Viral di media sosial adanya dugaan pungli kepada para pedagang kaki lima di CFD Taman Bungkul. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi langsung mendatangi lokasi saat CFD pada Minggu (19/7/2026) pagi dan menekankan bahwa tidak ada pedagang yang membayar stan.
Kasus dugaan pungli itu ramai di akun medsos @viralforjusticesub. Di mana menunjukkan adanya perempuan yang diduga menarik pungutan kepada tiap stand pedagang. Kepada detikJatim, tim @viralforjusticesub membagikan sebuah keluhan dari pedagang.
"Kebetulan dulu sempat dapat stan di situ (CFD Taman Bungkul), tapi diperingatkan bahwa kalau mau ikut jualan area situ harus bayar Rp1,5 juta dan tiap datang bayar Rp25 ribu," kata salah satu pedagang CFD, Minggu (19/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wali Kota Eri pun mendatangi CFD Taman Bungkul pagi tadi. Sambil membawa pengeras suara, Eri menekankan bahwa PKL yang berjualan di CFD Taman Bungkul tidak dikenai biaya atau gfatis.
Pemkot Surabaya pun menggandeng kepolisian untuk menelusuri dugaan pungli terhadap pedagang yang sebelumnya ramai di medsos.
"PKL, PKL nang kene iki gratis, nggak onok tarikan-tarikan. Tidak ada yang namanya pedagang-pedagang itu berbayar, karena posisi ini adalah gratis," kata Eri di CFD Taman Bungkul.
Eri mengaku sudah mendatangi rumah pihak yang diduga melakukan penarikan uang bersama aparat kepolisian.
"Kejadian yang kemarin ada tarikan umi-umi (perempuan) itu saya kemarin sudah ke rumahnya dengan polisi, dengan Polda (Jatim) cari orang ini. Tapi ternyata orang ini, umi-umi ini, sudah tidak ada di tempat. Tapi bukan berarti kami berhenti," jelasnya.
Ia memastikan Pemkot Surabaya terus berkoordinasi dengan Direktorat Siber Polda Jawa Timur dan Polrestabes Surabaya untuk menindaklanjuti dugaan pungli tersebut.
"Maka kami bekerja sama terus dengan Siber di Polda, juga di Polres untuk terus mencari. Karena saya tidak mau lagi ada pungutan-pungutan liar di Kota Surabaya," tegasnya.
Dia juga mengimbau pihak yang diduga melakukan penarikan uang kepada PKL di CFD Taman Bungkul agar bersikap kooperatif dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Jadi saya berharap umi-umi, njenengan (anda) di mana saja ayo bertemu. Jadi setelah menarik (iuran) ya harus bisa mempertanggungjawabkan. Saya tidak mau lagi ada uang (tarikan) itu," pungkasnya.
