Pedagang daging sapi di Lamongan memilih menghentikan sementara aktivitas berjualan. Langkah itu diambil sebagai respons atas kenaikan harga daging sapi yang kembali terjadi dan dinilai semakin membebani pedagang maupun konsumen.
Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lamongan, Bagus Budi Raharjo mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah para pedagang menggelar pertemuan menyusul pengumuman kenaikan harga dari pengepul sapi hidup pada Minggu (12/7/2026). Libur jualan daging sapi ini, ungkap Bagus, akan digelar selama 3 hari demi untuk meredam gejolak harga di pasaran.
"Senin kemarin para pedagang berkumpul atas nama paguyuban untuk berdiskusi mencari jalan keluar. Di tengah kekhawatiran karena banyak pelanggan belum siap dan komplain, kami sepakat libur tiga hari supaya ada ketenangan secara psikologis," kata Bagus kepada wartawan, Kamis (16/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bagus, keputusan meliburkan aktivitas berjualan bukan semata-mata karena pasokan berkurang, tetapi juga untuk meredam gejolak di pasar. Selama ini setiap kali harga daging dinaikkan mengikuti harga dari jagal, banyak pelanggan yang mengeluhkan kenaikan tersebut bahkan membatalkan pembelian.
"Kenaikan sampai lima kali dalam setengah tahun ini baru pertama kali kami alami dalam sekitar 10 tahun terakhir," ujarnya.
Ia menjelaskan, harga daging sapi terus mengalami kenaikan sejak awal tahun. Pada awal 2026, harga karkas di tingkat jagal masih berada di kisaran Rp 110 ribu per kilogram. Namun kini telah mencapai Rp 130 ribu per kilogram, sehingga harga daging di tingkat eceran menembus Rp 140 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogram.
Aksi libur berjualan tersebut diikuti sekitar 18 hingga 19 pedagang yang berasal dari tiga pasar di Kecamatan Lamongan, yakni Pasar Sidoharjo, Pasar Ikan Lamongan, dan Pasar Made. Bagus menyebut lonjakan harga daging berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Pada musim hajatan, pernikahan, hingga Iduladha yang biasanya menjadi periode penjualan tinggi, banyak konsumen justru mengurangi pembelian daging sapi.
"Masyarakat akhirnya memilih menu alternatif yang lebih terjangkau seperti daging ayam, karena selisih harganya sekarang sudah terlalu jauh," ungkapnya.
Akibat menurunnya permintaan, omzet pedagang ikut tergerus. Paguyuban mencatat penurunan pendapatan pedagang berkisar 30 hingga 40 persen dibandingkan saat harga daging masih stabil.
Para pedagang berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk menjaga ketersediaan pasokan sapi dan menstabilkan harga di pasaran. Menurut mereka, stabilitas harga menjadi faktor penting agar pedagang dapat terus berjualan tanpa khawatir kehilangan pelanggan akibat kenaikan harga yang berulang.
