Rajungan Gresik Tembus Pasar AS, Gus Yani: Industri Pengolahan Strategis

Rajungan Gresik Tembus Pasar AS, Gus Yani: Industri Pengolahan Strategis

Jemmi Purwodianto - detikJatim
Senin, 29 Jun 2026 21:13 WIB
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama Wakil Menteri Transmigrasi RI Viva Yoga Mauladi melepas langsung ekspor rajungan
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama Wakil Menteri Transmigrasi RI Viva Yoga Mauladi melepas langsung ekspor rajungan (Foto: Dok. Istimewa)
Gresik -

Produk rajungan olahan di Gresik sukses menembus pasar internasional. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama Wakil Menteri Transmigrasi RI Viva Yoga Mauladi melepas langsung ekspor rajungan tujuan Amerika Serikat di CV Kudatama Mas, Kawasan Industri Gresik (KIG), Senin (29/6/2026).

Pelepasan ekspor tersebut menjadi bukti peran strategis Gresik sebagai pusat industri pengolahan yang mampu menghubungkan potensi sumber daya dari berbagai daerah dengan pasar global. Selain dari Gresik, komoditas rajungan yang diekspor dari kawasan transmigrasi itu juga berasa dari Sorong, Maluku, Maluku Utara, Kabupaten Pasangkayu, serta wilayah pesisir Lamongan.

Dalam kesempatan itu, Gus Yani menilai kerja sama antara kawasan transmigrasi dan industri pengolahan di Gresik membuka peluang hilirisasi berbagai komoditas unggulan lainnya. Menurutnya, keberhasilan ekspor rajungan dapat menjadi model pengembangan produk bernilai tambah dari daerah-daerah transmigrasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan posisi Gresik sangat strategis karena memiliki infrastruktur dan industri pengolahan yang telah berkembang. Kondisi tersebut memungkinkan berbagai komoditas unggulan dari daerah lain diolah di Gresik sebelum dipasarkan ke tingkat nasional maupun internasional.

ADVERTISEMENT

"Posisi Gresik sangat strategis karena memiliki industri pengolahan yang sudah berkembang. Hari ini rajungan menjadi contoh sukses. Ke depan bukan tidak mungkin komoditas lain seperti kakao maupun kopra dari kawasan transmigrasi juga dapat diolah di Gresik. Kami berharap dukungan Kementerian Transmigrasi terus diperkuat agar semakin banyak produk unggulan kawasan transmigrasi yang memiliki nilai tambah melalui industri di Gresik," kata Gus Yani.

Dalam sambutannya, Gus Yani menyebut ekspor rajungan menjadi kabar positif di tengah tantangan ekonomi global. Ia berharap volume ekspor yang saat ini masih satu kontainer dapat terus meningkat pada masa mendatang.

"Di tengah situasi ekonomi global yang penuh tantangan, kita patut bersyukur karena produk unggulan daerah, termasuk dari kawasan transmigrasi, mampu menembus pasar dunia. Hari ini kita melepas satu kontainer. Mudah-mudahan ke depan jumlahnya terus meningkat menjadi lima kontainer atau bahkan lebih," ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan industri rajungan ditopang oleh ketersediaan bahan baku dari kawasan pesisir dan transmigrasi, serta kualitas sumber daya manusia yang menjadi tulang punggung proses produksi.

"Nilai utama industri ini bukan teknologi yang tinggi, melainkan keterampilan tenaga kerjanya. Karena itu kualitas sumber daya manusia harus terus ditingkatkan," imbuhnya.

Sebagai bentuk dukungan, Pemkab Gresik membuka peluang kolaborasi dengan dunia usaha melalui program pendidikan dan pelatihan vokasi bagi tenaga kerja industri.

Sementara itu, Wakil Menteri Transmigrasi RI Viva Yoga Mauladi mengatakan kawasan transmigrasi kini tidak hanya dikenal sebagai sentra produksi pangan, tetapi juga mampu menghasilkan komoditas perikanan yang berdaya saing di pasar internasional.

"Rajungan menjadi salah satu produk unggulan kawasan transmigrasi. Bahan bakunya berasal dari Sorong, Maluku, Maluku Utara, Pasangkayu, hingga kawasan pesisir Gresik dan Lamongan. Melalui kemitraan dengan Aruna, hasil tangkapan nelayan dapat masuk ke pasar ekspor dan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat," katanya.

Menurut Viva Yoga, pembangunan kawasan transmigrasi saat ini diarahkan pada pengembangan potensi ekonomi lokal melalui hilirisasi produk unggulan. Langkah tersebut sejalan dengan misi pemerintah dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia mengungkapkan permintaan rajungan dari Amerika Serikat masih sangat tinggi. Saat ini ekspor dilakukan secara rutin dua kali setiap bulan dengan volume sekitar 16 ton per kontainer dan nilai mencapai Rp14 miliar hingga Rp15 miliar.

"Industri ini bukan hanya menghasilkan devisa, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan yang luas. Kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak agar semakin banyak nelayan di kawasan transmigrasi yang memperoleh manfaat dari rantai nilai ekspor ini," ujarnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads