jun 2026 10:30 WIB
Pegawai SPPG Rampal Celaket maintenance dapur selama libur sekolah
Pegawai SPPG Rampal Celaket maintenance dapur selama libur sekolah/Foto: Istimewa
Malang -

Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berhenti sementara menyusul datangnya libur panjang sekolah. Namun, kondisi tersebut bukan berarti membuat aktivitas di dalam dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sepenuhnya mati suri.

Alih-alih membiarkan fasilitas memasak kosong melompong selama masa jeda, pihak pengelola justru memanfaatkan momentum ini untuk melakukan perawatan besar-besaran (maintenance) secara menyeluruh terhadap seluruh area dapur.

Hal itulah yang dilakukan dapur MBG Rampal Celaket Kota Malang ketika mengisi libur operasional. Distribusi makanan bagi penerima manfaat pun dipastikan rehat hingga 13 Juli 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Yayasan Batik Tulis Celaket Hanan Jalil membawahi dapur MBG Rampal Celaket menjelaskan, penghentian operasional SPPG ini murni hanya berlaku untuk kegiatan produksi makanan, karena menyesuaikan dengan kalender libur sekolah.

ADVERTISEMENT

"Memang diliburkan selama libur sekolah sampai 13 Juli 2026 dan akan kembali beroperasi," kata Hanan saat dikonfirmasi, Selasa (30/6/2026).

Meski proses memasak diliburkan, Hanan memastikan denyut nadi di dapur SPPG tetap berjalan. Dari total 47 relawan yang dimiliki, pihak pengelola memberlakukan sistem kerja bergilir atau shift.

Setiap harinya, ada sekitar 6 hingga 10 relawan yang dijadwalkan masuk untuk merawat ruang kerja mereka, dan hak upah mereka pun dipastikan tetap terbayar.

"Seluruh relawan ada 47 orang. Selama libur sekolah ini kegiatan dapur tetap ada, mereka kami pekerjakan dengan dibayar secara bergantian. Kami sistem shift sehari sekitar enam sampai 10 orang," ujar Hanan.

Menurut Hanan, masa libur panjang seperti ini menjadi waktu yang paling ideal untuk melakukan pembenahan.

Sebab, seluruh peralatan dan infrastruktur dapur bisa diperiksa serta diperbaiki secara maksimal tanpa harus mengganggu ritme produksi makanan harian.

Berbagai pekerjaan fisik kini tengah dikebut oleh para relawan. Mulai dari memperbaiki peralatan memasak yang mulai aus, mengecat ulang dinding bangunan yang mengelupas. Hiingga melapisi kembali lantai dapur menggunakan cairan epoxy agar tetap higienis dan sesuai standar operasional prosedur (SOP) kesehatan.

"Membenahi beberapa yang rusak. Selama sudah dipakai tentu ada alat yang rusak, lantai harus epoxy ulang. Perbaikan cat, beberapa ada yang perlu dicat ulang, kami perbaiki sesuai dengan SOP," tuturnya.

Di sisi lain, bagi para relawan yang sedang tidak mendapatkan jadwal piket perawatan, Hanan tidak mewajibkan mereka untuk stand by di area SPPG. Ia justru memberikan kebebasan, bahkan mendorong para relawan untuk mencari penghasilan tambahan di luar selama masa jeda operasional ini.

Berdasarkan laporan yang ia terima, sebagian besar relawan kini sudah memiliki aktivitas atau pekerjaan sampingan untuk menyambung hidup selama dapur libur memproduksi makanan.

"Saya malah menyarankan seperti itu. Kebanyakan ada yang ngojek, ada yang jadi tukang parkir, ada juga yang buka usaha. Kalau bisa kerja di luar yang lebih banyak gajinya ya monggo," tambahnya.

Hanan menargetkan seluruh proses renovasi dan perawatan intensif ini rampung tepat waktu sebelum pertengahan Juli. Dengan begitu, fasilitas pemenuhan gizi ini bisa kembali melayani masyarakat dengan performa terbaiknya.

"Harapan kami, dapur SPPG dapat kembali beroperasi dalam kondisi prima dan memenuhi standar operasional saat melayani penerima manfaat," pungkas Hanan.




(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads