Puluhan umat Buddha di Tulungagung menggelar Atthami Puja sebagai ritual penutup perayaan Tri Suci Waisak. Ritual ini untuk mengenang kremasi Sang Buddha.
Atthami Puja yang digelar di pelataran Candi Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, berlangsung hikmat. Puluhan umat dari Vihara Buddha Loka Tulungagung, Vihara Ngunut dan Vihara Selorejo tampak mengikuti seluruh rangkaian upacara.
Pembina Kerohanian Vihara Buddha Loka Tulungagung, Pandita Sugianto, mengatakan Atthami Puja diperingati pada hari ke delapan setelah bulan purnama pada bulan Vaisakha atau tepat 8 hari setelah Hari Raya Waisak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini untuk mengenang peristiwa sakral persembahan api atau kremasi jasad Sang Buddha Gautama setelah mencapai Parinirvana atau wafat," kata Sugianto, Minggu (7/6/2026).
Umat Buddha Tulungagung mengikuti Atthami Puja sebagai ritual penutup perayaan Tri Suci Waisak (Foto: Adhar Muttaqin/ detikjatim) |
Ritual yang diawali dengan mengelilingi Candi Sanggrahan ini dipimpin langsung oleh seorang samanera atau calon biksu. Umat juga mendapatkan pencerahan rohani. Pada akhir ritual, samanera memercikkan air paritta kepada umat hang hadir.
"Kami memilih Candi Sanggrahan ini karena memiliki sejarah penting, menjadi persemayaman jenazah Gayatri sebelum dikremasi di Candi Dadi," jelasnya.
Rangkaian Atthami Puja menjadi refleksi bagi umat Buddha untuk senantiasa mengenang serta terus menjalankan ajaran Sang Buddha.
Selain itu, rangkaian ini juga menjadi momen pengingat jika seluruh umat memiliki sifat ketidakkekalan, sehebat dan sekuat apapun jasad dan fisik akan tetap mengalami pelapukan dan kremasi.

