Operasi pencarian korban tragedi terbaliknya perahu nelayan jenis jurek bernama lambung Inovasi di perairan Pelawangan Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, membuahkan hasil. Memasuki hari kedua pencarian pada Selasa (21/7/2026), Tim SAR gabungan berhasil menemukan satu dari dua Anak Buah Kapal (ABK) yang hilang dalam kondisi meninggal dunia.
Korban teridentifikasi bernama Sutris (34), warga Dusun Tegalsari, Desa Purwoasri, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. Jasad korban berhasil dievakuasi petugas setelah ditemukan mengapung tak jauh dari lokasi musibah.
"Pada pukul 13.40 WIB, Tim SAR Gabungan berhasil menemukan satu korban atas nama Sutris (34) dalam kondisi meninggal dunia," ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banyuwangi, I Made Oka Astawa, Selasa (21/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
I Made Oka menjelaskan, jenazah Sutris terdeteksi pada koordinat 8°36'0.768" LS dan 114°13'30.49" BT, atau berjarak sekitar 0,43 nautical mile dari titik lokasi terbaliknya perahu (heading 326,89°). Usai dievakuasi dari laut, jenazah langsung dilarikan menggunakan ambulans menuju rumah duka di Tegaldlimo untuk diserahkan kepada pihak keluarga.
Pencarian hari kedua yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB tersebut menerjunkan dua kelompok Search and Rescue Unit (SRU). Tim pertama bergerak menyisir permukaan laut menggunakan rubber boat milik Basarnas dengan sokongan perahu nelayan lokal. Sementara tim kedua melakukan penyisiran visual menyusuri sepanjang garis Pantai Grajagan.
Kondisi cuaca yang cerah dengan ketinggian gelombang relatif tenang (0,5 hingga 1 meter) serta kecepatan angin 7-9 km/jam sangat membantu pergerakan tim gabungan di lapangan.
"Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Selanjutnya operasi pencarian akan terus dilaksanakan untuk menemukan satu korban lainnya dengan mengoptimalkan seluruh potensi SAR yang ada, tentunya dengan mengutamakan keselamatan personel di lapangan," tegas Oka.
Penemuan jenazah Sutris menambah daftar korban jiwa dalam kecelakaan maut yang terjadi pada Senin (20/7/2026) dini hari sekitar pukul 04.00 WIB tersebut.
Perahu milik Edi Siswanto yang dinakhodai Mamat itu awalnya membawa total 33 orang ABK. Salah seorang ABK selamat, Nanto (32), menuturkan bahwa petaka datang saat kapal dalam perjalanan pulang dari melaut membawa hasil tangkapan ikan.
Saat melintas di kawasan Pelawangan Grajagan, perahu mendadak terseret arus kuat hingga terombang-ambing. Tak berselang lama, hantaman gelombang susulan yang jauh lebih besar menerjang badan kapal hingga menyebabkan mesin mati total dan perahu kehilangan kendali sebelum akhirnya terbalik.
Seluruh ABK tercebur ke laut mencekam dan berusaha bertahan hidup dengan berenang serta memeluk barang-barang yang mengapung, seperti galon air kosong.
Pada hari pertama kejadian (Senin, 20/7/2026), dua ABK telah lebih dahulu ditemukan tewas mengapung oleh nelayan lain, yakni Purnomo (60) warga Desa Tegaldlimo dan Junairi (46) warga Desa Sarimulyo.
Dengan ditemukannya jenazah Sutris pada pencarian hari kedua ini, kini tersisa satu korban lagi yang masih terus diburu oleh tim gabungan Basarnas, TNI AL, Polairud, BPBD, hingga masyarakat nelayan setempat.
