Cuaca dingin ekstrem kembali melanda kawasan Ijen, Bondowoso, dalam beberapa hari terakhir. Fenomena embun upas atau embun beku tampak menyelimuti sejumlah tanaman, terutama pada malam hingga pagi hari.
Fenomena yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai bhun upas itu telah terjadi sekitar dua pekan terakhir. Butiran es tampak menempel di permukaan tanaman dan biasanya terlihat jelas pada pagi hari sebelum sinar matahari bersinar penuh.
Salah seorang warga Ijen, Oky mengatakan, kondisi tersebut merupakan fenomena yang terjadi setiap tahun. Namun, suhu udara pada musim kemarau kali ini terasa lebih dingin dibanding biasanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi semacam ini sebenarnya terjadi setiap tahun. Namun saat tak seperti biasanya, dingin banget," jelas Oky kepada detikJatim, Kamis (16/7/2026).
Menurut Oky, suhu udara di kawasan Ijen dalam beberapa hari terakhir berkisar 1 hingga 3 derajat Celsius. Bahkan, pada waktu tertentu suhu bisa menyentuh 0 derajat Celsius, terutama menjelang subuh.
"Kadang sampai 0 derajat. Terutama saat waktu subuh. Kalau sudah begitu, biasanya disertai embun upas," katanya.
Pria yang bekerja sebagai karyawan perkebunan kopi di kawasan Ijen itu menambahkan, kemunculan embun upas tahun ini terjadi lebih awal dibanding pola biasanya.
"Cuaca kayaknya tahun ini memang kacau. Bulan Juni kemarin saja sudah ada embun upas itu. Padahal biasanya antara bulan Juli hingga Agustus," tandas Ocha.
Fenomena embun upas berdampak terhadap tanaman pertanian, terutama komoditas kubis dan kentang. Embun beku menyebabkan bagian daun hingga akar tanaman mengalami kerusakan.
"Terkena embun salju, daun hingga akar sayuran ini mengkerut. Jadinya rusak," pungkas Oky.
