Malam 1 Suro sering dikaitkan dengan berbagai tradisi Jawa, mulai dari tirakatan, kirab pusaka, hingga beragam pantangan yang diwariskan secara turun-temurun. Namun bagi umat Islam, malam 1 Suro sejatinya bertepatan dengan datangnya 1 Muharram, yaitu awal tahun dalam kalender Hijriah yang memiliki makna spiritual tersendiri.
Karena itu, dibandingkan sibuk memikirkan mitos atau larangan yang berkembang di masyarakat, banyak ulama menganjurkan umat Islam untuk menjadikan malam 1 Suro sebagai momentum mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mulai dari berdoa, berzikir, membaca Al-Qur'an, hingga melakukan muhasabah menjadi amalan yang dapat mengisi pergantian tahun dengan hal-hal yang lebih bermanfaat.
Malam 1 Suro dan 1 Muharram, Apa Hubungannya?
Dalam penanggalan Jawa, 1 Suro merupakan hari pertama dalam tahun baru Jawa. Sementara dalam kalender Islam, waktu tersebut bertepatan dengan 1 Muharram, yaitu bulan pertama dalam kalender Hijriah.
Karena kalender Jawa yang digunakan masyarakat Jawa Islam memiliki keterkaitan dengan kalender Hijriah, pergantian tahun Jawa dan tahun Islam sering terjadi pada waktu yang bersamaan. Itulah sebabnya malam 1 Suro memiliki posisi yang istimewa, baik dalam tradisi budaya maupun dalam kehidupan keagamaan umat Islam.
Meski demikian, Islam tidak mengenal ritual khusus yang wajib dilakukan pada malam 1 Muharram. Yang dianjurkan adalah memperbanyak ibadah dan amal saleh sebagai bentuk syukur atas datangnya tahun baru Hijriah.
Mengapa Muharram Menjadi Bulan yang Istimewa?
Sebelum membahas amalan yang dianjurkan, penting untuk memahami kedudukan bulan Muharram dalam Islam.
Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan mulia yang disebut dalam Al-Qur'an. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak kebaikan dan menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan.
Karena menjadi pintu pembuka tahun Hijriah, bulan Muharram juga sering dijadikan momentum untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal ibadah, dan menyusun niat menjadi pribadi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Amalan yang Dianjurkan Islam Saat Malam 1 Suro
Ada beberapa amalan yang dianjurkan dijalankan saat malam 1 Suro, yakni:
Membaca Doa Akhir Tahun
Salah satu amalan yang populer dilakukan menjelang pergantian tahun Hijriah adalah membaca doa akhir tahun.
Dalam buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun, Ustadz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid menjelaskan, doa ini dibaca pada akhir bulan Dzulhijjah sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah atas kesalahan yang telah dilakukan selama setahun terakhir.
Makna utama doa akhir tahun bukan sekadar membaca rangkaian kalimat tertentu, melainkan mengakui kekurangan diri dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan.
Berikut ini adalah bacaan doa akhir tahun, dikutip dari buku Doa & Zikir Sepanjang Tahun oleh H Hamdan Hamedan MA.
اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتَبْ مِنْهُ وَحَلَمْتَ فِيهَا عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَانَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْتَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيمُ.
Allāhumma mā 'amiltu min 'amalin fī hādhihis-sanati mā nahaytanī 'anhu wa lam atub minhu wa ḥalamta fīhā 'alayya bifaḍlika ba'da qudratika 'alā 'uqūbatī wa da'awtani ilā at-tawbati min ba'di jur'ātī 'alā ma'ṣīatika fa innī astaghfirtuka faghfir lī wa mā 'amiltu fīhā mimā tarḍā wa wa'adtanī 'alayhi ath-thawāba fa as'aluka an tataqabbala minnī wa lā taqṭa' rajā'ī minka yā karīm.
Artinya:
"Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah."
Membaca Doa Awal Tahun
Setelah memasuki malam 1 Muharram atau malam 1 Suro, umat Islam juga banyak yang membaca doa awal tahun.
Dalam buku Doa dan Zikir Sepanjang Tahun karya H. Hamdan Hamedan MA dijelaskan bahwa doa ini berisi permohonan perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai godaan setan serta harapan agar tahun yang baru dipenuhi keberkahan.
Doa awal tahun biasanya dibaca setelah Maghrib sebagai simbol dimulainya lembaran kehidupan yang baru.
