Jawa Timur tidak hanya dikenal memiliki gunung-gunung megah dengan panorama alam yang memukau. Sejak berabad-abad lalu, sejumlah gunung di wilayah ini juga dipercaya memiliki nilai spiritual yang tinggi dan dianggap sakral oleh masyarakat maupun kerajaan-kerajaan besar Nusantara.
Menariknya, kesakralan gunung-gunung tersebut bukan sekadar cerita rakyat. Beberapa di antaranya memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Kediri, Singasari, hingga Majapahit.
Bahkan hingga sekarang, tradisi ziarah, ritual adat, dan berbagai kepercayaan masih terus hidup di kawasan gunung-gunung tersebut. Lalu, gunung apa saja yang dianggap sakral di Jawa Timur dan bagaimana sejarahnya? Berikut ulasan lengkapnya.
Mengapa Gunung Dianggap Sakral dalam Tradisi Jawa?
Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, gunung dipandang sebagai tempat bersemayam para dewa dan menjadi penghubung antara dunia manusia dengan alam spiritual. Konsep ini dipengaruhi oleh ajaran Hindu yang mengenal Gunung Meru sebagai pusat alam semesta.
Karena itu, banyak kerajaan di Jawa Timur menjadikan gunung sebagai orientasi pembangunan wilayah. Istana, kompleks permukiman, hingga bangunan suci seperti candi umumnya dibangun dengan memperhatikan posisi gunung yang dianggap sakral.
Menurut berbagai catatan sejarah dan arkeologi, Kerajaan Kediri, Singasari, hingga Majapahit memanfaatkan keberadaan gunung sebagai titik acuan dalam tata ruang kerajaan. Tidak heran jika hingga kini beberapa gunung masih dipandang memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi oleh masyarakat.
Gunung-Gunung Sakral Jawa Timur
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut deretan gunung yang terkenal sakal di Jawa Timur:
1. Gunung Lawu
Meski berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, Gunung Lawu menjadi salah satu gunung yang paling sering dikaitkan dengan tradisi spiritual masyarakat Jawa.
Gunung dengan ketinggian 3.256 meter di atas permukaan laut ini memiliki hubungan kuat dengan masa-masa akhir Kerajaan Majapahit. Hal itu terlihat dari keberadaan Candi Sukuh dan Candi Cetho yang berada di lerengnya. Kedua candi tersebut diyakini dibangun menjelang runtuhnya Majapahit dan hingga kini masih menjadi lokasi ritual.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, Lawu juga dikenal sebagai lokasi yang banyak dikunjungi untuk melakukan laku spiritual, terutama menjelang malam 1 Suro. Beberapa tempat di kawasan gunung ini dipercaya memiliki nilai kesakralan tersendiri dan kerap menjadi tujuan peziarah.
Di sisi lain, Gunung Lawu juga sempat menjadi perbincangan karena munculnya berbagai isu mengenai prediksi erupsi. Namun sejumlah pihak, termasuk komunitas kebumian dan pengamat geologi, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang tidak memiliki dasar ilmiah.
2. Gunung Kawi
Nama Gunung Kawi tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Pesarean Gunung Kawi yang telah lama menjadi tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah.
Gunung yang berada di wilayah Kabupaten Malang dan berbatasan dengan Kabupaten Blitar ini merupakan gunung api tua yang tidak memiliki catatan letusan historis. Kawasan ini terkenal karena menjadi tempat dimakamkannya Kanjeng Kyai Zakaria II atau Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Soedjono.
Mengacu pada informasi Pemerintah Kabupaten Malang, kedua tokoh tersebut dikenal sebagai bangsawan yang memiliki keterkaitan dengan perjuangan pada masa Perang Jawa dan kemudian berperan dalam penyebaran Islam di wilayah Jawa Timur.
Keberadaan makam kedua tokoh tersebut membuat kawasan Gunung Kawi berkembang menjadi pusat ziarah yang ramai dikunjungi, terutama pada malam Jumat Legi, bulan Suro, maupun peringatan hari-hari tertentu dalam kalender Jawa.
Selain aspek sejarah, Gunung Kawi juga dikenal melalui berbagai cerita rakyat dan mitos yang berkembang di masyarakat. Salah satunya berkaitan dengan Pohon Dewandaru yang dipercaya sebagian peziarah sebagai simbol keberuntungan. Meski demikian, kepercayaan tersebut merupakan bagian dari tradisi budaya masyarakat dan tidak memiliki dasar ilmiah.
3. Gunung Semeru, Mahameru yang Dianggap Paling Suci
Jika berbicara mengenai gunung sakral di Jawa Timur, nama Gunung Semeru hampir selalu berada di urutan pertama.
Gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan memiliki posisi istimewa dalam tradisi masyarakat Tengger serta umat Hindu.
Dalam naskah kuno Tantu Panggelaran, Gunung Semeru disebut sebagai perwujudan Gunung Mahameru yang dipindahkan oleh para dewa ke Pulau Jawa untuk menyeimbangkan daratan. Kisah tersebut kemudian menjadi salah satu dasar mengapa Semeru dianggap sebagai gunung suci.
Hingga sekarang, sejumlah ritual adat dan keagamaan masih dilaksanakan oleh masyarakat Tengger sebagai bentuk penghormatan terhadap gunung tersebut.
Kesakralan Gunung Semeru juga melekat pada sejumlah lokasi di sekitarnya, salah satunya Ranu Kumbolo. Danau yang berada di ketinggian sekitar 2.400 mdpl ini dikenal sebagai titik peristirahatan favorit para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju Mahameru.
Di kalangan masyarakat setempat berkembang berbagai cerita rakyat mengenai penjaga danau serta larangan-larangan tertentu saat berada di kawasan tersebut. Terlepas dari unsur mitos yang berkembang, aturan untuk menjaga kebersihan dan tidak merusak lingkungan memiliki tujuan yang sangat penting, yakni menjaga kelestarian sumber air dan ekosistem pegunungan.
Karena itu, para pendaki selalu diimbau untuk menghormati adat setempat sekaligus menjaga lingkungan selama berada di kawasan Semeru.
Gunung-gunung yang dianggap sakral di Jawa Timur menyimpan lebih dari sekadar keindahan alam. Di balik setiap puncaknya terdapat sejarah kerajaan, tradisi budaya, kisah spiritual, hingga warisan nilai-nilai yang masih dijaga masyarakat hingga saat ini.
Simak Video "Nikmati Sensasi Shower Alam di Goa Bidadari, Lumajang"
(irb/hil)