Keluh Pedagang Bakso di Lamongan Saat Harga Daging Sapi Terus Naik

Eko Sudjarwo - detikJatim
Kamis, 16 Jul 2026 11:00 WIB
Pedagang bakso di Lamongan. (Foto: Istimewa)
Lamongan -

Kenaikan harga daging sapi yang terus terjadi di Lamongan mulai dirasakan pelaku usaha kuliner. Pedagang bakso mengaku biaya operasional membengkak, sementara mereka juga dihadapkan pada dilema menaikkan harga jual atau mempertahankan pelanggan.

Salah satu pedagang yang merasakan dampaknya adalah Khoirul, pemilik Bakso Unggulan Cak Suin di Kelurahan Jetis, Kecamatan Lamongan. Menurutnya, lonjakan harga daging membuat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran usahanya terganggu.

"Sangat terdampak sekali. Pendapatan dan pengeluaran menjadi tidak seimbang. Masalahnya, kalau daging naik, harga kebutuhan yang lain-lain juga biasanya ikut naik. Otomatis kami sebagai pedagang kecil, terutama yang membuka warung, jadi bingung," kata Khoirul kepada wartawan, Kamis (16/7/2026).

Meski harga bahan baku terus meningkat, Khoirul mengaku belum mengurangi jumlah produksi bakso. Namun, ia harus lebih cermat mengatur modal usaha karena biaya belanja terus bertambah.

"Kalau mengurangi produksi belum. Yang paling berat itu mengatur keuangan karena modal belanja terus naik," ujarnya.

Khoirul juga harus mengantisipasi keputusan Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lamongan yang menghentikan sementara aktivitas berjualan selama tiga hari. Untuk menjaga pasokan, ia membeli daging lebih banyak sebelum para pedagang menutup lapak.

"Untuk menyiasati libur tiga hari itu, kami sudah menyetok daging untuk kebutuhan tiga hari ke depan. Tapi setelah mereka kembali berjualan nanti harganya berapa, kami belum tahu. Masih menunggu konfirmasi dari penjual daging," tuturnya.

Ia mengatakan harga daging sapi sempat berada di kisaran Rp 125 ribu per kilogram setelah Iduladha. Namun belakangan kembali naik menjadi Rp 130 ribu per kilogram di tingkat pembelian pedagang sebelum pasar diliburkan.

Sebagai pedagang kecil, Khoirul mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti harga yang ditetapkan pedagang besar maupun rumah potong hewan.

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha kuliner berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, kenaikan harga bahan baku terus menggerus keuntungan. Di sisi lain, menaikkan harga jual dinilai berisiko membuat pelanggan beralih ke tempat lain.

"Kami bingung. Mau menaikkan harga jual makanan takut pelanggan keberatan dan akhirnya warung jadi sepi. Tapi kalau tidak dinaikkan, pendapatan kami jelas berkurang dan tidak bisa menutup biaya operasional," keluhnya.

Sebelumnya, Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lamongan memutuskan menghentikan aktivitas berjualan selama tiga hari mulai 15 hingga 17 Juli 2026. Keputusan itu diambil sebagai respons atas kenaikan harga sapi yang terjadi berulang sepanjang tahun ini dan dinilai semakin membebani pedagang maupun konsumen.



Simak Video "Video: Demam Piala Dunia, Pelukis Lamongan Kebanjiran Order Lukisan Messi-Ronaldo"

(auh/abq)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork