BMKG Ungkap Penyebab Bromo Bersalju, Dipicu Fenomena Bediding

BMKG Ungkap Penyebab Bromo Bersalju, Dipicu Fenomena Bediding

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Selasa, 09 Jun 2026 10:50 WIB
Gunung Bromo bersalju
Gunung Bromo bersalju/Foto: Istimewa
Surabaya -

Fenomena embun upas atau embun beku yang menyelimuti kawasan Gunung Bromo pada awal musim kemarau 2026 menjadi perhatian wisatawan. Lapisan kristal es berwarna putih yang tampak seperti salju itu disebut merupakan dampak dari fenomena bediding yang umum terjadi saat musim kemarau.

Prakirawan BMKG Juanda Siska Anggraeni menjelaskan, embun upas terbentuk akibat pendinginan radiasi yang sangat kuat pada malam hari saat musim kemarau. Kondisi tersebut diperkuat oleh udara yang kering, langit cerah, ketinggian wilayah, serta masuknya massa udara dingin dari Australia.

"Embun upas merupakan salah satu dampak dari fenomena bediding, yaitu kondisi udara yang terasa lebih dingin dari biasanya pada musim kemarau. Saat bediding kuat, langit cerah, angin lemah, dan udara kering, suhu minimum di kawasan Bromo dapat turun hingga mendekati atau bahkan di bawah titik beku sehingga embun upas terbentuk," kata Siska kepada detikJatim, Selasa (9/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Siska, berdasarkan data Automatic Weather Station (AWS) di kawasan Cemoro Lawang, suhu minimum dalam tiga hari terakhir mencapai 5 derajat Celsius. Sementara di area yang memiliki elevasi lebih tinggi, suhu udara berpotensi lebih rendah lagi.

ADVERTISEMENT

"Berdasarkan data Automatic Weather Station di kawasan Bromo (Cemoro Lawang), dalam tiga hari terakhir suhu minimum mencapai 5 derajat Celsius. Untuk kawasan Bromo yang elevasinya lebih tinggi tentu suhu bisa lebih rendah lagi," jelasnya.

Fenomena embun upas pertama kali pada tahun ini terlihat pada Senin (8/6/2026) pagi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Lapisan es tipis tampak menutupi rerumputan, dedaunan, hingga hamparan lautan pasir di sekitar kaldera Bromo.

Kemunculan embun beku tersebut membuat lanskap Bromo tampak seperti berselimut salju. Fenomena langka itu pun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang sejak dini hari untuk menikmati matahari terbit.

Siska menambahkan, fenomena bediding merupakan kondisi yang lazim terjadi pada musim kemarau di Indonesia, khususnya wilayah dataran tinggi. Kondisi ini muncul akibat dominasi massa udara kering yang menyebabkan pendinginan permukaan bumi berlangsung lebih cepat pada malam hari.

"Perlu diketahui, fenomena bediding merupakan kondisi yang umum terjadi pada musim kemarau akibat dominasi massa udara kering dan pendinginan permukaan bumi pada malam hari. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan terus memantau informasi cuaca dari BMKG," ujarnya.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan selama periode suhu dingin berlangsung. Anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan diminta lebih waspada terhadap perubahan suhu yang cukup ekstrem pada malam hingga pagi hari.

Selain itu, masyarakat disarankan mencukupi kebutuhan cairan tubuh dan mengonsumsi makanan bergizi guna menjaga daya tahan tubuh. Pengendara juga diminta berhati-hati saat berkendara pada pagi hari karena kabut dan udara kabur dapat mengurangi jarak pandang.

Bagi petani di kawasan dataran tinggi, BMKG mengingatkan adanya potensi dampak suhu dingin terhadap tanaman yang sensitif terhadap embun beku sehingga perlu dilakukan langkah antisipasi untuk meminimalkan kerugian.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads