Gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian di Lebanon menggugah perhatian Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengambil langkah tegas menyikapi situasi yang dinilai semakin berbahaya bagi pasukan penjaga perdamaian.
Pernyataan itu disampaikan SBY melalui akun media sosial X pada Minggu (5/4/2026). Ia mengaku sangat berduka atas gugurnya tiga prajurit TNI yang tengah menjalankan tugas sebagai peacekeeper di Lebanon.
"Ketika saya ikut memberikan penghormatan kepada jenasah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon, hati saya ikut tergetar," ucap SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SBY menyebut, pengorbanan prajurit TNI merupakan bentuk dedikasi tertinggi demi negara. Ia juga merasakan duka mendalam yang dialami keluarga para korban.
Selain itu, SBY menyatakan dukungannya terhadap langkah Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta PBB melakukan investigasi serius atas insiden tersebut. Ia menilai investigasi tetap harus dilakukan meski situasi di lapangan sangat dinamis.
"Saya tahu bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis sering tidak mudah. Tetapi, bagaimanapun tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative)," ucap SBY.
"Saya pernah mengemban tugas PBB di Bosnia (former Yugoslavia) tahun 1995-1996. Dengan pangkat Brigadir Jenderal, saya menjadi Kepala Pengamat Militer PBB. Investigasi terhadap pelanggaran gencatan senjata juga sering kami lakukan," imbuhnya.
SBY kemudian menyoroti kondisi di lapangan yang dinilai sudah tidak sesuai dengan mandat awal misi penjaga perdamaian. Ia menjelaskan bahwa peacekeeper pada dasarnya tidak dipersenjatai untuk pertempuran dan bertugas di wilayah aman.
Namun, situasi saat ini dinilai berbeda. Pasukan penjaga perdamaian justru berada di wilayah konflik aktif antara Israel dan Hizbullah.
"Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar 'Blue Line' kini sudah berada di 'war zone', yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah. Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari 'Blue Line'," ucap SBY.
Menurut SBY, kondisi tersebut sangat berisiko bagi keselamatan prajurit TNI yang bertugas sebagai peacekeeper.
"Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini," jelasnya.
Ia juga mendorong Dewan Keamanan PBB segera bersidang dan mengeluarkan resolusi tegas. SBY mengingatkan bahwa PBB harus bersikap adil tanpa standar ganda.
"PBB tidak boleh pilih kasih dan menggunakan standar ganda. Sebagaimana yang dilakukan Presiden Prabowo, secara pribadi, saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Libanon ini," katanya.
SBY turut mengisahkan peran Indonesia dalam misi perdamaian PBB di Lebanon yang sudah berlangsung sejak 2006. Hingga kini, kontingen Garuda telah berkali-kali ditugaskan sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian.
Sebagai penutup, SBY memberikan pesan kepada prajurit TNI yang masih bertugas di Lebanon agar tetap menjalankan tugas dengan baik dan menjaga keselamatan diri.
"Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Libanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air," katanya.
Berita ini sudah tayang di detikNews, baca berita selengkapnya di sini!
(irb/hil)
