6.582 Gempa Guncang Pacitan Selama 5 Tahun, BMKG Ingatkan Hal Ini

6.582 Gempa Guncang Pacitan Selama 5 Tahun, BMKG Ingatkan Hal Ini

Purwo Sumodiharjo - detikJatim
Jumat, 17 Jul 2026 20:15 WIB
BMKG menggelar Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) di wilayah Pacitan
BMKG menggelar Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) di wilayah Pacitan. (Foto: Purwo Sumodiharjo/detikJatim)
Pacitan -

Sedikitnya 6.582 guncangan gempa terjadi di Pacitan dalam lima tahun terakhir. Data itu menegaskan bahwa daerah di ujung Barat Daya Jawa Timur itu memiliki ancaman bencana Gempa bumi dan Tsunami cukup tinggi. Oleh karenanya kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan harus terus dibangun agar risiko yang ada dapat ditekan.

"Dari jumlah tersebut di atas 25 kejadian di antaranya dirasakan masyarakat. Ini menunjukkan aktivitas kegempaan di Pacitan sangat tinggi karena posisi Pacitan berhadapan langsung dengan zona subduksi atau megathrust," ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani di Pacitan, Jum'at (17/7/2026).

Faisal juga memaparkan catatan sejarah terkait peristiwa Tsunami yang pernah menerjang wilayah Pacitan. Bencana tersebut terjadi dua kali, masing-masing pada tahun 1840 dan 1859.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara pada 27 September 1937, gempa besar kembali melanda 'Kota 1.001 Gua'. Sedikitnya 2.200 rumah ambruk serta menimbulkan banyak korban jiwa. Rekam jejak kebencanaan itu, lanjut dia, mengharuskan pentingnya budaya sadar bencana melalui edukasi dan pelatihan kepada masyarakat.

"Sejauh ini memang belum ada teknologi yang dapat memprediksi Gempa. Meskipun demikian kesiapsiagaan bisa kita bangun dan kita latih sejak dini," ujarnya di sela kegiatan Sekolah Lapang Gempa bumi dan Tsunami di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo.

ADVERTISEMENT

Untuk diketahui, BMKG menggelar Sekolah Lapang Gempa bumi dan Tsunami (SLG) di wilayah Pacitan. Kegiatan bertajuk 'Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Gempa Bumi dan Tsunami Menuju Indonesia Emas 2045'.

Pelatihan selama sehari itu dimaksudkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana Gempa bumi dan Tsunami. Ratusan peserta dari beragam elemen hadir sebagai peserta.

Faisal menambahkan, penyelenggaraan SLG di Pacitan tahun ini merupakan ketujuh kalinya sejak 2016. Hal tersebut menunjukkan tingginya perhatian pemerintah terhadap Kabupaten Pacitan sebagai salah satu kawasan rawan yang berdampingan dengan potensi bencana.

Kegiatan SLG diharapkan makin melengkapi beragam langkah penguatan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat yang selama ini telah dilaksanakan para pemangku kepentingan terkait.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Pacitan Gagarin Sumrambah menyampaikan bahwa kesiapsiagaan bukan lagi bersifat pilihan. Namun lebih dari itu, merupakan keharusan. Salah satu alasannya karena letak geografis Pacitan berada di bibir selatan Pulau Jawa dan sangat dekat dengan lempeng Indo-Australia.

Belum lagi bentangan sesar aktif yang melintasi kota dengan julukan '70-Mile Sea Paradise'. Dia juga berterima kasih kepada BMKG yang kembali memilih Pacitan sebagai lokasi penyelenggaraan SLG Gempa Bumi dan Tsunami.

"Kita hidup di tanah yang indah namun rapuh. Gempa bumi bukan sekadar catatan sejarah, tetapi kenyataan yang terus kita rasakan. Ditambah dengan keberadaan sesar lokal aktif dan kedekatan dengan zona megathrust, maka kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban," tegas Gagarin.

"Mari kita perkuat pengetahuan, keterampilan, dan respon cepat dalam menghadapi bencana. Dengan semangat gotong royong, kita bangun kolaborasi dari tingkat desa hingga kabupaten agar masyarakat Pacitan semakin tangguh menghadapi ancaman bencana," pungkas putra daerah Kecamatan Ngadirojo.



(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads