- Apakah 1 Muharram Sama dengan 1 Suro?
- Mengapa 1 Muharram dan 1 Suro Tahun 2026 Berbeda?
- Sejarah Kalender Jawa yang Membuat Suro Berkaitan dengan Muharram
- Mengapa Bulan Pertama Kalender Jawa Disebut Suro?
- Apakah Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Jawa Sama?
- Apa Perbedaan 1 Muharram dan 1 Suro?
- Mengapa Malam 1 Suro Dianggap Sakral?
- Nama-nama Bulan dalam Kalender Jawa dan Kalender Hijriah
Setiap memasuki Tahun Baru Islam, banyak masyarakat Jawa mengaitkannya dengan datangnya malam 1 Suro. Karena itu, tidak sedikit yang menganggap 1 Muharram dan 1 Suro selalu jatuh pada hari yang sama.
Namun, anggapan tersebut tidak selalu tepat. Secara sejarah, bulan Suro memang memiliki hubungan erat dengan Muharram.
Akan tetapi, dalam praktik penanggalan saat ini, awal Muharram dan awal Suro tidak selalu bertepatan pada tanggal Masehi yang sama. Pada 2026 misalnya, keduanya tercatat berbeda satu hari. Lantas, mengapa hal itu bisa terjadi?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah 1 Muharram Sama dengan 1 Suro?
Secara historis, bulan Suro dalam kalender Jawa merupakan padanan dari bulan Muharram dalam kalender Hijriah. Keduanya sama-sama menempati urutan pertama dalam sistem penanggalan masing-masing, dan memiliki hubungan erat sejak reformasi kalender Jawa pada masa Kesultanan Mataram.
Reformasi kalender dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 1633 Masehi. Saat itu, sistem penanggalan Jawa yang sebelumnya mengikuti Kalender Saka dipadukan dengan sistem lunar atau peredaran bulan yang digunakan dalam kalender Hijriah.
Karena hubungan sejarah tersebut, banyak masyarakat menganggap 1 Muharram dan 1 Suro merupakan hari yang sama. Padahal, yang lebih tepat adalah keduanya sama-sama menandai awal tahun dalam kalender Islam dan kalender Jawa, tetapi tidak selalu jatuh pada tanggal Masehi yang sama.
Mengapa 1 Muharram dan 1 Suro Tahun 2026 Berbeda?
Perbedaan inilah yang banyak memunculkan pertanyaan di masyarakat menjelang Tahun Baru Islam 2026. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama RI, 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada 16 Juni 2026. Sementara itu, 1 Suro 1959 Jawa jatuh pada 17 Juni 2026.
Perbedaan tersebut terjadi karena sistem penanggalan yang digunakan tidak sepenuhnya sama. Kalender Hijriah yang digunakan pemerintah mengacu pada kriteria dan metode hisab yang telah disepakati dalam penyusunan kalender nasional.
Sementara kalender Jawa memiliki sistem perhitungan tersendiri yang dalam perkembangannya digunakan oleh berbagai komunitas dan tradisi penanggalan Jawa. Karena itu, meskipun Suro dan Muharram memiliki hubungan historis yang erat, awal bulannya tidak selalu bertepatan pada tanggal Masehi yang sama.
Sejarah Kalender Jawa yang Membuat Suro Berkaitan dengan Muharram
Untuk memahami hubungan keduanya, perlu melihat sejarah lahirnya kalender Jawa modern. Sebelum abad ke-17, masyarakat Jawa menggunakan Kalender Saka yang berasal dari tradisi Hindu-Buddha dan berbasis peredaran matahari.
Menurut berbagai catatan sejarah Kesultanan Mataram, sistem tersebut kemudian direformasi oleh Sultan Agung pada 1633 M. Sultan Agung mempertahankan penomoran tahun Jawa yang sudah dikenal masyarakat, tetapi mengubah sistem perhitungannya mengikuti kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan.
Kebijakan tersebut bertujuan menyatukan masyarakat Jawa yang saat itu semakin banyak memeluk Islam tanpa harus meninggalkan tradisi penanggalan yang telah lama digunakan. Dari perpaduan itulah lahir kalender Jawa Islam yang menjadi dasar penanggalan Jawa hingga sekarang.
Mengapa Bulan Pertama Kalender Jawa Disebut Suro?
