Tanggul Lumpur Lapindo Titik 10.D Retak-retak, Khawatir Bisa Jebol!

Tanggul Lumpur Lapindo Titik 10.D Retak-retak, Khawatir Bisa Jebol!

Suparno - detikJatim
Senin, 13 Jul 2026 12:15 WIB
Tanggul Lumpur Lapindo Titik 10.D Mulai Pecah-Pecah, Dikhawatirkan Bisa Jebol
Tanggul lumpur Lapindo Titik 10.D mulai retak/Foto: Suparno/detikJatim
Sidoarjo -

Kondisi tanggul penahanan lumpur Lapindo di titik 10.D, Kabupaten Sidoarjo, kembali menjadi sorotan. Tanggul tambahan yang dibangun di atas tanggul utama, kini terlihat mengalami retakan di sejumlah bagian. Sementara itu, aliran lumpur masih mengarah ke sisi barat akibat adanya penurunan tanah (subsidence) di kawasan tersebut.

Pantauan detikJatim di lokasi, Senin (13/7/2026), lebar tanggul tambahan hanya sekitar 45 sentimeter. Permukaannya tampak pecah-pecah diduga akibat material tanah lumpur yang mengering karena terik matahari.

Tanggul tersebut merupakan tanggul tambahan yang dibangun di atas tanggul utama menggunakan material tanah lumpur yang diambil dari kolam penampungan dengan bantuan alat berat ekskavator.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski kondisi permukaan tanggul mulai retak, bibir tanggul dengan permukaan lumpur masih memiliki jarak sekitar 25 hingga 35 sentimeter. Di lokasi juga terlihat tiga unit ekskavator bersiaga, meski belum melakukan aktivitas.

ADVERTISEMENT

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran apabila volume semburan yang didominasi air kembali meningkat, sehingga berpotensi memicu kebocoran seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Pelaksana Perencanaan PPLS, Arif Firmanto mengatakan, volume semburan lumpur saat ini jauh menurun dibandingkan awal terjadinya semburan pada 2006.

"Pada awal semburan tahun 2006 volumenya sekitar 100 ribu sampai 120 ribu meter kubik per hari. Saat ini berkisar antara 27 ribu hingga 32 ribu meter kubik per hari," kata Arif, Senin (13/7/2026).

Menurut Arif, arah aliran lumpur saat ini lebih dominan ke utara dan barat karena adanya fenomena penurunan tanah yang juga terjadi di sejumlah kawasan sekitar, termasuk di jalur rel kereta api yang rutin dilakukan perbaikan.

"Lumpur tidak mengalir seperti air karena mengandung material berat. Arah dominan saat ini ke utara dan barat mendekati jalan raya maupun rel kereta api. Hal itu dipengaruhi adanya penurunan tanah di lokasi," jelasnya.

Untuk mengendalikan volume lumpur di kolam penampungan, PPLS mengoperasikan empat kapal keruk yang bertugas mengalirkan lumpur menuju Kali Porong. Dua kapal keruk ditempatkan di kolam sisi utara dan timur, sedangkan dua unit lainnya berada di Kolam 2 dan Kolam 5 di sisi selatan.

"Fungsi kapal keruk untuk mengalirkan lumpur ke Kali Porong sehingga volume di kolam penampungan dapat dikurangi," ujarnya.

Arif menegaskan, kondisi tanggul saat ini masih dalam kategori aman. PPLS juga telah membuat alur khusus untuk mengendalikan arah aliran lumpur agar tetap masuk ke kolam penampungan.

Ke depan, PPLS bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan melakukan kajian ulang terhadap kapasitas tampungan lumpur serta memperkuat sejumlah titik tanggul yang dinilai memerlukan penanganan tambahan.

"Kondisi saat ini masih aman. Kami akan melakukan kajian ulang kapasitas tampungan dan memperkuat beberapa titik tanggul. Penanganan terus dilakukan secara maksimal oleh Kementerian PUPR bersama PPLS," pungkas Arif.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads