Bertahun-tahun Tanpa Identitas, 6 Anak PMI Akhirnya Pulang ke Gresik

Bertahun-tahun Tanpa Identitas, 6 Anak PMI Akhirnya Pulang ke Gresik

Jemmi Purwodianto - detikJatim
Sabtu, 11 Jul 2026 11:00 WIB
Tak Punya Status WN, 6 Anak PMI Dijemput Pemkab Gresik agar Bisa Sekolah
Tak punya status WN, 6 anak PMI dijemput Pemkab Gresik agar bisa sekolah/Foto: Jemmi Purwodianto/detikcom
Gresik -

Pemerintah Gresik memulangkan sejumlah anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berada di Malaysia. Terbaru, total ada enam anak dari warga Gresik yang berada di Negeri Jiran, kini dipulangkan karena tidak memiliki status kewarganegaraan.

Setelah bertahun-tahun hidup tanpa identitas dan jauh dari bangku sekolah, enam anak dari keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI) akhirnya menginjakkan kaki di Gresik, Jumat (10/7/2026).

Senyum mereka merekah saat disambut keluarga serta jajaran Pemerintah Kabupaten Gresik di Rumah Pendopo Kabupaten Gresik. Kepulangan mereka menjadi awal untuk memperoleh hak kewarganegaraan dan pendidikan yang selama ini sulit dijangkau selama tinggal di Malaysia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seluruh anak tersebut dipulangkan karena belum memiliki status kewarganegaraan yang jelas. Wajah-wajah sumringah tampak dari para bocah yang baru tiba.

ADVERTISEMENT

Di balik tawa dan rasa haru keluarga yang menyambut, tersimpan kisah panjang tentang anak-anak yang selama ini hidup tanpa identitas dan belum pernah merasakan bangku sekolah formal.

Salah satunya adalah IAA (8), anak keturunan PMI warga Desa Delegan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik. Selama di Malaysia, ia tinggal bersama kakeknya yang telah lanjut usia, sementara ayahnya bekerja di perkebunan sawit dan ibunya telah berpisah dengan sang ayah.

"Setiap ayahnya bekerja, IAA ditinggal di kamar sendirian. Kakeknya juga sudah tua," ujar Sujai, paman IAA, di Pendopo, Rumah Dinas Bupati Gresik, Jumat (10/7/2026).

Sujai menambahkan, selama ini IAA belum pernah mendapat pendidikan formal. Hanya saja, IAA belajar mengaji di sebuah sanggar yang tak jauh dari lokasi tempat tinggal kakeknya. Sujai pun bersyukur karena ada program dari Pemerintah Kabupaten Gresik.

"Alhamdulillah ada program dari Pak Bupati ini. Seumur hidup baru kali ini saya bertemu langsung dengan keponakan saya. Selama ini hanya lewat panggilan video," kata Sujai.

Ia berharap, program tersebut terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak anak keturunan Gresik yang belum memperoleh pendidikan akibat ketiadaan identitas di negeri jiran.

"Semoga anak-anak PMI yang seperti keponakan saya bisa pulang ke Kabupaten Gresik," tuturnya.

Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, enam anak PMI yang berhasil ia pulangkan, rata-rata masih berusia pelajar. Mulai dari berusia 7 tahun, 9 tahun hingga 17.

"Artinya, artinya ketika anak tersebut di usia 9 tahun yang seharusnya dia sudah melewati sekolah SD kelas 2 atau kelas 3, bisa jadi nanti kita ikutkan kejar paket kalau ketika melewati usianya," kata Bupati Fandi Akhmad Yani.

Pria yang akrab dipanggil Gus Yani itu menambahkan, pihaknya juga sedang memberikan kesempatan pada anak yang memasuki usia tepat. Agar anak tersebut bisa melanjutkan sekolah formal di sekolah negeri di Kabupaten Gresik.

"Bisa jadi sekolah madrasah atau pondok pesantren, tergantung keluarga atau keinginan anak tersebut di Kabupaten Gresik. Tapi pemerintah sudah mempersiapkan semuanya," tuturnya.

Selain pendidikan, lanjut Gus Yani, Pemerintah Gresik juga akan memberikan hak anak-anak sebagai warga Negara Indonesia. Mulai identitas, jaminan kesehatan dan jaminan lainnya.

"Kita harap dengan program ini banyak anak-anak dari PMI bisa mendapatkan haknya sebagai anak-anak Indonesia yang menjadi generasi penerus bangsa," pungkasnya.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads