Kondisi tanggul penahan lumpur Lapindo di titik 10D, Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo, dinilai semakin kritis. Permukaan air bercampur lumpur kini hanya berjarak sekitar 20 sentimeter dari bibir tanggul yang baru ditinggikan.
Pantauan di lokasi menunjukkan permukaan air lumpur hampir menyentuh bibir tanggul. Sementara itu, tanggul baru terlihat dalam kondisi kering dan mengalami retakan di sejumlah titik, sehingga dikhawatirkan rentan mengalami kebocoran.
Salah seorang petugas PPLS di lokasi mengatakan, peningkatan debit air dan lumpur terjadi karena aliran semburan saat ini lebih banyak mengarah ke utara. Kondisi tersebut menyebabkan permukaan lumpur di area tanggul sisi utara terus mengalami kenaikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Debit air dan lumpur sekarang mengarah ke utara. Akibatnya, permukaan di tanggul sebelah utara naik, bahkan tadi pagi sempat terjadi kebocoran," ujar petugas yang enggan disebutkan namanya.
Pemandu wisata Lumpur Lapindo, Sastro mengatakan, peningkatan volume air dan lumpur sudah terjadi selama empat hari terakhir. Menurutnya, setiap hari permukaan lumpur terus bertambah.
"Kalau tanggul tidak ditinggikan, kemungkinan air dan lumpur sudah meluber. Peninggian tanggul dilakukan menggunakan material tanah lumpur yang diambil dari sekitar tanggul," kata Sastro.
Ia menduga tanggul penahan lumpur di titik 10D hingga titik 71 mengalami penurunan tanah. Akibatnya, aliran air dan lumpur kini bergerak ke arah barat dan utara.
Hal tersebut dibenarkan oleh Perencanaan dan Pelaksana PPLS, Arif Firmanto. Menurutnya, telah terjadi penurunan tanah di kawasan tanggul titik 10D sehingga memengaruhi arah aliran lumpur.
"Memang terjadi penurunan tanah di titik 10D. Karena itu air dan lumpur bergerak ke arah barat mendekati rel kereta api serta mengarah ke utara," kata Arif.
Ia menjelaskan, meski volume semburan lumpur saat ini sudah jauh menurun dibanding awal bencana, kondisi tetap harus diwaspadai. Pada awal semburan tahun 2006, volume lumpur mencapai sekitar 100.000 hingga 120.000 meter kubik per hari. Kini debitnya berkisar antara 27.000 hingga 32.000 meter kubik per hari.
Menurut Arif, karakter lumpur yang mengandung material berat membuat alirannya tidak seperti air. Saat ini arah dominan aliran lumpur bergerak ke utara dan barat, mendekati rel kereta api serta Jalan Raya Porong, sehingga pemantauan dan penguatan tanggul terus dilakukan untuk mengantisipasi risiko luapan.