Nama Suro diyakini berasal dari kata Arab "Asyura", yaitu hari ke-10 bulan Muharram yang memiliki keutamaan dalam tradisi Islam. Berbagai unsur Islam mengalami proses adaptasi budaya ketika berkembang di tanah Jawa. Salah satunya terlihat pada penggunaan istilah Suro yang diyakini berasal dari kata Asyura.
Seiring berjalannya waktu, istilah tersebut tidak lagi hanya digunakan untuk menyebut hari Asyura, tetapi berkembang menjadi nama bulan pertama dalam kalender Jawa. Karena itulah masyarakat Jawa lebih akrab menyebut Bulan Suro dibanding Muharram, meskipun keduanya memiliki keterkaitan sejarah.
Apakah Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Jawa Sama?
Meski sering dianggap sama, Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Jawa sebenarnya memiliki latar belakang yang berbeda. Menurut Kementerian Agama RI, Tahun Baru Islam menandai dimulainya tahun baru dalam kalender Hijriah, yang perhitungannya berawal dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Sementara itu, Tahun Baru Jawa merupakan bagian dari sistem penanggalan Jawa yang berkembang melalui perpaduan budaya lokal dan pengaruh Islam sejak masa Sultan Agung. Karena itu, keduanya memang sama-sama menjadi penanda pergantian tahun, tetapi memiliki makna sejarah dan tradisi yang berbeda.
Apa Perbedaan 1 Muharram dan 1 Suro?
Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Bulan ini memiliki kedudukan istimewa dan menjadi awal tahun dalam kalender Hijriah.
Suro berkembang sebagai bagian dari budaya Jawa. Di berbagai daerah, bulan ini sering diisi dengan tradisi kirab pusaka, tirakat, doa bersama, hingga berbagai ritual adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Muharram lebih menekankan nilai religius dan sejarah Islam. Sementara itu, Suro berkembang sebagai momentum refleksi diri yang dipadukan dengan nilai budaya dan filosofi kehidupan masyarakat Jawa.
Mengapa Malam 1 Suro Dianggap Sakral?
Kesakralan malam 1 Suro tidak terlepas dari tradisi budaya Jawa yang berkembang selama berabad-abad. Menurut berbagai kajian budaya Jawa, malam pergantian tahun dipandang sebagai waktu yang tepat untuk melakukan perenungan, introspeksi diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Oleh karena itu, banyak masyarakat mengisi malam 1 Suro dengan doa, tirakat, zikir, maupun mengikuti kegiatan budaya yang diselenggarakan keraton dan komunitas adat.
Pandangan tersebut lebih banyak berasal dari tradisi budaya Jawa daripada ajaran khusus dalam Islam. Meski demikian, nilai yang ditekankan umumnya tetap berkaitan dengan refleksi diri dan harapan memasuki tahun yang baru.
Nama-nama Bulan dalam Kalender Jawa dan Kalender Hijriah
Sejumlah nama bulan dalam kalender Jawa merupakan adaptasi dari nama bulan dalam kalender Hijriah yang telah mengalami penyesuaian pelafalan sesuai budaya dan bahasa Jawa. Berikut daftar bulan dalam kalender Jawa beserta padanannya dalam kalender Hijriah:
- Suro = Muharram
- Sapar = Safar
- Mulud = Rabiul Awal
- Bakda Mulud = Rabiul Akhir
- Jumadilawal = Jumadil Awal
- Jumadilakhir = Jumadil Akhir
- Rejeb = Rajab
- Ruwah = Syaban
- Pasa = Ramadan
- Sawal = Syawal
- Dulkangidah = Zulkaidah
- Besar = Zulhijah
Suro dan Muharram memiliki hubungan yang sangat erat karena sama-sama menjadi bulan pertama dalam sistem penanggalan yang berkembang dari perpaduan budaya Jawa dan pengaruh Islam sejak masa Sultan Agung.
Namun, keduanya tidak selalu jatuh pada tanggal Masehi yang sama. Pada 2026 misalnya, 1 Muharram dan 1 Suro tercatat berbeda satu hari karena adanya perbedaan sistem penanggalan yang digunakan. Meski demikian, keduanya tetap menjadi simbol pergantian tahun yang sarat makna dalam tradisi Islam dan Jawa.
(irb/hil)