Masih dikutip dari buku Doa & Zikir Sepanjang Tahun oleh H Hamdan Hamedan MA, berikut ini bacaan doanya:
اللَّهُمَّ أَنتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيمِ وَكَرِيمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ. وَهَذَا عَامُ جَدِيدٌ قَدْ أَقْبَلَ أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ وَالعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَارَةِ بِالسُّوْءِ وَالاسْتِغَالَ بِمَا يُقَرِينِي إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Allaahumma antal abadiyyul qadiimul awwal. Wa 'alaa fadhlikal 'azhiimi wa kariimi juudikal mu'awwal. Wa haadza 'aamun jadiidun qad aqbala. As-alukal 'ishmata fiihi minas- syaithaani wa auliyaa-ih, wal 'auna 'alaa haadzihin nafsil ammaarati bis-suu-i, wal isytighaala bimaa yuqarribunii ilaika zulfaa yaa dzal jalaali wal ikraam.
Artinya:
"Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada- Mu dari bujukan iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan."
Baca juga: Apakah 1 Muharram Sama dengan 1 Suro? |
Memperbanyak Membaca Al-Qur'an
Amalan berikutnya yang sangat dianjurkan adalah membaca Al-Qur'an.
Tidak ada dalil khusus yang mewajibkan bacaan tertentu pada malam 1 Muharram. Namun, membaca Al-Qur'an tetap menjadi salah satu ibadah terbaik yang dapat dilakukan kapan saja, termasuk saat memasuki tahun baru Hijriah.
Selain mendatangkan pahala, membaca Al-Qur'an juga menjadi sarana untuk menenangkan hati dan memperkuat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Menghidupkan Malam dengan zikir
Berzikir menjadi amalan sederhana yang dapat dilakukan oleh siapa saja.
Tasbih, tahmid, takbir, tahlil, maupun istighfar merupakan bentuk zikir yang dianjurkan untuk memperbanyak ingatan kepada Allah SWT. Di tengah suasana malam 1 Suro yang identik dengan refleksi diri, zikir dapat membantu menumbuhkan ketenangan batin sekaligus memperkuat kesadaran spiritual.
Melaksanakan Sholat Sunnah
Malam 1 Muharram juga bisa diisi dengan berbagai ibadah sunnah.
Beberapa ibadah yang umum dilakukan umat Islam antara lain sholat tahajud, sholat hajat, sholat taubat, dan berbagai sholat sunnah lainnya yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Yang perlu dipahami, sebagian amalan sholat dengan jumlah rakaat atau bacaan tertentu yang sering beredar di masyarakat perlu diteliti kembali dasar hadisnya. Karena itu, umat Islam dianjurkan merujuk kepada ulama dan sumber terpercaya ketika ingin mengamalkan ibadah tertentu.
Memperbanyak Istighfar dan Bertaubat
Pergantian tahun sering menjadi momen evaluasi diri. Karena itu, memperbanyak istighfar dan taubat menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai pribadi yang banyak beristighfar meskipun beliau merupakan manusia yang dijaga dari dosa.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
"Demi Allah, sungguh aku selalu beristighfar dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari."
Hadis ini menunjukkan pentingnya taubat sebagai amalan harian, termasuk saat memasuki tahun baru Hijriah.
Melakukan Muhasabah atau Evaluasi Diri
Muhasabah menjadi salah satu amalan yang paling relevan dilakukan saat malam 1 Suro.
Muhasabah berarti melakukan evaluasi terhadap perjalanan hidup, amal ibadah, hubungan dengan sesama manusia, hingga target perbaikan diri pada masa mendatang.
Pergantian tahun bukan hanya soal bertambahnya angka dalam kalender, tetapi juga kesempatan untuk melihat sejauh mana seseorang berkembang secara spiritual dan moral. Karena itu, banyak ulama memandang muhasabah sebagai salah satu amalan yang paling bermakna saat memasuki tahun baru Islam.
Makna Sebenarnya Malam 1 Suro dalam Islam
Jika ditarik benang merahnya, Islam tidak mengajarkan malam 1 Suro sebagai malam yang harus ditakuti.
Sebaliknya, datangnya 1 Muharram menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan dan setiap manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena itu, fokus utama umat Islam bukan pada mitos atau pantangan tertentu, melainkan pada peningkatan kualitas ibadah dan hubungan dengan Allah SWT.
Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk menata kembali niat, memperbanyak amal saleh, serta memohon keberkahan untuk perjalanan hidup di tahun yang baru.
Malam 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram merupakan momen istimewa bagi umat Islam untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Berbagai amalan seperti membaca doa akhir dan awal tahun, memperbanyak Al-Qur'an, berzikir, melaksanakan sholat sunnah, bertaubat, hingga melakukan muhasabah dapat menjadi cara mengisi pergantian tahun dengan kegiatan yang lebih bermakna.
Di tengah beragam tradisi yang berkembang di masyarakat, esensi utama malam 1 Suro dalam Islam tetaplah sama, yaitu menjadikannya sebagai momentum refleksi, perbaikan diri, dan awal yang lebih baik untuk menjalani tahun yang baru.
Simak Video "Isi Momen Tahun Baru Islam, Polisi Berbagi Kaum Disabilitas"
(ihc/hil)