Pedagang Bakso Sowan Jokowi, Sambat Daging Mahal Imbas Dolar Naik

Pedagang Bakso Sowan Jokowi, Sambat Daging Mahal Imbas Dolar Naik

Tara Wahyu NV - detikJateng
Senin, 01 Jun 2026 12:29 WIB
Paguyuban Sahabat Bakso Indonesia menemui Presiden ke-7, Joko Widodo (Jokowi), Senin (1/6/2026)
Paguyuban Sahabat Bakso Indonesia menemui Presiden ke-7, Joko Widodo (Jokowi), Senin (1/6/2026). Foto: Tara Wahyu/detikJateng
Jogja -

Sejumlah perwakilan dari paguyuban Sahabat Bakso Indonesia menemui Presiden ke-7, Joko Widodo (Jokowi). Saat bertemu Jokowi, mereka sambat alias mengeluhkan kondisi ekonomi, salah satunya dipicu oleh lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang membuat harga bahan baku terutama daging meroket.

Ketua Umum Sahabat Bakso Indonesia, Bambang Hariyanto, mengungkapkan bahwa melemahnya rupiah terhadap dolar sangat membebani para pelaku UMKM kuliner tradisional. Apalagi, komoditas utama seperti daging sapi dan gandum untuk bahan baku mi masih bergantung pada skema impor.

"Hari ini dolar sangat menaik, otomatis akan mengganggu, meningkatkan bahan baku kita, pembelanjaan kita. Khususnya kita kan hari ini daging sapi masih impor. (Tadi sambat soal itu?) Betul. Pak Jokowi juga prihatin dengan kondisi perang di geopolitik di Timur Tengah ini," katanya ditemui di kediaman Jokowi, Sumber, Banjarsari, Senin (1/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bambang menjelaskan, kapasitas produksi daging sapi dalam negeri saat ini hanya berkisar 400.000 ton per tahun, sementara kebutuhan konsumsi nasional mencapai 700.000 ton. Defisit 300.000 ton tersebut terpaksa dipenuhi dari impor asal India hingga Australia. Akibat gejolak dolar, harga daging sapi segar yang biasanya stabil kini melonjak drastis hingga menyentuh Rp145.000 per kilogram.

ADVERTISEMENT

"Biasanya harga daging di waktu masa kepemimpinan Pak Jokowi, daging impor itu hanya di angka Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu. Kalau daging segarnya di Rp 125 ribu. Hari ini sudah mencapai Rp145.000 per kilo daging segar. Daging impornya udah Rp 110 ribu sampai Rp 120 ribu," keluhnya.

Situasi ini memaksa para pedagang bakso memutar otak demi bisa bertahan hidup. Menurut Bambang, ada dua siasat yang saat ini diterapkan di lapangan oleh para anggotanya.

Untuk wilayah perkotaan, pedagang cenderung berani menaikkan harga jual berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per porsi. Namun bagi pedagang di area pedesaan atau perkampungan, mereka tidak berani menaikkan harga karena takut ditinggal pelanggan.

"Siasat yang kita dorong buat teman-teman, kita mengukurkan size-nya kita kecilkan, kalau enggak bijinya (jumlah bakso) kita kurangi. Jadi fifty-fifty, ada yang menaikkan harga, ada yang mengurangi ukuran," tutur pria asal Sukoharjo itu.

Bambang menyebut keluhan tersebut, Jokowi sangat prihatin terhadap dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang merembet pada ketidakstabilan ekonomi dalam negeri, termasuk rantai pasok BBM, gandum, dan daging.

Kendati demikian, Jokowi meminta para pedagang bakso dan mi ayam tradisional untuk tidak patah arang dan tetap semangat di tengah gempuran produk makanan asing (Food and Beverage/F&B), terutama dari Cina yang kini jumlahnya mencapai 4.000 produk berdasarkan data BPS.

"Beliau akan memperjuangkan untuk memberikan orang-orang yang bisa memproteksi dengan regulasi. Jangan sampai nanti pembatasan-pembatasan, misalnya kalau untuk makanan F&B ini kan yang dari Cina ini nanti kita batasi untuk melindungi UMKM-UMKM asli Indonesia," pungkas Bambang.




(afn/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads