Melihat ke belakang perkembangan seni musik di Pacitan ibarat menelusuri lorong waktu yang panjang dan berkelok. Di tiap sudutnya terdapat catatan tentang keinginan, upaya gigih, serta talenta yang terbalut kesahajaan.
Era 1960-an memang bukan saat mudah bagi masyarakat di ujung Barat Daya Provinsi Jatim ini. Untuk sekadar menikmati musik pun butuh usaha keras, apalagi memainkannya. Ketiadaan akses dan fasilitas menjadi alasan utama.
Segalanya memang serba terbatas, tetapi tidak dengan tekat empat sekawan ini. Mereka adalah Sutopo, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Darmanto, dan Suhardjito. Keempat remaja berusia belasan tahun itu adalah teman sepermainan yang tinggal di Kecamatan Pacitan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi mereka, musik adalah bahasa persahabatan. Saking gandrungnya dengan musik, mereka kerap nge-band dengan instrumen seadanya.
"Awal-awal belajar (bermain) gitar. Pada saat itu memang saya lebih dulu bisa main musik. Kemudian satu kelompok, termasuk Pak SBY itu sering ke rumah saya, hampir tiap hari ke rumah, belajar gitar," ujar Sutopo mengawali perbincangan dengan detikJatim, Minggu (12/7/2026).
Ya, satu-satunya jenis alat musik yang saat itu ada di rumah Sutopo hanyalah gitar. Keempat pemuda saling mengasah keahlian memainkan alat musik petik tersebut. Meski permainan gitar sudah terdengar rancak, ternyata masih ada satu instrumen yang kurang, yakni drum.
Mereka pun menyiasastinya dengan alat musik tabuh mirip genderang atau tambur. Buah dari kekompakan dan serius berlatih, sejumlah lagu berhasil mereka mainkan dengan apik.
Momen peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI tahun 1967 menjadi ajang bagi mereka unjuk kebolehan. Kali pertama tampil di depan penonton, mereka mengusung nama 'Gaya Taruna' untuk band yang baru mereka bentuk.
Tak disangka 'debute' mereka di panggung mendapat sambutan meriah dari penonton. Alunan lagu-lagu karya Koes Bersaudara yang mereka sajikan mampu mengundang riuh tepuk tangan.
"Pertama kali tampil di lapangan, sekarang belakang Gedung Gasibu. Lagu-lagunya ya seperti Dara Manisku, Telaga Sunyi, Senja, dan sebagainya," kenang Sutopo ditemui di teras rumahnya, Jl Dr Sutomo.
Setahun kemudian keempat remaja sama-sama melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTA. Pilihannya adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) 271 (kini SMAN 1 Pacitan) di Jl Letjen Suprapto.
Padatnya waktu belajar di sekolah maupun kegiatan ekstra tak membuat persahabatan mereka renggang. Demikian pula dengan semangat berlatih musik tak mengenal kata surut. Di sela belajar kelompok atau mengerjakan tugas, Sutopo, SBY, Joko Darmanto, dan Suhardjito tetap menyempatkan diri bermain musik.
Tahun 1966 menjadi tonggak penting perjalanan band 'Gaya Taruna'. Kala itu TNI Angkatan Laut (AL) mengadakan kegiatan di Pacitan. Salah satu agendanya adalah pentas musik di Pendopo Kabupaten. Tak ingin melewatkan kesempatan, Topo (sapaan Sutopo) dan kawan-kawan ikut hadir menyaksikan tontonan langka itu.
"Saat itu ya cuma nonton," lanjut Sutopo.
Rupanya kiprah para seniman muda yang tengah naik daun di daerah yang kini memiliki tagline '70-Mile Sea Paradise' telah menjadi buah bibir. Tak terkecuali di kalangan pendidik.
Cerita itu pun akhirnya sampai ke telinga pihak TNI AL melalui Kepala Sekolah SMA 271 kala itu, Sunaryo. Tak disangka, respons pihak TNI AL sangat mengejutkan. TNI AL serta merta menghibahkan seperangkat alat musik yang mereka gunakan bermain kepada pihak sekolah.
"Yang diserahkan saat itu antara lain gitar rhythm, gitar melodi, bass, drum, dan dua unit power amplifier besar," papar Sutopo tentang seperangkat alat musik yang kelak rutin mereka gunakan untuk latihan.
Kala itu komplek SMA 271 belum semegah sekarang. Hanya ada dua bangunan memanjang dan satu Kantor Guru dan Tata Usaha (TU). Bangunannya sangat sederhana dengan dinding terbuat dari bilik bambu.
Karena alasan ketiadaan tempat penyimpanan, seperangkat alat musik tersebut akhirnya dititipkan di rumah Sunaryo di Jl Panglima Sudirman. Sejak itu, lokasi latihan pun pindah ke rumah Sunaryo dengan jadwal rutin tiap malam Minggu.
Mulai saat itu pula band 'Gaya Taruna' memiliki personel tetap. Yaitu Sutopo sebagai pemain gitar melodi, Joko Darmanto gitar rhythm, SBY memainkan bass, sedangkan drum ditabuh oleh Gatot Joko Supeno.
Adapun Suhardjito sebagai pelantun vokal. Dua nama pertama kelak mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) adapun SBY berkarir di militer hingga puncaknya menjabat Presiden RI dua periode.
"Sedangkan Pak Joko Supeno terakhir bekerja di pabrik kertas di Probolinggo, dan Pak Djito (Suhardjito) bekerja sebagai PNS di pemkab sampai pensiun," imbuh Sutopo yang pernah memangku beragam jabatan, mulai camat hingga Ketua DPRD Pacitan.
Selama masa SMA, lanjut Sutopo, formasi band 'Gaya Taruna' kian solid. Sejumlah penyanyi wanita pun kerap tampil mewarnai aksi panggung mereka. Semuanya merupakan siswi SMA 271.
Deretan nama yang beken kala itu di antaranya Yuni Setyaningsih, Siti Rochani, dan Wiwik. Lagu-lagu yang mereka bawakan pun makin beragam. Termasuk sejumlah tembang karya A. Riyanto yang dipopulerkan Tetty Kadi. Dua di antaranya adalah 'Pulau Seribu' dan 'Teringat Selalu' yang masih legendaris hingga kini.
