Wamentan Gandeng FKH untuk Produksi Vaksin Hewan RI

Wamentan Gandeng FKH untuk Produksi Vaksin Hewan RI

Esti Widiyana - detikJatim
Jumat, 21 Nov 2025 21:15 WIB
Wakil menteri pertanian Sudaryono di  Balai Besar Veteriner Farma Pusvetma Surabaya
Wakil menteri pertanian Sudaryono di Balai Besar Veteriner Farma Pusvetma Surabaya Foto: Esti Widiyana/ detikjatim
Surabaya -

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono optimistis Indonesia mampu memproduksi vaksin, serum, dan obat hewan tanpa harus mengandalkan impor. Pemerintah juga menggandeng Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) untuk mendukung pengembangan produk farmasi hewan tersebut.

Hal ini disampaikan Sudaryono usai mengunjungi Balai Besar Veteriner Farma Pusvetma Surabaya, yang selama ini menjadi pusat produksi serum, vaksin, serta obat-obatan untuk mendukung ketahanan kesehatan hewan-baik unggas maupun ternak seperti domba, sapi, dan babi.

Sudaryono yakin bahwa anak bangsa memiliki kemampuan untuk memproduksi vaksin secara mandiri, karena sumber daya manusia hingga fasilitas yang tersedia dinilai sudah memadai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apakah itu antraks, apakah itu flu burung, apakah itu penyakit mulut dan kuku dan lain-lain, kita mampu dan bisa. Secara SDM ada, secara peralatan mampu, ada, bisa. Sehingga ini menambah keyakinan kita bahwa siapa bilang kita tidak mampu dan ternyata kita memang mampu. Bisa," kata Sudaryono kepada wartawan di Pusvetma Surabaya, Jumat (21/11/2025).

Ia menjelaskan, sebagian besar vaksin seperti antraks dan beberapa jenis lainnya dengan kebutuhan produksi tidak terlalu besar, saat ini sudah dapat dipenuhi oleh Pusvetma. Namun untuk vaksin yang menyasar populasi hewan besar seperti unggas, Pusvetma baru mampu memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan nasional.

ADVERTISEMENT

Kementerian Pertanian berencana membangun fasilitas produksi vaksin baru pada tahun 2026. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas produksi sehingga Indonesia dapat memenuhi kebutuhan vaksin tanpa impor.

"Supaya secara mandiri kita bisa produksi betul 100% (vaksin) tanpa harus kita impor. Sekali lagi, secara kemampuan orang SDM-nya mampu dan alatnya ada. Sehingga kita bisa, hanya tinggal kita tambah fasilitas, tambah fasilitas produksinya dan beberapa alat mungkin kita tambahkan supaya jumlah yang diproduksi lebih banyak, sehingga betul-betul secara mandiri negara kita tidak perlu lagi impor beberapa vaksin yang penting untuk hewan kita," jelasnya.

Sudaryono menambahkan, dalam pengembangan vaksin hewan, Kementan juga bekerja sama dengan banyak perguruan tinggi yang memiliki FKH, baik di dalam maupun luar negeri.

"(Menggandeng kampus) FKH, iya dong. Kan ini namanya sains ya. Tentu saja ada kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan dengan banyak kampus ya. Baik di dalam maupun di luar negeri ya tentu saja," ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara tropis dengan banyak virus dan bakteri yang berpotensi menyerang hewan. Kondisi ini dianggap sebagai tantangan sekaligus peluang karena jenis penyakit di negara tropis berbeda dengan negara subtropis.

"Maka tentu saja ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Kementerian Pertanian dalam hal ini PKH Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan untuk secara mandiri bisa memenuhi kebutuhan vaksin, obat-obatan, serum dan segala macamnya dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan supaya peternakan kita, ternak-ternak kita itu betul-betul sehat, produktif, dan tahan terhadap serangan penyakit atau hama," pungkasnya.



(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads