Puluhan umat Buddha mengikuti peringatan detik-detik Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era (BE) di Vihara Buddha Loka Tulungagung. Prosesi ritual berlangsung hikmat.
Rangkaian diawali dengan Pradaksina, yakni ritual penghormatan dengan cara mengelilingi tempat pemujaan sebanyak tiga kali dengan membawa sarana puja berupa bunga dan dupa.
Prosesi ini diikuti oleh seluruh umat dengan dipimpin oleh Samanera (calon biksu), Pusala Chando serta Pembina Kerohanian Vihara Buddha Loka Tulungagung Pandita Sugianto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya umat masuk ke dalam ruang puja untuk mengikuti Tisarana dan Pancasila Buddhis, pembacaan Paritta.
"Setelah itu umat mengikuti pembaruan, meditasi saat detik-detik Waisak, pelimpahan jasa, hingga pemercikan air Paritta," kata Pandita Sugianto.
Menurutnya, air paritta yang dibagikan kepada umat memiliki makna khusus karena telah diberikan doa selama satu bulan penuh, melalui Samma Ditthi Puja Bhakti (SDB).
"Jadi satu bulan kita melaksanakan ibadah, puasa dan mengisi energi positif itu untuk air Paritta yang hari ini kita bagikan," jelasnya.
Para peringatan Tri Suci Waisak ini pihaknya berharap umat Buddha di Tulungagung semakin tekun dalam mempelajari dan mengamalkan ajaran Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Belajar dan praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci dalam menjalankan ajaran Buddha secara utuh.
"Kami berharap mereka lebih tekun dan memiliki kualitas batin yang lebih baik dengan mengutamakan belajar Dhamma dan praktik Dhamma," imbuhnya.
Pihaknya bersyukur rangkaian perayaan Tri Suci Waisak pada Minggu sore dapat berjalan dengan lancar dan hikmat. Antusiasme umat Buddha di Tulungagung juga cukup tinggi untuk mengikuti rangkaian kegiatan di vihara.
"Momen tahun ini juga sangat luar biasa karena dihadiri bhante, walaupun hanya seorang tetapi mampu membangkitkan semangat para umat," jelasnya.
Sementara itu Samanera, Pusala Chando dalam ceramahnya menjelaskan, Tri Suci Waisak adalah hari suci umat Buddha untuk mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha, yakni kelahiran Pangeran Siddharta Gautama, pencapaian penerangan sempurna atau pencerahan, serta Mahaparinibbana atau wafatnya Sang Buddha.
"Tiga peristiwa agung, yakni kelahiran Pangeran Siddharta calon Buddha, pencapaian pencerahan Guru Agung Sang Buddha dan Mahaparinibbana Sang Buddha," kata Pusala.
Menurutnya momen tersebut bukan hanya untuk sekadar dikenang sebagai bagian dari sejarah. Namun, menjadi pedoman dan inspirasi bagi perkembangan batin umat Buddha. Pihaknya berharap perayaan Waisak bukan sekadar kegiatan seremonial.
Peringatan Waisak tahun 2026, Sangha Theravada Indonesia mengusung tema 'Menapaki Jalan Mulia Berkesadaran demi Kesejahteraan Negeri'. Ini sekaligus untuk refleksi 50 tahun berdirinya Sangha Theravada Indonesia.
"Sekaligus menjadi himbauan bagi umat Buddha tanpa terkecuali dalam memaknai momentum Waisak untuk menyeimbangkan kebijaksanaan batin dan kepedulian sosial," ujarnya.
Pihaknya mengajak seluruh umat Buddha untuk senantiasa terus mempelajari dan mengamalkan ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Sang Buddha yang telah mengajarkan jalan menuju kebenaran.
"Bukan hanya sekadar belajar secara konsep, tetapi ketika sudah belajar Dhamma dan mendengarkan Dhamma, alangkah baiknya kemudian juga mempraktikkan Dhamma yang sudah dipelajari. Dengan cara itulah kita menghormat Guru Agung Sang Buddha," kata Pusala Chando.
(auh/hil)
