Ada Dugaan Doxing yang Bikin Dosen Unair Tertekan Usai Bersaksi di MK

Ada Dugaan Doxing yang Bikin Dosen Unair Tertekan Usai Bersaksi di MK

Esti Widiyana - detikJatim
Kamis, 09 Jul 2026 11:01 WIB
Dosen Universitas Airlangga (Unair) Cenuk Widiayastrisna Sayekti.
Dosen Universitas Airlangga (Unair) Cenuk Widiayastrisna Sayekti. (Foto: Istimewa/dok. MKRI)
Surabaya -

Serikat Pekerja Kampus (SPK) mengungkap adanya dugaan tindak penyebaran informasi pribadi atau doxing di ruang digital yang memicu dampak serius terhadap Cenuk Widiayastrisna Sayekti, dosen tetap non-ASN Unair yang menyampaikan kesaksian di MK soal gaji pokok yang minim. Cenuk disebut mengalami tekanan psikologis.

SPK mengecam keras aksi mantan Rektor Universitas Airlangga (Unair), Prof M Nasih yang mengunggah rincian data finansial milik Cenuk Widiayastrisna Sayekti ke media sosial. Tindakan tidak etis tersebut diduga sengaja dilakukan demi mengintimidasi sekaligus menyudutkan kesaksian Cenuk dalam sidang judicial review UU Guru dan Dosen di MK.

Meskipun unggahan sepihak itu kini telah dihapus oleh Prof M Nasih, dampaknya telanjur meluas. SPK menilai langkah mantan rektor itu sangat janggal mengingat yang bersangkutan tidak memiliki wewenang struktural langsung terhadap korban.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Prof Nasih ini saya tidak tahu kaitannya dengan Ibu Cenuk. Atasannya juga bukan, Ketua Prodinya juga bukan. Artinya, itu yang membuat membuat kami menyimpulkan bahwa ini adalah bentuk doxing gitu ya," ucap Kepala Departemen Komunikasi SPK, Isman Rahmani Yusron.

Akibat tereksposnya data slip pendapatan itu, Cenuk menjadi sasaran empuk perundungan netizen (cyberbullying). Publik yang tidak memahami utuh konteks gugatan hukum di MK mulai melayangkan komentar liar dan menuduh Cenuk memalsukan fakta persidangan. Imbasnya, kondisi mental dan psikologis Cenuk terguncang secara mendalam.

ADVERTISEMENT

"Sebetulnya tekanan-tekanan tersebut berupa seperti komentar-komentar, lalu kemudian juga yang Bu Cenuk sendiri tahu siapa-siapa yang melakukannya yang berkomentar hal tersebut. Hal itu yang membuat beliau juga merasa ini sebuah tekanan," beber Isman.

Karena tekanan psikologis yang begitu berat, Cenuk terpaksa menarik diri sepenuhnya dari ruang publik. Ia kini memilih 'tiarap' dari media sosial guna menjaga kesehatan mentalnya, sekaligus mengalihkan semua alur komunikasi dan pintu klarifikasi perkara kepada serikat pekerja.

"Secara secara psikologis beliau mungkin sedang tiarap lah ya, mohon maaf. Maksudnya itu sedang membatasi diri untuk tidak berinteraksi secara langsung di media sosial atas berbagai komentar yang muncul, yang mungkin beliau tidak bisa kendalikan juga. Pokoknya Serikat Pekerja Kampus berupaya untuk menguatkan beliau untuk tidak terintikomidasi oleh hal-hal tersebut," urai Isman.

"Yang bersangkutan saat ini banyak tekanan-tekanan dari informasi yang beredar di luar yang memang tidak secara langsung mengkonfirmasi beliau. Lalu beliau menyerahkan pintu informasinya melalui Serikat Pekerja Kampus, melalui saya dari Departemen Komunikasi, sehingga informasi-informasi yang berkaitan dengan itu, kami tanyakan secara langsung dan kami verifikasi terhadap Bu Cenuk sendiri," jelasnya.

Untuk meluruskan manipulasi data gaji Rp9,2 juta yang sempat disebarkan netizen demi menyudutkan korban, SPK menegaskan bahwa nominal itu bukanlah gaji pokok. Angka itu total akumulasi dari berbagai insentif tidak tetap yang sifatnya fluktuatif setiap bulan. Sedangkan, apa yang disampaikan Cenuk di MK murni mengacu pada nominal gaji pokok.

"Dan itu juga sebetulnya adalah salah satu bentuk pengakuan daripada Universitas Airlangga, karena gaji pokok yang didapatkan itu memang tidak sesuai, tidak sebesar itu. Karena sisanya itu bergantung dengan insentif-insentif, bergantung dengan tunjangan-tunjangan yang di mana itu bersifat tidak tetap. Sehingga akan fluktuatif," tutur Isman.

"Kalau (gaji pokok) yang terakhir ini hanya mendapatkan yang sesuai dengan di kesaksian di Mahkamah Konstitusi," terangnya.

Pihak SPK pun menjamin bahwa Cenuk mengantongi semua bukti otentik seperti dokumen slip gaji dan mutasi transfer bank yang sah untuk membantah segala tuduhan kebohongan pasca-aksi doxing tersebut. Di tengah situasi yang sulit ini, gelombang solidaritas berupa dukungan moral yang solid juga terus mengalir dari rekan sesama dosen di Unair demi menguatkan kondisi psikologis Cenuk.

"Yang disampaikan berupa documentation seperti slip gaji dan hal-hal yang berkaitan dengan bukti transfer misalnya, kita sampaikan ke MK. Dikatakan berbohong, berbohong dari sisi mananya? Kalau lah memang begitu ya tinggal disampaikan apa yang dibohongkan. Kalau misalkan yang beliau dapatkan jauh lebih besar daripada gaji pokoknya, ya tentu, karena apa yang di sini dalam konteksnya adalah gaji pokok yang didapatkan gitu ya. Jadi yang menjadi data juga seperti itu," tegas Isman.

"Dosen-dosen di Unair juga memberikan banyak dukungan yang didapatkan kepada beliau, menguatkan beliau. Jadi hal itu yang memang mungkin bisa dipahami secara psikologis, ketika misalkan di media sosial yang cukup liar, kemudian beberapa diketahui siapa oleh Bu Cenuk tentunya itu menjadi tekanan sendiri secara psikologis," katanya.



(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads