Gunung Semeru dikenal sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa, sekaligus salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Namun, di balik pesona puncak Mahameru, hamparan Ranu Kumbolo, dan jalur pendakiannya yang menantang, Semeru juga menyimpan banyak kisah yang hidup turun-temurun di tengah masyarakat.
Mulai dari wejangan Mbah Dipo yang dipercaya mampu membaca tanda-tanda alam, mitos ikan mas penjaga Ranu Kumbolo, hingga legenda Tanjakan Cinta yang konon bisa mengabulkan kisah asmara.
Cerita-cerita tersebut telah menjadi bagian dari budaya lisan masyarakat sekitar. Sebagian orang mempercayainya, sementara yang lain menganggapnya sebagai warisan tradisi yang menambah daya tarik Gunung Semeru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa Gunung Semeru Dianggap Sakral?
Gunung Semeru berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur. Gunung Semeru memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Bagi masyarakat Tengger dan sebagian umat Hindu, Semeru bukan sekadar gunung. Dalam tradisi Hindu Jawa kuno, Gunung Semeru diyakini sebagai perwujudan Gunung Meru, gunung suci yang menjadi pusat alam semesta.
Kepercayaan ini bahkan tertulis dalam naskah kuno Tantu Panggelaran yang mengisahkan para dewa memindahkan Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa untuk menyeimbangkan pulau tersebut. Karena itulah, Semeru kerap dianggap sebagai tempat suci dan sakral.
Mitos-mitos Gunung Semeru
Selain aktivitas vulkaniknya yang masih terus terjadi, Gunung Semeru juga menyimpan sisi lain yang tak kalah menarik, yakni berbagai mitos dan cerita mistis yang telah hidup selama puluhan bahkan ratusan tahun. Lantas, mitos apa saja yang paling terkenal tentang Gunung Semeru? Berikut ulasannya dirangkum detikTravel.
1. Wejangan Mbah Dipo
Salah satu tokoh yang paling lekat dengan Gunung Semeru adalah Mbah Dipo, mantan juru kunci atau kuncen Semeru yang wafat pada 2005. Masyarakat sekitar mempercayai bahwa Mbah Dipo memiliki kedekatan spiritual dengan Semeru. Berbagai wejangan yang pernah disampaikannya masih diingat hingga sekarang.
Salah satu pesan yang paling terkenal adalah anjuran agar warga berlari ke arah aliran sungai jika Semeru menunjukkan tanda-tanda erupsi, bukan menuju Gunung Sawur. Pesan tersebut terus diwariskan dan menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat setempat.
2. Ranu Kumbolo dan Ikan Mas Penjaga Danau
Ranu Kumbolo merupakan danau yang berada di ketinggian sekitar 2.400 mdpl dan menjadi tempat favorit pendaki untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak Mahameru. Selain terkenal karena keindahannya, Ranu Kumbolo juga menyimpan sejumlah cerita mistis.
Salah satu yang paling populer adalah keberadaan ikan mas yang diyakini sebagai jelmaan sosok perempuan cantik beserta para dayangnya yang menjaga danau. Mitos ini telah lama beredar di kalangan masyarakat sekitar maupun para pendaki.
Karena kepercayaan tersebut, pendaki kerap diingatkan untuk menjaga sikap selama berada di Ranu Kumbolo. Mereka juga dilarang membuang sampah, mencuci, mandi, atau memancing di kawasan danau. Masyarakat setempat meyakini bahwa perilaku yang tidak sopan dapat mengganggu kesakralan tempat tersebut.
Di luar unsur mitos, larangan-larangan itu juga memiliki alasan yang lebih rasional. Ranu Kumbolo merupakan sumber air penting bagi pendaki dan ekosistem di kawasan Gunung Semeru, sehingga kebersihan dan kelestariannya harus dijaga.
Selain itu, sebagian masyarakat juga menganggap air danau ini memiliki nilai spiritual dan digunakan dalam sejumlah ritual adat, sehingga pendaki dianjurkan untuk tetap menghormati aturan serta etika selama berada di lokasi.
3. Tanjakan Cinta
Tak jauh dari Ranu Kumbolo terdapat jalur menanjak yang dikenal sebagai Tanjakan Cinta. Mitos paling terkenal menyebutkan bahwa siapa pun yang berhasil melewati tanjakan ini tanpa menoleh ke belakang akan memperoleh cinta sejati, atau keinginannya dalam urusan asmara akan terkabul.
Cerita tersebut telah lama beredar di kalangan pendaki dan semakin populer setelah kawasan Semeru diangkat dalam novel serta film "5 CM". Hingga kini, banyak pendaki yang mencoba mengikuti mitos tersebut sekadar untuk seru-seruan, atau menjadikannya simbol harapan dalam perjalanan hidup.
Namun, ada pula penjelasan yang lebih rasional. Sebagian pendaki meyakini larangan menoleh ke belakang sebenarnya bertujuan menjaga keseimbangan tubuh saat melewati jalur yang menanjak dan cukup padat, sehingga risiko tergelincir dapat diminimalkan.
Baca juga: 7 Fakta Menarik Gunung Semeru |
4. Kawasan Kelik yang Dianggap Angker
Di jalur pendakian Semeru terdapat kawasan bernama Kelik yang dikenal sebagai lokasi pemakaman beberapa pendaki yang meninggal dunia di gunung tersebut. Salah satu nama yang paling dikenal adalah aktivis dan pencinta alam Soe Hok Gie, yang wafat akibat menghirup gas beracun di Semeru pada 1969.
Keberadaan makam para pendaki membuat kawasan ini sering dikaitkan dengan cerita mistis. Ada kisah tentang pendaki yang mendengar suara aneh, melihat penampakan, atau mengalami kesurupan.
Meski tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, cerita-cerita tersebut membuat para pendaki diingatkan untuk selalu menjaga etika, tidak berkata kasar, dan menghormati alam selama berada di Gunung Semeru.
5. Gunung Semeru adalah "Bapak" Gunung Agung
Mitos lain yang cukup populer adalah anggapan bahwa Gunung Semeru merupakan "bapak" dari Gunung Agung di Bali. Kepercayaan ini berakar dari ajaran Hindu dan kisah dalam naskah kuno yang menyebut Gunung Mahameru dipindahkan ke Pulau Jawa dan menjadi pusat kesucian.
Karena itu, sebagian masyarakat Hindu di Bali maupun Jawa memandang Semeru sebagai gunung suci. Secara berkala juga digelar upacara adat dan ritual keagamaan yang berkaitan dengan penghormatan terhadap Semeru.
Sebagian besar mitos Gunung Semeru merupakan bagian dari budaya lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ada yang mempercayainya sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, ada pula yang menganggapnya sebagai cerita rakyat yang memperkaya pengalaman mendaki.
Terlepas dari benar atau tidaknya, mitos-mitos tersebut menunjukkan bahwa Gunung Semeru bukan hanya bentang alam yang indah, tetapi ruang budaya yang menyimpan sejarah, tradisi, dan nilai-nilai yang masih hidup hingga sekarang. Apakah kamu pernah mendengar atau mengalami sendiri kisah-kisah tersebut?
(irb/hil)
